Ocean Blue Flame

Minggu, 08 Mei 2011

SEKILAS MALUKU TENGAH

Sebuah provinsi yang beribu Kota di Ambon yang merupakan bagian tengah dari wilayah Maluku adalah sebuah wilayah nusantara yang memiliki ragam keindahan. Maluku dengan geografis sirkum mediterania ini terbagi atas tujuh kabupaten dan satu kota madya dan terbagi dalam beberapa pulau. Dua diantaranya adalah pulau Ambon dan Pulau seram yang masing-masing memiliki ragam budaya khas daerahnya. Pulau Ambon yang akrab disapa dengan julukan “manise” dan sekaligus menjadi ibu kota tentunya dipadati oleh masyarakat urban yang berasal dari berbagai suku. Di pusat kota yang menjadi lokasi konflik agama beberapa waktu yang lalu ini, dipadati oleh masyarakat asal Sulawesi dan Jawa. Bila anda berjalan di tempat ini, jangan heran ketika melihat raut wajah berbeda. Bahkan, sudah banyak asimilasi yang terjadi dan jelas tampak dalam keseharian masyarakat di perkotaan dan pasar lokal. Terlepas dari itu, Pulau Ambon ini sangat menarik dari segi transportasinya. Bentuknya yang menyerupai huruf U, menjadikan transportasi laut hadir sebagai akses yang lebih diminati masyarakat. Teluk Bakuala yang memisahkan pesisir Poka dan Galala terlihat sangat ramai pada jam siang dan malam karena antrean kendaraan dan masyarakat yang ingin menyeberang. Untuk menyeberangi teluk Bakuala ini, terdapat berbagai macam transportasi yang dapat diakses, diantaranya berupa ferri, speedboat dan perahu dengan harga yang sangat terjangkau, terlebih untuk mahasiswa dan pelajar sekolah yang tinggal berseberangan dengan kampus atau sekolahnya. Transportasi laut lebih diminati karena disamping harganya yang murah, juga jarak yang lebih dekat dibanding dengan angkutan umum yang harus mengitari pesisir teluk sampai di daratan sebelah. Saat menyeberangi teluk ini, kita akan disuguhi pemandangan eksotik Pulau Ambon. Kombinasi daerah urban dan rural tampak menyatu karena wilayahnya yang tidak rata. Wilayah perkotaan di bayangi oleh hutan-hutan kecil dengan beberapa rumah di bagian atas. Nampak pula Pegunungan Salahutu dan sekitarnya pada sisi timur Dermaga Galala berjejer berselimut kabut. Pantai-pantai yang berpasir putih adalah juga merupakan salah satu dari daya tariknya. Pasir putih dipadu dengan laut biru benar-benar memikat bila menikmati suasana sore hari di pelabuhan Liang Pulau Ambon. Di pusat kota pula, berdiri patung sang pahlawan nusantara yang sempat diabadikan dalam lembaran uang seribuan. Kapitan Pattimura, pria asal Ambon didesain dengan kaki telanjang memegang parangnya yang menghunus siap menggempur sang penjajah. Di tempat dimana ia di hokum gantung ini, sebuah patung besar sebagai monumen untuk mengenang kepahlawanannya berdiri kokoh. Monumen ini berdiri di samping lapangan merdeka, tepat di belakang tembok bertuliskan AMBON MANISE besar sekali. Sangat elok dipandang dan membangkitkan semangat perwira generasinya ketika membaca semboyan keberanian Pattimura. Dengan gaya bahasa lokal Ambon, sang pahlawan meneriakkan kalimat “ beta akan mati, tapi nanti akan muncul Pattimura-Pattimura baru yang akan melanjutkan beta punya perjuangan”. Seperti itu kalimat yang tergores di bagian bawah monument Pattimura Park ini. Tidak jauh dari tempat ini, tergantung Gong Perdamaian Dunia berwarna keemas-emasan menjadi hiasan utama Kota Ambon dengan arsitektur yang baru saja diperbaharui. Gong yang menjadi simbol perdamaian dunia ini dihiasi bendera Negara-negara yang ikut menjadi anggota. Tampak unik dan menarik manambah pesona Kota Ambon.
Dari pelabuhan Liang Ambon, samar-samar kelihatan Pulau Seram di kejauhan. Pulau ini lebih besar daripada pulau Ambon, namun penduduk dan perkembangannya belum terlalu memadai dan masih terkesan rural. Pulau ini bahkan masih menyisakan belantara-belantar tebal yang belum terjamah ganasnya eksploitasi kayu akibat penebangan liar. Selain itu, kehidupan yang ada di dalamnya sangat menarik untuk dikaji karena memiliki aneka budaya dan kearifan lokal yang unik. Sedikit primitif dan memiliki nilai tersendiri bagi siapa yang melihatnya. Menuju ke sebelah utara Pulau Seram , berjejer kelapa yang menjulang tinggi di pesisir pantainya. Sangat indah dan menawarkan nuansa alami yang belum tersentuh. Penduduknya belum padat dan hidup dengan melaut dan menjadi penghasil kopra. Di pulau yang dialiri banyak sungai-sungai besar ini, hidup berbagai macam fauna langka di hutannya. Contohnya burung-burung dan jenis hewan mirip komodo bernama iguana yang kini menjadi symbol dari Maluku. Hewan-hewan ini sangat dilindungi oleh instansi Taman nasional Manusela yang menjadi pusat pelestarian flora dan fauna wilayah belantara sekitar Gunung Binaiya. Selain keindahannya, pulau Seram juga menyimpan begitu banyak budaya yang belum terekam kamera dan sangat menarik untuk dibawa ke kancah internasional sebagai bagian dari kekayaan Indonesia. Hanya saja aksesnya yang sangat sulit dijangkau membuat data terkesan sulit didapatkan.

E.103.KOLEKSI EKSPEDISI MANISE 2011
17 MARET 2011

0 komentar:

  © ichal_bandot punya 'E.103' by kottink_paribek 2008

Back to TOP