Ocean Blue Flame

Senin, 09 Juli 2012

Mahameru Berikan Damainya

Beberapa kali menjajali lereng-lereng gunung di berbagai pelosok negeri ini belum lengkap rasanya bila tidak menyentuh pasir dan bebatuan di Mahameru. Acapkali kudengar dari mereka yang mendongeng ria kalau gunung yang berdiri tunggal di Jawa Timur ini penuh dengan pesona khasnya. Ketinggian yang disebut-sebut termasuk dalam empat besar gunung-gunung Indonesia ini dikenal baik dalam sejarah. Namanya selalu dikenang dan menjadi bahan perbincangan kalangan pencinta kegiatan alam terbuka yang gemar menjejaki puncak-puncak Indonesia, apalagi ketika HUT RI sudah menjelang di mana sang saka kerap dikibarkan para pemuda di puncaknya. Bukan karena tingginya, boleh jadi karena keindahannyalah yang kurasa menjadi sebab mengapa niat mengujunginya dan belajar disana menjadi sebuah keharusan. Disini pula sebuah memoriandum yang terukir sebagai pusara seorang pemuda Indonesia yang merupakan salah satu tokoh pergerakan pemuda dengan latar belakang pencinta alam; Soe Hok Gie. Pasir-pasir dan bebatuan kerikil di lerengnya menjadi saksi bisu dari nafas terakhirnya. Kalau tak bisa bertemu dengannya, tak salah bila hanya menyentuh tanah dingin Mahameru dan asa itu ingin segera kuhadirkan menjadi satu dari pengalaman masa muda.
Juni 2012 kukira sebuah pilihan yang tepat untuk melakukan perjalanan menuju semeru yang setia berdiri dan menatap Pulau Jawa dari singgasanahnya. Dengan sedikit pengetahuan yang kumiliki, adalah sebuah ekspektasi penting juga untuk mencapai puncaknya bersama saudaraku yang menemani perjalananku kali ini. Berangkat dengan rangkaian senyuman teman-teman Edelweis membuat langkah kami bertambah ringan dan penuh dengan semangat muda. Asek.. Bim-bim, sapaan saudara seangkatan dan seperjuangan di lembaga kecil bercitra pencinta alam. Dia menemani langkah-langkah kecil dan merekah senyuman berbuah semangat besar dalam perjalanan ini. Dia menata rambut yang panjang terurai dengan wajahnya yang lugas, berkesan pria yang tak pernah bosan dengan kehidupan dahulu dan mendatang. Dia berjalan dengan sederhana dari segala sudut pandang, dan kukenal baik sebagai pecinta musik. Diberikannya apresiasi yang pantas untuk segala jenis music bahkan bakatnya bermain musiknya tak bisaa-bisaa saja. Asek.. Bersama Bim-Bim, aku merencanakan perjalanan mengisi libur panjang kampus yang lumayan lama. 19 Juni, segala duka dan keluh kesah kusimpan rapi untuk sebuah perjalanan yang bakal kunikmati dengan segala pesonanya. Meskipun sudah kuduga akan sedikit menderita batin di atas kapal menuju Tanjung Perak. Alhasil, kami terdampar di tangga dek-dek bersama manusia-manusia perantauan yang kental dengan otot-otot kekar di lengan. Sedikit canggung, tapi juga asik bila dinikmati. Beberapa kali kutemui sikap acuh dan angkuh, lucu dan kurang ajar. Aku berikan senyum nan bersahaja mencoba bersahabat pada siapa saja. Semuanya bisa jadi Pelajaran dan pengalaman bila kita melihat, merasakan bahkan menyentuhnya. Kadang mereka kuajak bicara meskipun sedikit tak dihargai, tapi ada juga yang berbalik sangat bersahabat. Hahahha.. “ada gula ada semut” kata TONY Q.. Tak perlu dibahas jauh-jauh. Pernah juga di suatu kesempatan ketika daratan Madura sudah mulai tampak, kami bercerita panjang lebar dengan seorang anggota TNI yang menyesali dirinya menjadi seorang TNI. Kami hanya senyum-senyum, sampai susah pakai senyum sesungguhnya. Dia datang dari timur nusantara dan sangat mengerti kondisi pertahanan keamanan RI yang sangat kacau balau. Sedih juga rasanya mendengar sang tentara berbadan besar tegap curhat tentang gajinya yang tak setimpal dengan tuntutan pengabdiannya. Kami menimpali dengan beberapa pengetahuan apa adanya. Kusalami dia, begitu juga Bim-Bim dan kami berlalu mulai beranjak untuk berlabuh di Tanjung Perak Surabaya. 20 Juni, Tanjung Perak tampak hingar bingar. Bagaimana cara menikmatinya seperti pada lagu Tanjung Perak itu? Sepertinya susah, kawan. Kuajak Bim-Bim mengabadikan Tanjung Perak. Beberapa pengemis setengah mati membuat suaranya terdengar tak pernah makan seharian. Kadang mengungkit dunia akhirat dengan wajah memelas. Ahhhh… kami tak bisa menghindar. Sudahlah, tak salah juga memberikan sedikit yang kami punya. Tak usah bebani hati untuk sesuatu yang baik. Di sebuah sudut, kami menanti satu setengah jam. Mas Bagus yang kukenal beberapa waktu yang lalu menjemput bersama rekannya Samuel, yang belakangan baru kami tahu namanya. Siang hari panas Kota Surabaya menyengat bukan main. Tapi panasnya menghilang bila kami melewati jalur bersejarah dimana arek-arek Surabaya bergerak dengan semangat mencari sebutir kemerdekaan untuk Republik ini. Tak lama kami tiba di Wilayah Blauran, rumah Mas Bagus berjejer di antara rumah-rumah lain sepanjang Gang Blauran 3. Sejenak kami melepas lelah pula dengan segelas es di sudut jalan dan mengisi perut di sebuah warung sempit dinaungi oleh BG JUNCTION yang menjulang di sampingnya. Malam ini, sebelum menuju Malang, kami menginap di kamar kosong rumah Mas Bagus. Malam itu, kami dihibur dua balita lucu yang super aktif, Aji dan Wahyu yang tak lain adik dari Mas Bagus. Awalnya sulit karena aksen yang agak berbeda. Kami coba menyesuaikan dan keduanya mulai mengerti dan dalam waktu yang singkat mereka begitu akrab. Dua anak yang cukup menghibur sampai kami terlelap. 21 juni, Kopi dan beberapa suguhan sarapan dari Mas Bagus sudah tidak panas lagi saat kami terjaga. Sambil menanti pukul dua, kami bersiap-siap berangkat. Dua balita itu setia menemani kami bermain dan tertawa sampai waktu benar-benar tak terasa. Sekitar pukul 02.00, kami mulai bergegas menuju jalan menunggu bus kota. Dengan bus kota, kami dibawa menyusuri Kota Buaya dan Hiu ini menuju Terminal Bungurasi. Kemudian berganti bus lagi menuju Malang, tepatnya di Terminal Arjosari di mana teman-teman Mapalipma akan menjemput. Sekitar pukul 18.30 kami tiba di Arjosari dan dijemput oleh Jimy, salah seorang teman yang juga pernah singgah di sekretariat kami ketika berkunjung ke Makassar. Kami disambut ramah di kampus IPM. Sekretariat dari MAPALIPMA. Kami tak langsung istirahat, tapi berkunjung ke secretariat KSR (vicnes) untuk urusan administrasi pendakian Semeru. Sambil menunggu, kami berbaur dengan mereka. Bim-Bim mulai memainkan gitar dan suara-suara pun mengikuti. Sayangnya acapkali lagu-lagu yang dimainkan Bim-Bim selalu dibuat menjadi genre dangdut oleh gendang kecil pria berkacamata di sampingnya. Aku hanya mengikuti dan tersenyum-senyum, asik juga suasana kota Malang yang dingin bersama musik dangdut yang datang tiba-tiba. Hahahhaa… esok hari kami berangkat untuk bertemu dengan danau-danau indah milik Mahameru. 22 juni, rencana berangkat pagi buta tertunda. Alih-alih karena mata yang tak bekerjasama. Teman-teman Mapalipma sudah bersiap-siap. Tujuh orang akan bersama kami mendaki Gunung Semeru. Jimy yang sudah sekian kali berkunjung ke sana juga ikut. Sekitar pukul 11.00 kami berangkat ke terminal Arjosari dengan angkot. Penuh dan sesak oleh carrier. Dari Arjosari, angkot lain mebawa kami menuju Tumpang, pos di mana jeep-jeep menunggu pendaki untuk dibawa menuju kaki gunung, Ranu Pani. Sayangnya, kami tidak menumpang jeep, tetapi truk pengangkut sayur. Cukup menarik dan seru. Melewati jalur yang berkelok-kelok, truk memanjat bukit-bukit dan semakin lama semakin dingin saja. Dingin yang menusuk memaksa kami mengenakan windbreaker. Tiba di sebuah spot berlatar hamparan lembah pasir yang indah, kami istirahat dan membelai mata yang perih terkena angin. Sebagian memanfaatkannya dengan senyuman kamera poket yang dibawanya. Sekitar pukul 15.30 truk melewati jalur melingkari Ranu Pani yang tampak membiru. Tak salah bila orang-orang mengatakan tempat ini indah. Tak sabar rasanya melihat saudaranya yang lebih tinggi, Ranu Kumbolo yang kuyakini lebih hebat lagi. Setelah registrasi di Posko pendakian, kami mengisi perut dengan semangkuk bakso. Hangatnya luar bisaa saat menyentuh tenggorokan yang kering karena dingin, sampai di lambung yang sudah perih menunggu diisi. Sesaat kuperhatikan sekeliling dan kubandingkan dengan karya Dony Dhirgantoro dalam karyanya 5 CM. Mas Dony juga tak salah mengatakan tempat ini dingin, indah dan mengasikkan. Semakin dekat denganku semakin asik saja rasanya. Sudah tidak dalam bait-bait novel lagi, tapi di depan mata dan bisa kurengkuh kabut tipisnya. Untukmu yang membaca ini kawan, segeralah angkat kakimu ke sini, damainya menunggu kehadiran manusia-manusia pemimpi dan pencinta indahnya alam dan isinya. Hahaaa…. Kami mulai melangkah perlahan menyusuri setapak menuju Ranu Kumbolo. Setiap langkah kunikmati, meskipun debu berhamburan di mana-mana. Tak peduli, biar bulu hidung yang mengurusnya. Bim-Bim dan Jimy mengikuti dari belakang. Sesekali kami berbicara, karena debu yang terus menemani akhirnya lebih baik diam saja. Teman-teman yang lain sudah jalan lebih dulu. Dari setapak yang mengelilingi punggungan, kini kulihat Mahameru begitu dekat di depan mata. Indah dan berdiri megah di balik bukit-bukit yang mengitarinya. Kadang-kadang mengeluarkan asap mengepul menambah pesonanya. Bahagia rasanya bisa menginjakkan kaki di tanah ini. Kami melewati beberapa pos. setiap pos kami sapa dengan helaan nafas panjang dilanjutkan dengan sebatang rokok sebagai teman perjalanan. Terasa asing bila tak ada yang satu ini, meskipun dalam ilmu kesehatan itu tidak dianjurkan. Hahaha… anggap saja lelucon dari pakar medis seperti pendapat Darwin tentang asal muasal manusia. Betapa berdosanya diriku tidak menghormati para ilmuwan… itu hanya candaan belaka, kawan. Seperti bila kau bercerita tentang impianmu memiliki artis molek Agnes Monica.. seperti saat kau bermimpi berduet dengan Axl Rose di panggung akbar yang kau ceritakan pada teman sebangku-mu di ruang kuliah Dasar-Dasar Filsafat pagi-pagi buta. Waktu itu, kami terus menyusuri setapak. Tak lagi dengan langkah gontai, tapi sedikit lebih cepat. Baru kami mulai melangkah perlahan saat dari selah-selah pohon, bias cahaya bulan dari permukaan air yang luas tampak di lembah sana. Walaupun saat itu gelap dan hanya cahaya headlamp yang membantu mata bekerja, kami tahu kalau itu Ranu Kumbolo. Beberapa titik-titik cahaya dari camp-camp mulai nampak di sekelilingnya. Dari kejauhan, Ranu Kumbolo ini tidak biasa saja. Suasananya nampak unik dan berikan kedamaian dan kesejukan mendalam. Mungkin karena mitos cinta dan asmaranya seperti bentuknya yang menyerupai hati itu. Maaf kawan, itu hanya mitos belaka, dan tak salah bila kau ingin mempercayainya. Ranu Kumbolo sendiri pun tak akan melarang. Tapi bila kau berdiri disini, aku yakin dadamu akan terisi oleh berjuta kekaguman yang tak bisa kau ungkap. Diam saja dan lihatlah betapa besar kuasa Tuhan melukiskan mahakaryanya. Di situ pula, kami tak langsung menuju tepian Ranu Kumbolo. Tapi istirahat sejenak sambil menghangatkan tubuh dengan api kecil yang dibuat Jimy di shelter pos 4. Kami hanya menatap dari kejauhan sambil mematikan cahaya dari headlamp. Biar rembulan yang masih setengah itu menumpahkan bias-bias cahayanya ke wajah Ranu Kumbolo. Sampai setengah jam kami melihat-lihat, dan saatnya untuk duduk di bibirnya bersama mereka yang sudah ada di sana. Saat tiba di shelter yang paling ramai, api unggun sudah menanti. Sementara kala itu dingin makin menusuk dan perut tak bersahabat lagi. Bim-Bim segera mengeluarkan tenda, dan kubantu mendirikannya. Sementara teman-teman Mapalipma yang tiba lebih dulu sudah mulai memasak. Kami duduk melingkari api unggun yang cukup membantu menikmati Ranu Kumbolo. Danau yang penuh cerita ini hadirkan harapan-harapan baru. Romantik dan eksotik serta entah gelar apa lagi yang harus dianugerahkan kepadanya. Heh… malam yang bersahabat membuat kami betah sampai malam berangsur semakin tua. Terima kasih untuk malammu yang akrab ini, Tuhan.. 23 juni, Belum lagi mentari datang kami sudah bersiap menjemputnya. Momen sunrise di Ranu Kumbolo juga merupakan hal yang dinanti setiap pengunjungnya. Dengan kantuk dan lelah yang masih sedikit tersisa, Ranu Kumbolo sudah sibuk dengan pengunjung. Mereka sibuk mencari spot dan momen yang tepat untuk diabadikan. Saat fajar perlahan menyingsing di selah dua bukit pada sisi timur seberang danau, sebuah pandangan yang membuat makhluk-mahkluk Tuhan akan tahu betapa Tuhan itu memiliki keagungan yang luar biasa dalam menciptakan segala yang dimilikNya. Danau tampak membiru, dipadu dengan sinar fajar yang masih muda membuat sebuah karya terindah pada monitor setiap kamera yang ada. Tak pelak, puluhan bahkan sampai ratusan gambar akan tercipta dengan teknologi digital saat ini. Dipegang oleh balita saja, kuyakin gambarnya masih tetap bagus. Hahahhaahaha.. asiknya Ranu Kumbolo.. Jangan terlalu cepat berlalu wahai fajar.!! Dengan suguhan kopi dan sedikit cemilan, kami duduk berhadapan dengan bibir danau. Beralas matras, bersama Bim-Bim dan Jimy, kunikmati suasana pagi yang dingin menusuk. Asap-asap tembakau mengepul dari bibir yang mulai terasa kering dan ingin pecah, akibat kontrasnya hawa dingin dan sinar mentari yang menyengat. Sampai siang hari, kami belum beranjak dari Ranu Kumbolo. Terlalu sayang untuk melewatkan tempat sehebat ini terlalu cepat. Bukan membuang waktu tapi justru memanfaatkannya untuk kenikmatan yang tak semua orang bisa merasakannya. Bersama beberapa pendaki yang juga belum beranjak, kami menikmati apa saja yang ada ditemani iringan TONY Q dari handphone milik Jimy. Eross SO7 juga pernah berkata dalam lagunya, “MAHAMERU”, kalau tempat ini akan berikan persahabatan dan kedamaian dengan apa saja yang dimilikinya, dan kurasa Eross sama sekali tak salah. Sekitar pukul 15.10, kami bersiap dan mulai berjalan lagi dengan target Kalimati, tempat yang biasanya dijadkan camp terakhir bagi para pendaki sebelum menuju Mahameru. Berhadapan dengan tanjakan cinta membuat kami harus mengatur nafas dalam-dalam terlebih dahulu. Dengan sekali menanjak tanpa henti dan tak menoleh lagi ke belakang maunya. Mitos yang diceritakan Jimy pada kami membuat nafasku terasa berat saat mencobanya. Mitos tempat ini memang kental. Selain bentuk Ranu Kumbolo yang seperti hati, tanjakan cinta juga diberi nama sesuai dengan sulitnya mencintai dengan sepenuh hati. Begitulah kira-kira menurut persepsiku. Asikkk… Bertiga kami mendaki tanjakan cinta tanpa henti dan menoleh ke belakang. Puas rasanya saat tiba di ujung sana. Punggung tak sabar untuk berlabuh dan segera kupenuhi. Dalam hati kecil, “adakah cinta sejati untukku?” Hahaha.. semoga saja.. Hanya Tuhan yang tahu soal masa depan..hihih.. mungkin Bim-Bim punya pendapat berbeda, atau justru Jimy sedang memikirkan hal lain. Hahhaahaha…. Entahlah.. kami hanya tampak lelah dan nafas mengejar-ngejar untuk mengisi paru-paru dalam dada yang kembang kempis tak karuan. Dari situ, kami terus menyusuri lereng panjang yang dipenuhi bunga-bunga indah sejauh mata memandang. Bukit-bukit kecil disekililing bergandengan dan berjejer ke arah yang berbeda-beda. Di bawah sana kelihatan sebuah garis yang membelah savanna. Bim-Bim meminta Jimy untuk menemani kami melewati garis itu saat pulang nanti. Gagasan yang langsung disetujui oleh Jimy yang memang tak pernah menolak apa saja yang kami minta padanya. Beberapa menit melewati lereng dan savanna, kami tiba di Oro-oro Ombo yang belakangan kami ketahui namanya dari Jimy. Di situ kami istirahat sejenak di sebuah batang kayu yang melintang di jalan setapak. Hari sudah menjelang sore, hamparan padang savanna yang tadinya kami lewati berikan suguhan manis untuk bola mata yang perih karena debu. Dimana-mana, Bim-Bim selalu saja mengabadikan momen-momen favoritnya dari sudut-sudut yang menarik. Kulihat hasil jepretan kameranya, dan itu memang setingkat dengan DSLR meskipun hanyalah sebuah kamera mini pocket dengan lensa 13 megapixel. Baru kutahu satu lagi bakat teman seperjalananku ini. Di sekitar tampak pohon pinus mulai menyebar, berbeda dengan jalur yang baru saja kami lewati. Wajah legam jadinya karena terbuka lebar. Tapi tak apalah untuk sebuah hal yang menarik, semuanya tentu akan baik-baik saja. Lagipula wajah yang ala kadarnya ini tak perlu dimanjakan. Ahahaha.. kodong.. Sepanjang perjalanan menuju Kalimati, kami berpapasan dengan puluhan pendaki dari berbagai wilayah. Ramai juga waktu itu, bahkan kabarnya Kalimati sedang sesak oleh kru pembuatan Film layar lebar yang terinspirasi dari novel 5 CM karya Doni Dhirgantoro. Bagus juga… setelah membaca novel terkenal bernuansa petualangan ,percintaan dan persahabatan itu, sepertinya adegan di Kalimati sudah tebayang di kepalaku. Ya sudahlah, tak perlu dibahas panjang lebar. Nanti kita nonton saja sendiri, pada 12, 12, 12 di bioskop kesayangan anda!!. Heh.. siapa tahu saja kami ada disitu. Gaya kami tidak kalah dengan pemeran utamanya. Hehehe.. AGATOSI!!! “Permisi mas… permisi mas…” kata yang paling sering kudengar sepanjang perjalanan menuju Kalimati acapkali berpapasan dengan pendaki. Makin lama makin berat saja carrier ini, tapi yang jelas kita semakin dekat pula dengan Mahameru. Menuruni punggungan terakhir sebelum mencapai Kalimati, Mahameru benar-benar berdiri di depan mata. Dekat.. bahkan terlalu dekat. Pasirnya sudah kuinjak.. sambil berjalan kuukir sedikit, sepotong, atau seberkas senyuman dalam hati karena kita sudah disini, kawan. Bim-Bim mengeluarkan kamera poketnya, dan merekam Mahameru yang sangat jelas. Dia menatap layar kamera dan sesekali mengutak-atiknya, mungkin kurang cahaya atau sedikit belur. Diulang lagi memotret, lagi, sekali lagi dan sekali lagi. Kadang dia tersenyum sendiri melihat hasilnya sambil menghisap sebatang gudang garam. Asik juga gayanya. Kami tiba di Kalimati menjelang gelap. Belum sempat kulihat rupa sesungguhnya Kalimati ini, sayang malam sudah lebih dulu mengambil bagian dalam siklus pergantian waktu muka bumi. Sehabis mendirikan tenda dibantu cahaya headlamp, kami makan malam dan bersiap-siap istirahat. Malam ini tak boleh berlama-lama dengan suasana Kaalimati karena perjalanan menuju puncak biasanya dilakukan pada malam hari. Untuk mencapai Mahameru, pendaki harus mulai berjalan malam hari agar tiba lebih awal. Disamping untuk mendapatkan momen fajar dari puncak, memang para pendaki tak boleh lewat dari pukul 10.00. Bahaya belerang dapat mengancam bila pendaki tetap bersikeras tinggal. Kami tak ingin mengambil resiko. Kalau keras kepala, bisa jadi bumerang dan lebih baik ikuti apa yang disarankan. Kami istirahat lebih awal, sementara teman-teman MAPALIPMA melakukan briefing. Sebelum tidur, aku dan Bim-Bim mempersiapkan segala sesuatu untuk keperluan perjalanan. Dalam hati ku berdoa semoga perjalananku baik-baik saja. Selamat malam Kalimati.. 24 juni, Jimy membangunkan kami. Dengan persiapan yang sudah kami lakukan, tak banyak yang harus kami lakukan sebelum berangkat. Dingin membuat sulit bernafas, jaket kubuat berlapis-lapis menyelimuti tubuh yang kedinginan. Kami melingkar, berdoa bersama sebelum mulai berjalan. Suatu kebiasaan yang masih sering terlupakan. Teman-teman Mapalipma berjalan lebih dulu. Seperti bisaa, bersama Bim-Bim dan Jimy kami menyusul di belakang. Dengan cahaya headlamp yang cukup terang, perjalanan kami lancar-lancar saja. Kemudian jalur mulai menanjak tajam ketika menuju archopodo. Beberapa kali kami harus berhenti. Selain karena debu yang beterbangan akibat digilas sepatu mereka yang di depan, kadang kami memang harus berhenti untuk mengatur nafas kembali. Kami mulai mengatur jarak agar debu tidak terlalu menusuk hidung. Jurang di sebelah kanan terbuka lebar pada titik tertentu membuat kami harus sedikit hati-hati. Di archopodo, berdiri beberapa tenda. Tampak sepi ditinggal pemiliknya, barangkali sudah berangkat lebih dulu. Kami terus mendaki tanjakan yang kadang patah oleh longsor. Perlahan-lahan kami mulai memasuki batas vegetasi. Pasir mulai terlihat dimana-mana sejauh jangkauan cahaya headlamp. Beberapa cahaya headlamp tampak di atas, mungkin pemilik tenda di Arcopodo. Jalur pasir yang panjang itu cukup menguras tenaga. Satu-satunya cewek yang ikut dalam pendakian mulai tampak lemas. Teman-teman MAPALIPMA silih berganti memberi semangat, bahkan membantunya berjalan menyusuri pasir. Pemandangan yang menggugah kebersamaan meskipun kadang harus dibalut dengan emosi yang datang tiba-tiba. Langkah-langkah menjadi tidak beraturan. Tenaga yang keluar dari otot-otot kaki menjadi tidak maksimal akibat pasir yang mengirim kembali pijakan sepatu ke tempat asalnya. Selalu begitu sehingga membuat mental jadi porak-poranda, kesabaran mulai terkikis habis dan mulai bermunculan hal-hal yang negatif dalam kepala. Hal yang patut diwaspadai. Di sisi timur Mahameru, tampak fajar sudah berikan warna khasnya. Sementara kelihatannya jalur ini masih panjang. Untuk kesekian kalinya kami istirahat. Menoleh ke bawah dan terlihat barisan cahaya headlamp dari pendaki-pendaki di belakang kami. Tak banyak keringat yang keluar akibat dingin yang luar biasa. Jalurnya terbuka dan diterpa angin dari segala sudut mengantar hawa dingin yang semakin menusuk. Hampir empat jam bergelut dengan pasir yang melelahkan sekaligus menjengkelkan. Pukul 05.20, aku berdiri di Mahameru. Disusul Bim-Bim dan Jimy. Teman-teman yang lain menyusul kemudian. Disambut fajar di ufuk timur, Mahameru benar-benar berikan damainya. Im Memorium dari Almarhum Soe Hok Gie dan Idhan Lubis masih terpampang jelas. Kusentuh dan kukirimkan doa untuk mereka. Sebuah bendera merah putih yang agak using berkibar di sebuah tiang di selah tumpukan batu. Kupegang sejenak sambil tersenyum. Dengan sedikit air tersisa di veldples, kubasahi tenggorokan kering dan melabuhkan pandangan ke arah fajar di ufuk timur. Terima kasih telah membawaku ke tempat ini.. Cukup lama kami berada di Mahameru. Menikmati kabut-kabut paginya. Rasakan dinginnya yang teramat sangat. Menghirup udaranya, rasakan angin sambil mendengar dan melihat letusan halus kawahnya adalah kebahagiaan tersendiri bagi siapa saja. Di sini pula kurasakan berbagai hal yang seharusnya tidak kulakukan. Mahameru menegur lewat tangan dan suara-suara dan angin alamnya, lewat bias fajar, pasir dan kerikilnya. Bahkan dengan suara teman seperjalanan yang mengingatkan tentang sebuah kepongahan, kesombongan dan saling menghargai antar sesama. Kurenungkan dalam-dalam tentang semua yang harusnya tak ada lagi dalam hati kecil. Untuk itu, mari mengabadikan momen ini, kawan! Semoga bisa kembali lagi di lain waktu.. Sekitar pukul 08.00, kami segera turun menuju kalimati. Tidak lagi dengan durasi waktu yang sama saat naik. Saat cuaca sudah terang, baru dapat kulihat jelas jalur yang tadinya begitu menguras tenaga. Curam dan tak terbayangkan bila tergelincir keluar jalur yang sempit itu. Jauh lebih cepat dan kami melaju menuju archopodo. Debu kembali menghiasi pandangan. Windbreaker yang kami pakai juga diselimuti debu yang berterbangan. Dari kejauhan tampak Kalimati yang berupa savanna itu terbuka diantara bukit-bukit kecil di sekelilingnya. Lepas dari kerumunan pinus-pinus Archopodo, sebelum memasuki kalimati kami duduk di rerumputan. Di bawah sinar matahari kami melepas lelah. Beberapa waktu duduk disitu, dingin kembali menyerang. Lebih baik istirahat di Camp Kalimati saja. Saat melewati setapak di Kalimati, tampak kru-kru film sedang merekam satu adegan pembicaraan antara Arial dan Riani, tokoh novel 5 Cm. Kutahu pasti apa yang sedang mereka bicarakan. Ahhahah. Kami berlalu menuju camp. Mereka tetap sibuk dengan adegannya. Setelah istirahat sejenak, kami mulai memasak sambil menikmati suasana Kalimati. Lama juga kami di kalimati. Siang hari barulah kami beranjak meninggalkan Kalimati menuju Ranu Kumbolo, dan seterusnya menuju Ranu Pani. Seperti rencana awal, kami tidak melewati lereng menuju tanjakan cinta, tapi berjalan menyusuri lembah yang berupa garis membelah savanna luas. Rasanya aneh berjalan di tengah rumput yang tumbuh melewati kepala. Hhaaha.. dan sore hari kami kembali menuruni tanjakan cinta menuju Ranu Kumbolo. Pantas saja bila mendaki tanjakan cinta orang-orang sebaiknya jangan berbalik lagi. Langkahnya akan jadi semakin berat untuk meninggalkan perhentiannya karena panorama Ranu Kumbolo sulit ditinggalkan, sementara pendakian masing panjang. Lebih baik terus saja mendaki. Hahahhah. Demi cinta yang sejati… uhhh… Kami istirahat sejenak menikmati sorenya Ranu Kumbolo dengan kerinduan akan tembakau. Ahaa.. aseknya.. sekitar setengah jam barulah kami beranjak menuju Ranu Pani, dan mulai diselimuti gelap saat menuju pos 2. Rasanya ingin kembali ke Ranu Kumbolo. Hehe, mungkin lain waktu saja. Kami tiba di Ranu Pani sekitar pukul 19.30 dan langsung menghangatkan tubuh dengan kopi di warung sudut jalan. Uhhh… sedapnya. Kali ini, tembakau legendaris nusantara, Dji Sam Soe menemani kami sambil menunggu jeep yang akan membawa kami menuju Tumpang. Padat dan penuh citarasa sangat padu dengan kepulan asap dari secangkir kopi jagung ala Jawa Timur. Kau harus mencobanya, kawan! Tak ada duanya.. hihihiih.. Sebuah Jeep kecil melaju membawa kami membelah bukit-bukit Ranu Pani menuju Tumpang. Anginnya menggigit kulit yang tak sempat terbungkus. Uh.. terpaksa merapat ke teman-teman. Lebih rapat lebih enak rasanya. Karena terlelap, tak terasa sudah tiba di Tumpang. Kemudian dengan angkot kami melanjutkan perjalanan menuju Malang dan tiba menjelang tengah malam. Disambut teman-teman Mapalipma di sekretariat, kami bercanda sejenak sebelum istirahat. Esok-esok tak ada agenda lagi, kami sempatkan mengunjungi Bromo dan secretariat teman-teman di Malang yang akrab dengan music reggae-nya. Beberapa hari di Malang lagi sebelum berangkat ke Surabaya untuk siap pulang ke kampung halaman Ujungpandang, panggilan akrab Makassar beberapa waktu yang lalu. Rasanya singkat sekali, seperti saat pergantian semester. Begitu cepat dan tak terasa sudah semester Sembilan.. hahahhahaha… Untuk siapa saja dan segala sesuatu yang kami temui dan kami kenal, terima kasih untuk suguhan keindahan dan jalinan persahabatan yang kalian tawarkan. Tak lupa salam hangat untuk kumpulan-kumpulan hamparan rumput dan savanna, yang terhormat anaphalis sp. alias edelweis, lembah-lembah, bukit-bukit indah, danau-danau biru serta udara dingin yang sudah menyambut hadirnya kami di kediaman kalian dengan sangat ramah dan bersahabat. Semoga berjumpa lagi di waktu yang tersisa. Hanya karena kalian yang membuat langkah-langkah kami selalu rindu dengan kunjungan. Mencari keindahan dan kedamaian di mana saja Dia menciptakan mahakaryaNya.. E.103.Mt.Semeru Jawa Timur.

3 komentar:

Monyet Liar 9 Juli 2012 pukul 12.44  

hahahahahahahahaha..
bisami tawwa.

tadinya mau komen seru tapi kulupaimi gara2 bisami dikomen :D

kakiku juga nanti akan kesana. :)

ichal_bandot 9 Juli 2012 pukul 12.53  

bah... lembahnya menunggu para pecinta nya....

Monyet Liar 9 Juli 2012 pukul 13.09  

mencintai seluruh lembah.

mudah2an kita tidak menjadi bagian dari kerusakannya hanya karena terlampau menapakinya tanpa rasa :) seperti pelaku acara jejak petualang yang hanya bisa membayar rumah-rumah daeng di bawah gunung bawakaraeng, berterimaksih dgn uang dan bercerita kembali demi uang :)

  © ichal_bandot punya 'E.103' by kottink_paribek 2008

Back to TOP