<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5139741108899141277</id><updated>2011-10-04T14:37:29.301-07:00</updated><category term='GENERAL'/><category term='kebudayaan'/><category term='POETRY'/><category term='ADVENTURE'/><category term='culture'/><title type='text'>bandit-bandit nakal</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://tambuks.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5139741108899141277/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tambuks.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>ichal_bandot</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03820352006467403448</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-9Yemwtyjs8A/TjDxzZnS5hI/AAAAAAAAAJk/W1PKrp7NJZQ/s220/richard%2Bn%2Bthe%2BGilis.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>32</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5139741108899141277.post-6531231116731167395</id><published>2011-09-30T21:48:00.000-07:00</published><updated>2011-09-30T21:48:22.973-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='culture'/><title type='text'>Pribumi  dan Non Pribumi</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pribumi dan bukan pribumi…. Sekilas tak tampak ada perbedaan yang mendasar antara keduanya. Namun dibalik itu, tersimpan beribu momok menyeramkan yang membuat keduanya menjadi terpisah dalam tataran sosial. Mengapa itu terjadi? Mengapa ada perpisahan? Mengapa tak bisa bersatu? Katakanlah masyarakat Tiong Hoa yang dikenal dengan jiwa bisnisnya dengan masyarakat lokal. Dan dengan subjek ini, coba kita melihat dalam bingkai sehari-hari dan tempat umum yang ada. Apakah sering kita melihat seorang pria Tiong Hoa dan seorang gadis pribumi yang kulitnya coklat bergandengan tangan? atau sebaliknya? Barang tentu kawan-kawanku akan berkata itu tidak mudah ditemukan! &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" style="text-align: justify;"&gt;Seorang gadis remaja berperawakan menarik. Kulitnya bersih putih, bertubuh diatas rata-rata tinggi anak gadis remaja lokal. Matanya tampak sipit tapi cukup menarik. Kombinasi kromosom pribumi dan non pribumi. Namanya (B) dengan akhiran ……. Sebagai FAM-nya. Barangkali bayangan tentang siapa dan siapa sudah ada dalam benakmu, kawanku. Mendengar liuk-liuk bahasa yang dipakainya, mudah saja seorang anak Selatan Pulau Sulawesi untuk mengenal asalnya. Cepat tapi sangat lembut terdengar di telinga. Sulawesi Utara, atau lebih tepatnya Manado. Disana dia menetap selama sekian tahun setelah lama menjadi anak-anak di selatan Pulau Sulawesi. Dan akhirnya setelah beberapa tahun hijrah ke Manado, kini B memutuskan kembali ke Kota Makassar mengadu nasib. Beruntung teman lama yang saking baiknya sangat peduli padanya. Melihat tampang dan bentuk tubuhnya, bukan sebuah hal yang rumit untuk mendapat pekerjaan di Kota metropolitan. Bahkan seorang BIG BOSS bisa saja memecat karyawannya demi mempekerjakan si B.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa minggu di Kota Makassar, barulah B mulai menemukan sebuah kehidupan yang sangat berbeda. Darah yang mengalir dalam tubuhnya adalah non pribumi. Secara alami, dia adalah Tiong Hoa. Kromosom itu lebih tampak pada wajahnya. Kini ia bebas bicara, bercanda, berjalan bahkan seatap dengan anak-anak pribumi yang kesannya agak berantakan. Selama ini, B memang sudah mulai berontak dengan aturan keluarganya yang melarangnya bersama dengan anak-anak pribumi. Pribumi sampai saat ini belum juga mendapat tempat dalam kehidupan keluarganya. Belum dapat bukti dan pernyataan yang empiris untuk membuktikan hal itu mengapa bisa terjadi.. sudah menjadi bagian dari adat atau kebiasaan yang tergolong tidak nasionalisme barangkali. &lt;br /&gt;Ketika pada suatu kesempatan, di sebuah rumah yang cukup besar dan berlantai dua. Ada sebuah teras yang melekat kuat pada sudut rumah raksasa itu.  Angin-angin lembut pasti menyapa siapa saja yang hadir di teras itu, lembut dan damai rasanya. Di teras itu, terjadi sebuah diskusi kecil. Lebih terdengar intelektual daripada disebut sekelompok anak muda yang sedang nongkrong ria. Ditemani angin malam yang sudah tua, mereka terus menikmati suasana teras yang berselimut kedamaian. B juga hadir jadi salah satu bagian dari kelompok itu. Bersama beberapa anak pribumi ia tertawa lembut saat seorang bertanya padanya tentang kulit dan asalnya. Dan mulai saat itu, bertebaranlah berbagai pertanyaan tentang asal mula mengapa ia bisa sampai di teras itu, kembali menyatu dengan gemerlapnya lampu malam Kota Makassar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B adalah salah satu remaja yang tergolong korban pribumi dan non pribumi. Namun ia berontak dan akhirnya mencoba mencari jalan hidupnya sendiri. Mungkin dengan itu B merasa dunia tidak sesempit fikiran tabu keluarganya. Meski masih sering terlihat bengong dan tak jelas mimiknya, setidaknya ada senyum yang bisa ia gambarkan ketika bersama anak-anak pribumi yang berkulit kecoklatan.. hahahahaha…”teruntuk bangsaku dan negaraku.. bersatulah, jangan lagi ada tembok diantara kita”. E.103. mabes ukmpaedelweisfibuh. 20 september. “ ESOK TIDAK DISINI LAGI, KAMI MAU BERJABAT LAGI DENGAN DAMAINYA RIMBA”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com/" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54489/189/398779145021A9E59AB0587B6E52B56A.png" style="background: transparent; border: 0 !important;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5139741108899141277-6531231116731167395?l=tambuks.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tambuks.blogspot.com/feeds/6531231116731167395/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tambuks.blogspot.com/2011/09/pribumi-dan-non-pribumi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5139741108899141277/posts/default/6531231116731167395'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5139741108899141277/posts/default/6531231116731167395'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tambuks.blogspot.com/2011/09/pribumi-dan-non-pribumi.html' title='Pribumi  dan Non Pribumi'/><author><name>ichal_bandot</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03820352006467403448</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-9Yemwtyjs8A/TjDxzZnS5hI/AAAAAAAAAJk/W1PKrp7NJZQ/s220/richard%2Bn%2Bthe%2BGilis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5139741108899141277.post-4620050978147619788</id><published>2011-08-01T22:26:00.000-07:00</published><updated>2011-08-01T22:26:38.129-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='POETRY'/><title type='text'>Puteri Anjani</title><content type='html'>Negeri ku memang indah&lt;br /&gt;bertebaran dimana-mana&lt;br /&gt;pulaunya memikat nan penuh pesona&lt;br /&gt;eksotis dan menggugah rasa&lt;br /&gt;&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; Nun jauh di Samudera Nusa Tengggara&lt;br /&gt;berjejer rapi dari Flores menembus Lombok&lt;br /&gt;melambai-lambai nyiur dari kejauhan&lt;br /&gt;sambut riak ombak saling kejar ke tepian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rona wajah Puteri Anjani belum terbayang&lt;br /&gt;ada getar dalam jiwa&lt;br /&gt;ingin segera kusentuh dan kurengkuh&lt;br /&gt;manisnya momen saat mengecap tanah tingginya&lt;br /&gt;susuri lereng terjalnya&lt;br /&gt;cicipi tawarnya Segara Anak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan.... akan tertegun menatap kabut menyapa wajahku&lt;br /&gt;Dingin... tapi akan hangat dalam kenangan..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E.103. WAY TO LOMBOK. KAMIS,23.52, 23 JUNI 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com/" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54489/189/398779145021A9E59AB0587B6E52B56A.png" style="background: none repeat scroll 0% 0% transparent; border: 0pt none ! important;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5139741108899141277-4620050978147619788?l=tambuks.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tambuks.blogspot.com/feeds/4620050978147619788/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tambuks.blogspot.com/2011/08/puteri-anjani.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5139741108899141277/posts/default/4620050978147619788'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5139741108899141277/posts/default/4620050978147619788'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tambuks.blogspot.com/2011/08/puteri-anjani.html' title='Puteri Anjani'/><author><name>ichal_bandot</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03820352006467403448</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-9Yemwtyjs8A/TjDxzZnS5hI/AAAAAAAAAJk/W1PKrp7NJZQ/s220/richard%2Bn%2Bthe%2BGilis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5139741108899141277.post-5950266506006597951</id><published>2011-07-25T12:37:00.000-07:00</published><updated>2011-07-25T12:37:47.118-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ADVENTURE'/><title type='text'>Penghujung Juni di Balik Raut Rinjani</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-i6N8xy64RXE/Ti3EPrfJ-zI/AAAAAAAAAJM/RWU53aAHtcQ/s1600/3726%2BMDPL.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://3.bp.blogspot.com/-i6N8xy64RXE/Ti3EPrfJ-zI/AAAAAAAAAJM/RWU53aAHtcQ/s200/3726%2BMDPL.jpg" width="142" /&gt;&lt;/a&gt;Adalah puncak Gunung Rinjani dengan ketinggian 3726 mdpl yang menjadi target dari pendakian kali ini. Dengan inisiatif yang muncul secara personal dari personilnya, itulah yang menjadi dasar bergeraknya langkah kaki untuk segera mencapai puncak dari Gunung Rinjani. Berangkat dengan iringan semangat dan doa dari keluarga besar UKM PA EDELWEIS FIB-UH serta teman-teman yang lain, tim dengan dua personil menyeberang ke Pulau Lombok, tepatnya di Nusa Tenggara Barat. Meski hanya berdua, tapi semangat yang ada dalam sanubari dua anak muda ini tetap berkibar megah.&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" style="text-align: justify;"&gt;Berbekal ppat dan segala perlengkapan lain yang menunjang perjalanan ini, aku merasa sangat siap dan tidak ada lagi yang perlu diragukan dengan keberangkatan ini. Semua telah diatur sedemikian rupa sehingga membentuk sebuah manajemen yang sangat tertata rapih. Meskipun bukan sebuah tim ekspedisi yang lengkap dengan segala personil dan peralatannya, namun  kuanggap bahwa  perjalanan kali ini tidak kalah dengan sebuah ekspedisi yang butuh persiapan matang mulai dari hal paling kecil sampai pada yang utama. Melihat Gunung yang akan kami susuri lerengnya itu cukup menarik, maka  berbagai hal yang mendukung untuk itu kupersiapkan dengan baik. Bukan itu saja, persiapan secara fisik dan mental juga jauh hari sebelumnya telah kubangun. Semua agar kekuatan fisik yang prima bersama jiwa yang jernih dapat dipadu membentuk lembaran baru untuk mengukir pelajaran dan pengalaman baru pula.&lt;br /&gt;Ucy, teman seperjalananku yang selalu menjadi penglipur lara saat suasana sedang dalam keadaan apa saja. Selalu saja ada yang harus membuat ketawa pecah dalam hening suasana saat dia sudah bermain dengan otak humornya.  Tentang persiapan, sama sepertiku lelaki bertubuh ceking dan berperawakan agak semrawut ini, juga hampir tal pernah berkata ada yang kurang. Semua sudah dipersiapkannya mulai dari “ Marlboro”nya dan segala pernak-pernik andalannya. Kalau ada yang kurang, dia mengadu padaku dan begitu pula sebaliknya. Terkadang aku juga merasa heran dengan si ceking ini.  Mendengar  selera music Undergroundnya itu, sangat tidak tepat bila dipadu dengan hobinya berkeliaran di alam terbuka. Begitulah anehnya jiwa petualang yang dimiliki teman perjalananku ini. Akan tetapi, yang kurasakan adalah sangat beruntung bagiku untuk bisa menikmati ciptaan Tuhan bersama makhluknya yang tak pernah kelihatan bersedih ini. Seperti itulah riwayat singkat persiapan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba di Lembar, kami yang kebetulan dipertemukan secara tidak sengaja dengan dua orang mahasiswa dengan tujuan dan destinasi yang sama diajak beristirahat di sebuah rumah sekitar wilayah pelabuhan. Echa’ dan temannya Dedet.  Begitu sapaan mereka. Rumah yang menjadi tempat persinggahan kami tak lain adalah rumah keluarga dari salah satu dari mereka. Patut disyukuri meskipun rencana awal tidaklah seperti itu. Berangkatnya kami ke tempat ini bukan hanya berjalan dengan mata buta, tapi telah lengkap dengan data serta jaringan yang akan kami datangi. Namun, karena situasi yang memaksa untuk bergerak lebih mudah, maka kami memilih untuk ikut bersama dua teman baru yang nantinya menjadi bagian dari tim kami selama pendakian. Sehari beristirahat di situ, kami baru tahu kalau teman baru kami itu sebenarnya berjumlah tiga orang. Satunya baru saja tiba, dan kebetulan ingin ikut bersama menjejaki punggungan Gunung Rinjani. Dia seorang gadis, namanya Sary dan hanya itu yang kami tahu tentangnya. Sekarang kami berjumlah lima orang, empat lelaki dan satu wanita. Sebuah tim yang lumayan ideal, tapi cukup menyulitkan karena kami tak pernah membentuk sebuah tim yang terdiri dari leader dan anggotanya. Semua sama seperti berjalan santai.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menyepakati hari pendakian kami, tim berangkat ke Mataram menuju kampus Universitas Mataram. Tidak lain yang dituju adalah sekertariat Grahapala Rinjani Unram. Hal ini sudah menjadi kebiasaan antara sesama Mahasiswa Pecinta Alam yang melakukan perjalanannya. Selain memudahkan perjalanan, sumber informasi, jalinan kekeluargaan juga dapat dibina sesuai kode etik yang menjadi pedoman bersama. Di tempat ini, kami berbagi informasi dan kembali menetapkan hari untuk mulai perjalanan. Dengan ditemani beberapa organisasi termasuk tuan rumah itu sendiri, kami sepakat untuk berjalan beriringan dengan beberapa organ tersebut. Yang  kumaksud adalah teman baru kami yang berasal dari MAHESA FE-UH, kemudian gadis yang ikut bergabung dari KALPATARU SMANSA,  dua orang lagi dari INSTALASETA FKIP UNHALU, serta tiga orang dari GRAHAPALA RINJANI UNRAM itu sendiri. Satu hari sebelum berangkat kami memanfaatkan waktu untuk melengkapi logistik serta kebutuhan lainnya, dan melakukan last checking equipment pada malam harinya untuk memastikan semua alat dan perlengkapan telah beres.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senin,27 juni 2011&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-Y5xw-Lrj2BE/Ti3EQLxbdmI/AAAAAAAAAJc/5lh7W6mKcVY/s1600/IMG_4488.JPG" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="150" src="http://3.bp.blogspot.com/-Y5xw-Lrj2BE/Ti3EQLxbdmI/AAAAAAAAAJc/5lh7W6mKcVY/s200/IMG_4488.JPG" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-pQIaJ-4tntU/Ti3EP6N8lkI/AAAAAAAAAJU/8Dyf4IaDHR4/s1600/savanna%2Bmenuju%2Brinjani.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://3.bp.blogspot.com/-pQIaJ-4tntU/Ti3EP6N8lkI/AAAAAAAAAJU/8Dyf4IaDHR4/s200/savanna%2Bmenuju%2Brinjani.JPG" width="186" /&gt;&lt;/a&gt;Diawali dengan pelepasan dan doa bersama dihadapan sekretariat GRAHAPLA RINJANI UNRAM, kami berangkat dengan sebuah bus mini yang dikenal dengan nama engkel  oleh masyarakat, bahkan khalayak  suku sasak sebagai penduduk asli pulau indah ini. Dengan rute Mataram-Eikmel-sembalun, kami berangkat pada pukul 10.15 WITA. Belum sampai di Desa Sembalun, kami sempat kewalahan mendorong engkel yang tidak mampu melewati jalur becek di tanjakan menuju  Desa Sembalun. Bukan bersungut, tapi malah menikmati momen itu, karena beberapa ekor monyet liar datang menghampiri kami sekaligus manjadi awal perkenalan dengan rimba Rinjani yang indah ini. Pukul  15.30, kami tiba di lembah yang cantik dikelilingi punggungan-punggungan indah, Desa Sembalun. Beberapa waktu sembari menunggu pesanan nasi bungkus di warung kecil, kami berpose. Kesannya lucu karena tempat yang dijadikan latarbelakang bukanlah panorama tetapi sebuah bangunan Puskesmas. Sejenak kami mampir di Rinjani Tracking Center guna melapor sekaligus melengkapi administrasi bersangkutan. Hujan mengguyur lembah ini sampai pada saat kami tiba di pintu rimba. Sementara menunggu hujan reda, kami beristirahat sejenak. Pukul 16.00 WITA, kami mulai berjalan menyusuri Savanna menuju pos 1 sampai pos 2, yang memang menjadi target camp untuk hari ini. Beruntung pada waktu itu langit nampak cerah, dan sang agung singgahsana Puteri Anjani tampak dari balik awan tebal. Sangat dekat, sungguh indah rupanya. Namun ia ada nun jauh disana dan terlalu melelahkan untuk menggapainya. Langkah yang masih prima sangat memacu kecepatan kami dan dalam waktu singkat kami tiba di pos satu dan menyusul pos 2 pada pukul 20.10 wita. Sebuah jembatan menjadi pondasi tenda-tenda kami. Menarik sekali momen yang baru kali ini kami rasakan. Menemukan jembatan beton di atas gunung bukan hal biasa bagi kami&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;Selasa,28 juni 2011&lt;br /&gt;Dengan cekatan, pagi-pagi sekali kami bangun berpose dan mencari engel terbaik di selah-selah mentari terbit. Dikelilingi savanna luas, kami bergantian menjadi fotografer demi mencari kepuasan batin yang dahaga akan panorama indah seperti itu. Sulit ditemukan siluet dengan latar matahari terbit di padang savanna. Setelah packing, kami mulai beranjak. Agak terlambat gerakan kami pada waktu itu. Target hari ini adalah Plawangan Sembalun yang menjadi basecamp untuk semua pendaki sebelum menuju puncak. Sepanjang perjalanan, kami bertemu pendaki-pendaki dari berbagai Negara yang turut ingin menikmati indahnya Rinjani. Entah apa yang menimpa kami, langit mendung kala kami mendekati Pos 3. Akhirnya jatuh juga tetesan-tetesan air dan basahi savanna luas pelataran Rinjani. Kami berteduh di bawah bongkahan batu besar di Pos 3 sementara menunggu hujan reda untuk kembali fight  menuju Plawangan Sembalun. Mendekati beberapa punggungan terakhir, hujan tidak lagi punya perasaan dan belas kasihan. Kami diguyur habis-habisan saat udara sudah mulai membuat tubuh menggigil. Langkah kami mulai terpisah-pisah. Aku berjalan di belakang Ucy. Sementara Dedet berada di depan tapi masih bersama kami. Sementara, Echa jauh di belakang. Begitu pula Sary yang sudah barang tentu tersengal-sengal melawan letih yang luar biasa.  Basah kuyup di ketinggian dua ribuan bukan perkara mudah untuk dijalani, kawan! Gemetaran tubuh kami sambil tetap melangkahkan kaki mencapai Plawangan. Butiran pasir di jalur memaksa otot kaki mengeluarkan tenaga ekstra untuk beranjak dari satu titik ke titik yang lebih tinggi. Meski mencapai tingkat maksimal tenaga tetap kami pertahankan agar tiba dan segera memanjakan diri dalam hangatnya tenda. Dengan susah payah, kami mulai mendapat tanda bahwa kami sudah tiba di destinasi. Menyusuri Plawangan mencari tempat dimana tenda tangguh kami akan berdiri. Sungguh bukan momen biasa yang terjadi saat bersusah payah menembus puluhan punggungan dalam kondisi basah kuyup dan beban yang cukup meletihkan diakhiri dengan secangkir kopi dan jaket tebal berlapis-lapis. Kami tak henti-henti tersenyum meskipun letih tubuh ini tak bisa dipisahkan dari rona wajah. Aku tak ingin cepat-cepat terlelap karena momen seperti itu sangat aku rindukan sedari tadi. Meski letih tak mau bersahabat, aku tetap duduk bersimpuh dengan pena dan notebook. Bersama segelas kopi yang masih berkepul asapnya, aku memparafrasekan perasaan ke dalam lika-liku bahasa hanya aku yang memahami dengan pasti. Kebiasaan buruk!!!!! Melelahkan kawan-kawan!!!&lt;br /&gt;Rabu, 29 juni 2011&lt;br /&gt;Hari ini, kami tak beranjak dari Plawangan Sembalun. Beberapa teman yang tergabung dalam tim meminta menunda perjalanan menuju puncak, terlebih satu diantara kami adalah wanita. Pada waktu itu, kami hanya memindahkan lokasi camp ke sudut yang lebih dekat dengan sumber air karena tidak ada aktivitas yang kami lakukan. Sedikit melampaui target, namun ada baiknya karena kami dapat menikmati sehari di Plawangan Sembalun sebelum summit attack. Nuansa pagi hari di tempat ini bukan lagi sulit didapatkan. Tapi tak akan ada di tempat lain, kawan. Dataran memanjang dengan ketinggian tiga ribu meter di atas permukaan laut dan berlatar danau berbentuk huruf konsonan U dengan sebuah bukit kecil merapi di sudutnya. Beberapa tumpukan awan berarak-arak di atas bukit yang disebut Gunung baru melingkar dan terpancar bias matahari yang baru saja terbit dari timur. Warnanya biru, airnya tenang sekali memanggil-manggil untuk segera merasakan hawa dingin di lembah itu. Kami hanya bisa tersenyum dapat berdiri di tempat ini meski hanya untuk beberapa waktu saja. Bercanda dengan monyet-monyet nakalnya menjadi hiburan kami di sore hari saat kabut mulai menutupi jarak pandang sampai lima meter. Dingin menghambat rongga nafas  normal. Pedis, perih dan beberapa kali tanpa sadar air tetesan embun mengalir dari rongga hidung. Mendadak influenza dan mulai malas bergerak.&lt;br /&gt;Malam hari, kami lebih awal memasak makan malam. Esok dini hari, kami akan kembali berjuang melawan pasir-pasir menembus tanah paling tinggi Gunung Rinjani. Sesuai instruksi dari leader kami, segalanya kami persiapkan sejam sebelum berangkat. Dingin pagi itu merambah sekujur tubuh. Menggigil dan tidak sanggup menyentuh benda-benda. Berlapis-lapis jaket melekat pada tubuh kami. Tetap saja terasa dinginnya. Itulah angin Rinjani.!!&lt;br /&gt;Kamis, 30 juni 2011&lt;br /&gt;Pukul 02.18 wita ,kami mulai melangkah diterangi sinar headlamp masing-masing. Pagi itu, seperti lampu neon  jalanan, terlihat dari kejauhan orang-orang sudah mulai beranjak menuju puncak, sama seperti kami. Bedanya kami sedikit lebih cepat karena memang camp kami deka dengan jalur. Menempuh jalur yang berpasir, tidak terlalu sulit rasanya bila berjalan dalam suasana gelap. Langkah kami lumayan cepat dan melewati beberapa rombongan yang ada di depan kami. Cukup jauh jaraknya dari plawangan. Meskipun tak dapat dilihat ujungnya, dapat diperkirakan jauhnya karena perjalanan normal empat jam adalah informasi terakhir bagi kami sebelum berangkat. Angin tidak berbelas kasihan. Kencang dan menusuk-nusuk masuk ke rongga-rongga windbreaker. Menyiksa kulit tipis yang sedari kemarin terus-terusan menderita kedinginan. Dibantu keringat kecil yang hasilkan sedikit suhu panas, kami melangkah perlahan menyusuri jalur pasir nan sempit diapit jurang di kiri dan kanan. Beberapa kali kami harus duduk istirahat meluruskan urat-urat kaki yang mulai kejang. Otot-otot betis berusaha melawan serangan balik dari pasir dan bebatuan lepas yang menurunkan tubuh ke posisi sebelumnya. Sangat menjengkelkan jalur ini, kawan. Akan muncul kedongkolan yang tidak sengaja dari setiap orang yang melewatinya.&lt;br /&gt;Pukul 05.08 wita, Ichal tiba di puncak. Disusul Uchi pada pukul 05.30 wita dan teman-teman yang lain. Perkiraan kami sedikit melenceng. Langkah kami lebih cepat dari perkiraan, sehingga kami harus menunggu sekitar setengah jam matahari terbit. Cukup dingin menunggu matahari terbit, namun karena sudah berada di puncak Ketinggian 3726 mdpl, semua sirna begitu saja. Tubuh yang menggigil berbanding terbalik dengan perasaan yang meluap-luap bak air mendidih di atas tungku. &lt;br /&gt;Bukan hanya kami yang ada di tempat itu. Ada beberapa manusia yang berdiri bersama dari berbagai belahan dunia merasakan dinginnya angin lembah Gunung Rinjani. Bahkan ada pula yang hanya sampai setengah perjalanan dan akhirnya tidak mampu malanjutkan lagi. Matahari terbit diawali bias sinar jingga kemerah-merahan. Tak banyak yang bicara pada waktu itu. Hanya diam menatapnya dan lupa jika tubuhnya sedang menggigil menahan dingin yang teramat sangat. Seperti itulah gambaran singkat momen indah di atas puncak. Saat mentari benar-benar bersinar dan terangi semesta, kami mulai mengibarkan bendera dan mengabadikannya dalam seberkas file mungil berformat “jpg”. Bukan hanya beberapa kali, tetapi berpuluh kali sampai kami harus turun mengingat badai akan segera tiba.&lt;br /&gt;Tiba di Plawangan, kami langsung packing untuk turun ke danau. Masih hangat momen-momen puncak pada waktu itu sampai terkadang tanpa sengaja mengukir senyum sendiri-sendiri. Siang membahana saat kami beranjak turun ke danau. Lutut yang tadinya bergerak menopang tubuh ke atas kini beralih fungsi menahan beban ke bawah. Sakit dan ngilu rasanya. Ingin bergerak cepat tapi medan tidak mengizinkan untuk itu. Terlalu curam dan berbahaya. Kami tiba di danau sore hari. Beberapa jam yang lalu kami menatap senyap dan tenang airnya dari ketinggian tiga ribuan meter, dan kini kami berada sejajar dengannya, bahkan tidur di bibirnya. Danau Segara Anak yang menjadi buah bibir orang-orang. Pelengkap keindahan Gunung Rinjani terbentang luas bersama Gunung baru yang masih mengeluarkan sisa-sisa uap panas di lerengnya. Kabut bermain-main di permukaan airnya. Tenang dan bangkitkan gairah untuk terus berada di tepiannya menghirup udara segar dari pepohonan cemara. Desir angin tedengar menggesek-gesek senar dedaunan cemara memberika nuansa yang cukup berikan damai dalam jiwa. Salah satu momen yang membuat kami masih ingin berlama-lama berada di tempat sejuk ini. “terima kasih untuk indah panoramamu dan damainya belaian alam mu”….&lt;br /&gt;Jumat, 31 juni 2011&lt;br /&gt;Kami masih berada di tepian Segara Anak. Sampai pada siang hari, kami mulai berkemas untuk segera menuju ke Plwangan Senaru. Disana kami akan menginap lagi semalam sebelum turun melewati pintu Senaru. Pukul 15.00 wita, kami menanjak lagi  menuju Plawangan Senaru sekitar tiga jam. Lumayan meletihkan. Sepanjang jalan, kami disuguhi panorama Puncak Rinjani dari sebelah barat berbaris rapi dengan Gunung Baru di bawahnya. Kami tiba di Plawangan Senaru tepat saat sunset. Cukup mengobati letih tiga jam tracking. Setelah mendapatkan lokasi yang pas untuk mendirikan tenda, kami langsung bergerak dan beristirahat total. Malam itu, kami tidak dapat berbuat terlalu banyak karena persediaan air kami sangat terbatas.  Belum lagi persiapan perjalanan unutk esok hari yang panas melewati savanna. Air menjadi tonggak utama sepanjang jalan yang terbuka dan panas. Malam itu, kami bercengkerama dengan teman-teman dalam tenda, sebagai wujud keakraban dan menandai akhir dari perjalanan kami. Tertawa lepas dan bercanda sampai larut malam. Meski dinginnya angin lembah, pegal seluruh tubuh memaksa diri memanja dalam sleeping bag, niat itu urung tertunda. Sampai pada waktu yang memang mengharuskan untuk tidur, barulah kami masing-masing mulai terlelap. &lt;br /&gt;Sabtu, 01 juli 2011&lt;br /&gt;Pukul  09.10 wita, kami mulai menuruni punggungan berpasir dan berdebu. Matahari tidak mau surut dan terus pancarkan bias sinar bahangnya membakar kulit-kulit wajah kami. Terkelupas dan legam, tak perduli kami terus memacu langkah kami menuruni jalur yang agak terbuka. Sangat mudah dilewati dan kami dapat berlari-lari kecil mempercepat langkah.. persediaan air semakin menipis dan kami beruntung mendapat asupan air minum dari porter yang sedari tadi berpapasan dengan kami memikul beban dengan bakul seberat tiga kali carrier kami pada saat berangkat. Sebuah pekerjaan yang luar biasa dan menguras tenaga. Namun itulah kehidupan mereka. Gunung Rinjani menjadi wilayah mereka mencari nafkah dan pulang pergi sesuka hati tanpa kelihatan sedikit pun raut wajah penat luar biasa seperti kami. Mereka orangnya tegar dan bertenaga. Tangguh dari segi fisik dan mental, mengejutkan dalam berbahasa asing. &lt;br /&gt;Kami tiba lebih awal dari teman-teman yang lain. Pukul 12.10 wita , kami sudah berada di Pintu rimba senaru dan beristirahat cukup lama menunggu teman-teman yang lain sampai. Sesaat mereka tiba, leader kami memutuskan untuk pulang ke Mataram dengan menumpangi engkel. Kami berangkat menuju kampus Unram pada pukul 19.30 wita dan tiba pada pukul 22.10 wita di secretariat GRAHAPALA RINJANI UNRAM. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari berikutnya&lt;br /&gt;Menikmati pulau Lombok menjadi pilihan kami menghapus lelah akibat menjajal Gunung Rinjani. Beberapa tempat kami kunjungi melengkapi indahnya perjalanan tim ini seperti Pulau Gili Trawangan, Pantai senggigi dan Malimbu sebelum kembali ke Kota tercinta, Makassar. Terima kasih para pembaca, semoga terhibur dengan kisah kami… salam leontopodist dan salam lestari!!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://www.mylivesignature.com/" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://signatures.mylivesignature.com/54489/189/398779145021A9E59AB0587B6E52B56A.png" style="background: none repeat scroll 0% 0% transparent; border: 0pt none ! important;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5139741108899141277-5950266506006597951?l=tambuks.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tambuks.blogspot.com/feeds/5950266506006597951/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tambuks.blogspot.com/2011/07/penghujung-juni-di-balik-raut-rinjani_25.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5139741108899141277/posts/default/5950266506006597951'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5139741108899141277/posts/default/5950266506006597951'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tambuks.blogspot.com/2011/07/penghujung-juni-di-balik-raut-rinjani_25.html' title='Penghujung Juni di Balik Raut Rinjani'/><author><name>ichal_bandot</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03820352006467403448</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-9Yemwtyjs8A/TjDxzZnS5hI/AAAAAAAAAJk/W1PKrp7NJZQ/s220/richard%2Bn%2Bthe%2BGilis.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-i6N8xy64RXE/Ti3EPrfJ-zI/AAAAAAAAAJM/RWU53aAHtcQ/s72-c/3726%2BMDPL.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5139741108899141277.post-7441406118019328497</id><published>2011-06-05T06:07:00.000-07:00</published><updated>2011-06-05T06:07:18.725-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ADVENTURE'/><title type='text'>Rock Climbing dan Sejarahnya..</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-JWCDOD2FGTg/Tet_PnMQ3VI/AAAAAAAAAIc/rKPyG9Ytz8Y/s1600/cool.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://4.bp.blogspot.com/-JWCDOD2FGTg/Tet_PnMQ3VI/AAAAAAAAAIc/rKPyG9Ytz8Y/s200/cool.jpg" width="102" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aktivitas panjat tebing sudah dikenal masyarakat sejak lama bahkan masyarakat tradisional, mereka melakukan pemanjatan guna mencari sumber kehidupan ataupun perlindungan, khususnya didaerah pantai dan kawasan karst untuk mencari sarang  burung atau sumber mata air. Tetapi mereka tidak memakai system dan prosedur yang baku seperti dalam olahraga panjat tebing sehingga faktor keamanan dan tingkat resiko yang dihadapi sangatlah tinggi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Panjat tebing pertama kali dikenal di kawasan benua Eropa tepatnya di kawasan pegunungan Alpen sebelum perang Dunia I. Pada awal tahun 1910 dinegara Austria mulai diperkenalkan penggunaan peralatan-peralatan yang digunakan untuk menunjang dalam kegiatan panjat tebing seperti carabiner (cincin kait) dan piton (paku tebing) yang pada saat itu masih terbuat dari besi baja. Dan berawal dari situlah para pendaki dari Austria dan Jerman mulai mengembangkan peralatan dan teknik olah raga ini. Seiring waktu yang terus berjalan peralatan olah raga ini banyak mengalami inovasi, terutama pada bahan pembuatannya, uji kekuatan gaya tariknya, kepraktisan penggunaan alat serta prosedur keamanan alat yang telah distandartkan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di Indonesia olahraga panjat tebing sendiri telah terbentuk sejak tahun 1988 yang memiliki organisasi yang pada saat itu bernama FPGTI (Federasi Panjat Gunung Dan Panjat Tebing Indonesia) yang kemudian berganti nama dengan FPTI (Federasi Panjat Tebing Indonesia) sampai sekarang ini.&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" style="text-align: justify;"&gt;ii.DEFINISI&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-VEk1XvP9M_c/Tet_P6Ozw-I/AAAAAAAAAIk/BGPofMSmKXY/s1600/reach%2Bthe%2Bhigher.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://4.bp.blogspot.com/-VEk1XvP9M_c/Tet_P6Ozw-I/AAAAAAAAAIk/BGPofMSmKXY/s200/reach%2Bthe%2Bhigher.jpg" width="96" /&gt;&lt;/a&gt;Panjat tebing atau istilah asingnya dikenal dengan Rock Climbing merupakan salah satu dari sekian banyak olah raga alam bebas dan merupakan salah satu bagian dari mendaki gunung yang tidak bisa dilakukan dengan cara berjalan kaki melainkan harus menggunakan peralatan dan teknik-teknik tertentu untuk bisa melewatinya. Pada umumnya panjat tebing dilakukan pada daerah yang berkontur batuan tebing dengan sudut kemiringan mencapai lebih dari 45o  dan mempunyai tingkat kesulitan tertentu.&lt;br /&gt;Pada dasarnya olah raga panjat tebing adalah suatu olah raga yang mengutamakan kelenturan, kekuatan / daya tahan tubuh, kecerdikan, kerja sama team serta ketrampilan dan pengalaman setiap individu untuk menyiasati tebing itu sendiri. Dalam menambah ketinggian dengan memanfaatkan cacat batuan maupun rekahan / celah yang terdapat ditebing tersebut serta pemanfaatan peralatan yang efektif dan efisien untuk mencapai puncak pemanjatan&lt;br /&gt;Pada awalnya panjat tebing merupakan olah raga yang bersifat petualangan murni dan sedikit sekali memiliki peraturan yang jelas, seiring dengan berkembangnya olah raga itu sendiri dari waktu kewaktu telah ada bentuk dan standart baku dalam aktifitas dalam panjat tebing yang diikuti oleh penggiat panjat tebing. Banyaknya tuntutan tentang perkembangan olah raga ini memberi alternatif yang lain dari unsur petualangan itu sendiri. Dengan lebih mengedepankan unsur olah raga murni (sport)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III.   SISTEM PEMANJATAN&lt;br /&gt;System pemanjatan dibagi menjadi dua :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Himalayan system&lt;br /&gt;Pemanjatan system Himalayan ini adalah pemanjatan yang dilakukan dengan cara terhubungnya antara titik start (ground) dengan pitch / terminal terakhir pemanjatan, hubungan antara titik start dengan pitch adalah menggunakan tali transport, dimana tali tersebut adalah berfungsi supaya hubungan antara team pemanjat dengan team yang dibawah dapat terus berlangsung tali transport ini berfungsi juga sebagai lintasan pergantian team pemanjat juga sebagai jlur suplai peralatan ataupun yang lainnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Alpen system&lt;br /&gt;Lain halnya dengan system diatas, jadi antara titik start dengan pitch terakhir sama sekali tidak terhubung dengan tali transpot, sehingga jalur pemanjatan adalah sebagai jalur perjalanan yang tidak akan dilewati kembali oleh team yang dibawah. Maka pemanjatan dengan system ini benar-benar harus matang perencanaanya karena semua kebutuhan yang mendukung dalam pemanjatan tersubut harus dibawa pada saat itu juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilihat dari bentuk penggunaan peralatan panjat tebing terbagi menjadi 2 kelompok besar :&lt;br /&gt;* Artificial climbing :&lt;br /&gt;Merupakan pemanjatan yang mana didalam pergerakannya sepenuhnya didukung oleh alat dan pemanjat tidak bisa berbuat apa-apa tanpa bantuan alat tersebut. Peralatan selain sebagai pengaman juga sebagai tumpuan untuk menambah ketinggian dalam melakukan pemanjatan tersebut. Perlu diingat bahwasannya untuk dapat bergerak cepat dan aman dalam melakukan pemanjatan bukan disebabkan karena adanya peralatan yang super modern melainkan lebih diutamakan pada penggunaan teknik yang baik.&lt;br /&gt;* Free climbing :&lt;br /&gt;Adalah pemenajatn yang mengunakan alat hanya semata-mata untuk menambah ketinggian dan alat berfungsi sebagai pengaman saja tetapi tidak mempengaruhi  gerak dari pemanjat. Walaupun dalam pemanjatan tipe ini pemanjat diamankan oleh seorang belayer namun pengaman yang baik adalah diri sendiri.&lt;br /&gt;Sednangkan untuk pengembangan dari jenis pemanjatan free climbing itu sendiri dibagi menjadi dua yaitu :&lt;br /&gt;- Top rope : pemanjatan dimana tali pemanjatan sudah terpasang sebelumnya&lt;br /&gt;- Solo : pemanjatan yang dilakukan seorang diri dengan merangkap fungsi sebagai Leade, Cleaner dan Belayer.&lt;br /&gt;Sedangkan solo sendiri juga dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu :&lt;br /&gt;a.   Solo artificial climbing&lt;br /&gt;b.   Solo free climbing&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IV.   TEKNIK DASAR PANJAT TEBING&lt;br /&gt;Seorang pemanjat harus bisa memahami tebing yang akan dipanjat, bagaimana kontur tebing tersebut, apa saja peralatan yang nantinya akan dipergunakan, dan kalau bisa tahu secara detail bagaimana bentuk pegangan dan celah-celah yang ada pada tebing tersebut  yang paling utama pemanjat harus  bisa menentukan jalur pemanjatan, cara pemasangan dan penggunaan peralatan yang benar, hal itu akan menjadi safety standart prosedur dalam pemanjatan sehingga menjadi support tambahan bagi kesuksesan dalam melakukan pemanjatan.&lt;br /&gt;Teknik pemanjatan dikelompokkan sesuai bagian dengan tebing yang dimanfaatkan untuk memperoleh gaya tumpuan dan pegangan, yaitu :&lt;br /&gt;a.   Face Climbing&lt;br /&gt;Yaitu memanjat pada permukaan tebing dimana masih terdapat tonjolan atau rongga yang memadai sebagai pijakan kaki maupun pegangan tangan&lt;br /&gt;b.   Friction / Slab Climbing&lt;br /&gt;Teknik ini hanya mengandalkan gaya gesekan sebagai gaya penumpu&lt;br /&gt;c.   Fissure Climbing&lt;br /&gt;Teknik ini memanfaatkan celah yang digunakan oleh anggota badan yang seolah-olah berfungsi sebagai pasak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan cara demikian dan beberapa pengembangan, dikenal teknik-teknik berikut ;&lt;br /&gt;a.   Jamming&lt;br /&gt;Teknik memanjat dengan memanfaatkan celah yang tidak begitu lebar. Jari-jari tangan, kaki atau tangan dapat dimasukkan / diselipkan pada celah sehingga seolah-olah menyerupai pasak&lt;br /&gt;b.   Chimneying&lt;br /&gt;Teknik memanjat celah vertical yang cukup besar. Badan masuk diantara celah dan punggung menempel disalah satu sisi tebing. Sebelah kaki menempel pada sisi tebing depan, dan sebelah lagi menempel ke sisi tebing belakang. Kedua tangan diletakkan menempel pula dan membantu mendorong serta membantu menahan berat badan.&lt;br /&gt;c.   Bridging&lt;br /&gt;Teknik memanjat pada celah vertikal yang lebih besar (gullies). Caranya dengan menggunakan kedua tangan dan kaki sebagai pegangan pada kedua celah tersebut. Posisi badan mengangkang kaki sebagai tumpuan dibantu juga tangan sebagai penjaga keseimbangan.&lt;br /&gt;d.   Lay back&lt;br /&gt;Teknik memanjat pada celah vertical dengan menggunakan tangan dan kaki. Pada teknik ini jari tangan mengait tepi celah tersebut dengan punggung miring sedemikian rupa untuk menempatkan kedua kaki mendorong kedepan dan kemudian bergerak naik silih berganti.&lt;br /&gt;e.   Hand traverse&lt;br /&gt;Teknik memanjat pada tebing dengan gerak menyamping (horizontal). Hal ini dilakukan bila pegangan yang ideal sangat minim dan untuk memanjat vertukal sudah tidak memungkinkan lagi. Teknik ini sangat rawan, dan banyak memakan tenaga karena seluruh berat badan tertumpu pada tangan, sedapat mungkin pegangan tangan dibantu dengan pijakan kaki (ujung kaki) agar berat badan dapat terbagi lebih rata.&lt;br /&gt;f.   Mantelself&lt;br /&gt;Teknik memanjat tonjolan-tonjolan (teras-teras kecil) yang letaknya agak tinggi namun cukup besar untuk diandalkan untuk tempat brdiri selanjutnya. Kedua tangan dgunakan untuk menarik berat badan dibantu dengan pergerakan kaki. Bila tonjolan-tonjolan tersebut setinggi paha atau dada maka posisi tangan berubah dari menarik menjadi menekan untuk mengngkat berat badan yang dibantu dengan dorongan kaki.&lt;br /&gt;Sebagaimana panjat tebing ialah memanfaatkan cacat batuan untuk menambah ketinggian sehingga seorang pemanjat dituntut berani, teliti dan terampil juga dalam kemampuan berfikir yang tepat dalam bertindak dengan keadaan yang terbatas untuk membuat keputusan menyiasati dan memecahkan permasalahan yang dihadapi secara tepat, cepat dan aman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;V.   PROSEDUR PEMANJATAN&lt;br /&gt;Tahapan-tahapan dalam pemanjatan hendaknya dimulai dari langkah-langkh sebagai berikut :&lt;br /&gt;a.   mengamati lintasan dan memikirkan teknik yang akan dicapai.&lt;br /&gt;b.   Menyiapkan peralatan yang akan dibutuhkan&lt;br /&gt;c.   Untuk Leader, perlengkapan teknis diatur sedemikian rupa agar mudah untuk diambil / memilih dan tidak mengganggu gerakan. Tugas dari Leader sendiri adalah membuat lintasan yang akan dilaluinya dan pemanjat berikutnya.&lt;br /&gt;d.   Untuk Belayer, memasang ancor dan merapikan alat-alat. Tugasnya adalah membantu Leader baik dengan aba-aba maupun dengan tali yang dipakai Leader, Belayer juga bertugas mengamankan Belayer dari resiko jatuh atau yang lainnya, dengan langkah awal yaitu meneliti penganman yang dipakai Leader.&lt;br /&gt;e.   Bila belayer dan Leader telah siap melakukan pemanjatan, segera memberi aba-aba pemanjatan&lt;br /&gt;f.   Bila Leader sampai ketinggian 1 pitch (tali habis) ian harus memasang ancor.&lt;br /&gt;g.   Leader yang sudah memasang ancor diatas, selanjutnya berfungsi sebagai Belayer untuk mengamankan pemenjat berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VI.   PERALATAN PANJAT TEBING&lt;br /&gt;Adapun jenis-jenis peralatan yang biasa digunakan untuk panjat tebing adalah :&lt;br /&gt;- Tali (Karn Mantel)&lt;br /&gt;- Webbing&lt;br /&gt;- Carabiner screw dan non screw&lt;br /&gt;- Piton (pasak tebing)&lt;br /&gt;- Ascender (alat untuk naik pada tali)&lt;br /&gt;- Descender (alat untuk turun pada tali)&lt;br /&gt;- Eterier (tangga tali)&lt;br /&gt;- Chock friend&lt;br /&gt;- Harness&lt;br /&gt;- Hamer&lt;br /&gt;- Hand drill&lt;br /&gt;- Magnesium&lt;br /&gt;- Sepatu dan helm&lt;br /&gt;- Chock stopper&lt;br /&gt;- Chock hexentrix&lt;br /&gt;- dll&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VII.   SIMPUL-SIMPUL&lt;br /&gt;Simpul-simpul dasar yang biasa digunakan pada panjat tebing adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;- Simpul delapan (figure of eight knot)&lt;br /&gt;- Simpul delapan ganda (double lub figure of eight knot)&lt;br /&gt;- Simpul nelayan (fisherman knot)&lt;br /&gt;- Simpul perusik&lt;br /&gt;- Simpul pangkal (eliver hitch)&lt;br /&gt;- Simpul pita&lt;br /&gt;- Simpul bowline&lt;br /&gt;- Simpul jangkar&lt;br /&gt;- Simpul belay (Italian hitch)&lt;br /&gt;- Simpul kupu-kupu&lt;br /&gt;- dll&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sources&lt;br /&gt;Doc. Mahipa&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5139741108899141277-7441406118019328497?l=tambuks.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tambuks.blogspot.com/feeds/7441406118019328497/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tambuks.blogspot.com/2011/06/rock-climbing-dan-sejarahnya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5139741108899141277/posts/default/7441406118019328497'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5139741108899141277/posts/default/7441406118019328497'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tambuks.blogspot.com/2011/06/rock-climbing-dan-sejarahnya.html' title='Rock Climbing dan Sejarahnya..'/><author><name>ichal_bandot</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03820352006467403448</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-9Yemwtyjs8A/TjDxzZnS5hI/AAAAAAAAAJk/W1PKrp7NJZQ/s220/richard%2Bn%2Bthe%2BGilis.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-JWCDOD2FGTg/Tet_PnMQ3VI/AAAAAAAAAIc/rKPyG9Ytz8Y/s72-c/cool.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5139741108899141277.post-8470966917166046524</id><published>2011-06-04T02:40:00.000-07:00</published><updated>2011-06-04T02:40:57.028-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ADVENTURE'/><title type='text'>Brother "Dan Osman" Beraksi</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;object width="320" height="266" class="BLOG_video_class" id="BLOG_video-e3852b9ce98128d6" classid="clsid:D27CDB6E-AE6D-11cf-96B8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/get_player"&gt;&lt;param name="bgcolor" value="#FFFFFF"&gt;&lt;param name="allowfullscreen" value="true"&gt;&lt;param name="flashvars" value="flvurl=http://v16.nonxt5.googlevideo.com/videoplayback?id%3De3852b9ce98128d6%26itag%3D5%26app%3Dblogger%26ip%3D0.0.0.0%26ipbits%3D0%26expire%3D1330318215%26sparams%3Did,itag,ip,ipbits,expire%26signature%3D46F0884172961A8193F6BC607AAD7F30ACEEEB25.5D7FF9A3349BBF9A018092ED9C5C8D39C114DC56%26key%3Dck1&amp;amp;iurl=http://video.google.com/ThumbnailServer2?app%3Dblogger%26contentid%3De3852b9ce98128d6%26offsetms%3D5000%26itag%3Dw160%26sigh%3DWEt4F-Cz1dgseB0RG9MOIA4kCL4&amp;amp;autoplay=0&amp;amp;ps=blogger"&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/get_player" type="application/x-shockwave-flash"width="320" height="266" bgcolor="#FFFFFF"flashvars="flvurl=http://v16.nonxt5.googlevideo.com/videoplayback?id%3De3852b9ce98128d6%26itag%3D5%26app%3Dblogger%26ip%3D0.0.0.0%26ipbits%3D0%26expire%3D1330318215%26sparams%3Did,itag,ip,ipbits,expire%26signature%3D46F0884172961A8193F6BC607AAD7F30ACEEEB25.5D7FF9A3349BBF9A018092ED9C5C8D39C114DC56%26key%3Dck1&amp;iurl=http://video.google.com/ThumbnailServer2?app%3Dblogger%26contentid%3De3852b9ce98128d6%26offsetms%3D5000%26itag%3Dw160%26sigh%3DWEt4F-Cz1dgseB0RG9MOIA4kCL4&amp;autoplay=0&amp;ps=blogger"allowFullScreen="true" /&gt;&lt;/object&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5139741108899141277-8470966917166046524?l=tambuks.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tambuks.blogspot.com/feeds/8470966917166046524/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tambuks.blogspot.com/2011/06/brother-dan-osman-beraksi_04.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5139741108899141277/posts/default/8470966917166046524'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5139741108899141277/posts/default/8470966917166046524'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tambuks.blogspot.com/2011/06/brother-dan-osman-beraksi_04.html' title='Brother &quot;Dan Osman&quot; Beraksi'/><author><name>ichal_bandot</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03820352006467403448</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-9Yemwtyjs8A/TjDxzZnS5hI/AAAAAAAAAJk/W1PKrp7NJZQ/s220/richard%2Bn%2Bthe%2BGilis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5139741108899141277.post-2149681445089704418</id><published>2011-06-03T13:21:00.000-07:00</published><updated>2011-06-03T13:21:54.654-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ADVENTURE'/><title type='text'>Bagaimana Mendaki Gunung Rinjani? climb Rinjani?</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-UKjv69fU7ok/TelB4Gq6kSI/AAAAAAAAAH0/RzK5ah0hnMc/s1600/RINMAP.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="140" src="http://2.bp.blogspot.com/-UKjv69fU7ok/TelB4Gq6kSI/AAAAAAAAAH0/RzK5ah0hnMc/s200/RINMAP.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Gunung Rinjani (3.726 mdpl), adalah gunung berapi tertinggi kedua di Indonesia, dipuncaknya memiliki kaldera besar dengan tebing-tebing batu tinggi beralaskan danau hijau Segara Anak (2.010 mdpl) dan disalah satu tepinya dihiasi serakan-serakan onggokan lava membeku yang mengelilingi gunung yang baru muncul Gunung Baru Jari (2.376 mdpl).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dikatakan oleh para pendaki sebelumnya bahwa pendakian di Gunung Rinjani adalah the five star trekking (pendakian bintang lima), isyarat dan ajakan dari mereka yang pernah mencapai Rinjani, jika sebuah hotel maka ia adalah kelas paling tinggi, bintang lima.  Saat ini ada tiga jalur resmi pendakian menuju puncak Gunung Rinjani, tentu saja ketiganya memiliki keunikan dan karakteristik yang berbeda dan menggunakannya akan ditentukan oleh tujuan pendakian yang akan dilakukan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" style="text-align: justify;"&gt;Jalur Senaru (Utara)&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-PnYaxCtpo20/TelB4S-f5CI/AAAAAAAAAH8/VAIH-Y66FPI/s1600/rinjani22.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="128" src="http://4.bp.blogspot.com/-PnYaxCtpo20/TelB4S-f5CI/AAAAAAAAAH8/VAIH-Y66FPI/s200/rinjani22.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;Merupakan jalur pendakian yang paling ramai dilalui terutama oleh pendaki asing, hal ini berkaitan dengan mudahnya akses ke lokasi ini dan berada dalam satu jalur wisata dengan Pantai Senggigi. Desa Senaru sebagai pintu masuk kawasan, melewati jalur ini anda akan dapat pula menyaksikan tempat wisata lainnya seperti Masjid tertua di Pulau Lombok, Desa Adat Bayan, dan Air Terjun Sendang Gile, di lokasi ini juga telah tersedia penginapan-penginapan sederhana dan pelayanan jasa pendakian yang cukup memadai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalur ini di dominasi oleh hutan hujan tropis dengan kerapatan vegetasi yang cukup bagus, anda akan melewati beberapa bagian tergelap dari hutan. Dan beberapa sajian khas hutan seperti kicau burung, suara canda satwa-satwa lainnya. Perjalanan dari Jebak Gawah, sampai Pelawangan Senaru (2.641 mdpl) akam melewati empat tempat peristirahatan, namun pendakian ini merupakan pendakian tanpa henti selama 6-8 jam karena jalur menanjak terus dan hanya sedikit memiliki "bonus" buat para pendaki, namun jangan gusar dulu, karena ketika sampai di pelawangan Senaru anda bisa menikmati pemandangan terindah pesona Rinjani &lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-IV6wbA5aTvc/TelB4lyGl5I/AAAAAAAAAIE/a5oEANBZk6E/s1600/rinjani.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="132" src="http://4.bp.blogspot.com/-IV6wbA5aTvc/TelB4lyGl5I/AAAAAAAAAIE/a5oEANBZk6E/s200/rinjani.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Dari tempat tersebut kita bisa melihat secara lengkap Danau Segara Anak, Puncak Rinjani dan Gunung Baru Jari dalam satu frame. Pendakian berikutnya adalah menyusuri jalur yang menempel di tebing-tebing kaldera menuju danau segara anak, jalur tempuh normail antara 2 sampai 3 jam. dan di salah satu titik anda bisa mengaso sejenak di ladang batu-batu pipih "Batu Ceper" sembari menikmati kopi atau coklat hangat yang anda bawa.&lt;br /&gt;Jalur Sembalun (Timur)&lt;br /&gt;Jalur ini menjadi pilihan utama bila tujuan pertama anda adalah Puncak Rinjani, jalur didominasi oleh padang savana luas, pohon-pohon cemara gunung seperti malu-malu bergerombol di tengah-tengah ilalang, dari pintu gerbang sampai pos Padabalang anda bisa lalui antara 4-6 jam perjalanan, diantara ilalang bisa anda temukan jejak-jejak letusan berupa sungai-sungai dalam berisi pasir dan batu hitam, anda juga kemungkinan akan bertemu dengan api-sapi yang jumlahnya dapat diperkirakan lebih dari seribu ekor di padang ilalang ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melewati jalur ini terasa lebih santai karena jarang terdapat bukit-bukit curam, bisa dibilang landai-landai saja sampai di Padabalang. Dari Padabalang menuju Pelawangan Sembalun (2.902 mdpl) baru akan terasa melewati pendakian sesungguhnya selama 2-3 jam perjalanan, para pendaki biasa menyebut bagian ini sebagai "Bukit Penyiksaan" walaupun sebenarnya jika kita bisa lebih santai maka kita bisa menikmati paduan padang savana dengan kumpulan hutan cemara dan padang edelweis.&lt;br /&gt;Tiba di Pelawangan Sembalun sebaiknya menginap di Camping Ground yang terletak di bibik kaldera bagian timur. dari sini anda bisa melihat Gunung Agung di Bali, dari dalam tendapun anda bisa melihat Danau Segara Anak dan Gunung Baru Jari di bawah anda. Pelawangan Sembalun bisa diumpamakan sebagai erminal, dari sini anda bisa memilih akan ke puncak Rinjani atau ke Danau Segara Anak.&lt;br /&gt;Perjalanan ke Puncak biasanya dilakukan sekitar pukup 02.00-03.00 WITA, sebingga ketika matahari akan terbit anda sudah tiba di Puncak dan bisa menikmati keindahan proses lahirnya matahari pada waktu tersebut, dan lebih dari setengah perjalanan didominasi oleh pasir-pasir lepas. Bisa berada di puncaknya sekitar jam 09.00 WITA, setelah itu sebaiknya turun kembali ke Pelawangan karena angin akan sangat kencang bersamaan dengan semakin tingginya matahari. Sesampai di pelawangan Sembalun selanjutnya anda dapat mempersiapkan diri menuju Danau Segara Anak (perjalanan 2-3 jam) melalui jalur menyusuri tebing Kaldera Timur dan beberapa hamparan ilalang sampai Danau Segara Anak.&lt;br /&gt;Jalur Timbanuh (Selatan)&lt;br /&gt;Menentukan pendakian melalui jalur selatan merupakan perpaduan dari kedua jalur diatas atau paduan antara hutan hujan tropis dan padang savana, dengan jarak tempuh dari Dusun Jati dampai pelawangan Timbanuh sekitar 8-10 jam. Merupakan jalur baru yang dibuka oleh BINGR, dibanding kedua jalur lainnya, sarana dan prasarana masih belum memadai namum kelebihan dari jalur ini adalah ketersediaan ari yang cukup banyak di sepanjang jalur pendakian, pendakian Timbanuh saat ini hanya dibatasi sampai Pelawangan Selatan dan Puncak Selatan Rinjani, sedangkan perjalanan ke danau tidak direkomendasikan karena kondisi jalur yang sangat curam dan belum ditata sehinggga tingkat bahaya sangat tinggi.&lt;br /&gt;Dari Pelawangan Selatan anda bisa melihat kawah Gunung Baru Jari dengan jelas, karena dibandingkan dengan dua Pelawangan lainnya, Pelawangan Selatan berada paling dekat dengan Gunung Baru Jari. Pada jalur ini anda kana melewati beberapa padang edelweis, dan anda bisa menuju puncak selatan Rinjani, dari puncak ini anda hanya bisa melihat puncak Rinjani dari jarak yang tidak terllau jauh namun anda tidak bisa menuju ke sana karena dihalangiengan -+ 230 m serta taksiran isi air sebanyak 1.375 juta m3, pembuangan air yang berlebihan terdapat di pantai sebelah timur laut danau yaitu Kokok Puteq anda akan menemukan kolam perendaman air panas yang biasa disebut Aik Kalak.&lt;br /&gt;Danau Segara Anak dipenuhi oleh ikan-ikan jenis Karper dan Mujaer yang cukup besar, jadi bila anda akan ke Danau, kami sarankan membawa pancing agar liburan anda lebih mengesankan, mengenai umpannya anda bisa pesan di masyarakat Senaru dan Sembalun. Masih di sekitar Danau anda bisa melihat beberapa buah gua dengan sumber-sumber air belerang yang biasanya digunakan masyarakat untuk mencuci senjata-senjata pusaka seperti keris, tombak dan kelewang.&lt;br /&gt;Menuju Gunung Rinjani&lt;br /&gt;Jakarta Mataram&lt;br /&gt;Dari jakarta menuju mataram dapat ditempuh melalui perjalanan darat maupun udara, Setiap hari ada penerbangan menuju Bandara Selaporang (Mataram) dari Bandara Sukarno Hatta dan juga ada pemberangkatan Bus ke Mataram melalui Terminal Pulo Gadung.&lt;br /&gt;Mataram-Senaru&lt;br /&gt;Mataram-Senaru dapat dilalui dengan menggunakan kendaraan baik itu kendaraan carteran maupun kendaraan umum dari Terminal Mandalika, waktu tempuh sekitar dua jam dengan kondisi jalan baik (beraspal hotmix). di Senaru anda bisa menikmati beberapa atraksi wisata dan bisa menginap di home stay yang banyak ditemui di Desa Senaru, dilokasi ini juga anda bisa melakukan pemesanan paket-paket perjalanan ke Gunung Rinjani yang ditawarkan oleh beberapa Trek Organizer. Atau bila anda ingin melakukan perjalanan sendiri sebaiknya anda memesan jasa guide atau porter untuk memudahkan perjalanan anda, untuk informasi lebih lanjut anda bisa menghubungi petugas Taman Nasional di Pos Jaga Senaru atau Koperasi Wisata Rinjani Treking Center (RIC) di pintu masuk Senaru.&lt;br /&gt;Mataram-Sembalun&lt;br /&gt;Mataram-Sembalun bisa ditempuh dalam 2-3 jam perjalanan darat, bila menggunakan kendaraan carter anda bisa langsung menuju Sembalun, namun jika anda menggunakan kendaraan umum dari Mataram, anda harus turun di Aikmel untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Sembalun dengan kendaraan umum lainnya. Jika anda menggunakan kendaraan umum kami sarankan anda berangkat dari Mataram lebih pagi, karena kendaraan yang melayani jalur Aikmel - Sembalun hanya sampai jam 12 siang saja. Di Sembalun anda juga bisa memesan paket-paket perjalanan dan mencari jasa Guide dan Porter, Informasi lebih lanjut anda bisa menghubungi petugas Taman Nasional di pos jaga Sembalun atau Koperasi Wisata Rinjani Information center (RIC) di pintu masuk Sembalun.&lt;br /&gt;Mataram Timbanuh&lt;br /&gt;Mataram-Timbanuh bisa ditempun 2-3 jam perjalanan darat, bila menggunakan kendaraan carter anda bisa langsung menuju Timbanuh, desa Pengadangan, namun jika menggunakan kendaraan umum dari Mataram anda harus turun di Masbagik untuk kemudian menggunakan angkutan lain atau ojek menuju Timbanuh. Di Timbanuh belum ada layanan paket perjalanan namun terlah tersedia jasa guide dan porter yang telah terlatih.&lt;br /&gt;Hal Penting &lt;br /&gt;Harga tiket masuk ke kawasan Rinjani: Lokal (Rp. 10.000,-) Asing (Rp. 150.000,-)&lt;br /&gt;Harga jasa Guide dan Porter: Guide Rp 100.000/hari dan porter Rp.80.000/hari&lt;br /&gt;Balai Taman Nasional Gunung Rinjani&lt;br /&gt;Jl. Arya Banjar Getas (Lingkar Selatan) &lt;br /&gt;Kota Mataram&lt;br /&gt;Telp. (0370) 627764&lt;br /&gt;CP. Yudi (08197220055)&lt;br /&gt;Pusat Informasi Senaru: CP Budi (0818545429)&lt;br /&gt;Pusat Informasi Sembalun: CP.Supri (081805725754&lt;br /&gt;Rinjani Treeking Management Board (RIMB)&lt;br /&gt;Hotel Lombok Raya&lt;br /&gt;Jl. Panca Usaha No 11 Mataram&lt;br /&gt;Telp/Fax. 0370-64112, 63230&lt;br /&gt;Situs Lainnya&lt;br /&gt;1. http://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Rinjani&lt;br /&gt;2. http://www.rinjanimaster.com&lt;br /&gt;3. http://www.lombokgilis.com/wisata-trekking-rinjani.htm&lt;br /&gt;4. http://catros.wordpress.com/2007/06/14/mendaki-eksotisme-gunung-rinjani&lt;br /&gt;Photo-photo&lt;br /&gt;1. http://www.flickr.com/photos/apurdam/190509126&lt;br /&gt;2. http://www.flickr.com/photos/chkese/197228726&lt;br /&gt;3. http://www.flickr.com/photos/neilspicys&lt;br /&gt;4. http://www.flickr.com/photos/nusatenggara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5139741108899141277-2149681445089704418?l=tambuks.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tambuks.blogspot.com/feeds/2149681445089704418/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tambuks.blogspot.com/2011/06/bagaimana-mendaki-gunung-rinjani-climb_03.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5139741108899141277/posts/default/2149681445089704418'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5139741108899141277/posts/default/2149681445089704418'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tambuks.blogspot.com/2011/06/bagaimana-mendaki-gunung-rinjani-climb_03.html' title='Bagaimana Mendaki Gunung Rinjani? climb Rinjani?'/><author><name>ichal_bandot</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03820352006467403448</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-9Yemwtyjs8A/TjDxzZnS5hI/AAAAAAAAAJk/W1PKrp7NJZQ/s220/richard%2Bn%2Bthe%2BGilis.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-UKjv69fU7ok/TelB4Gq6kSI/AAAAAAAAAH0/RzK5ah0hnMc/s72-c/RINMAP.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5139741108899141277.post-4625802212843531797</id><published>2011-05-31T04:43:00.000-07:00</published><updated>2011-05-31T04:43:46.039-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='culture'/><title type='text'>Toraja Indah dalam Panorama dan Budaya</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-vly0tVYqhCE/TeTUBMfjwkI/AAAAAAAAAHU/K-7cZ7aQG6w/s1600/TanaToraja4.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="134" src="http://2.bp.blogspot.com/-vly0tVYqhCE/TeTUBMfjwkI/AAAAAAAAAHU/K-7cZ7aQG6w/s200/TanaToraja4.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;Sulawesi selatan adalah sangat identik dengan Tana Toraja yang memang merupakan kawasan wisata paling menarik dari segi budayanya. Mulai dari hal yang berbau tradisional sampai pada adat-istiadatnya memang sangat memicu para wisatawan untuk berkunjung ke tempat yang terletak di tanah tinggi dan bersuhu dingin ini. Salah satu yang paling diminati dan  memiliki daya tarik tarik adalah upacara adat kematiannya yang disebut dengan “rambu solo”. Selain itu, pemakaman yang sangat berbeda juga menjadi sorotan nusantara akan kayanya budaya Indonesia. Secara umum, budaya yang ada di Tana Toraja tergolong budaya uang masih dapat lestari dalam kekangan zaman globalisasi sekarang ini.&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kabupaten yang terletak sekitar 350 km sebelah utara Makassar itu sangat terkenal dengan bentuk bangunan rumah adatnya. Rumah adat ini bernama Tongkonan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Atapnya terbuat dari daun nipa atau kelapa dan mampu bertahan sampai 50 tahun. Tongkonan juga memiliki strata sesuai derajat kebangsawanan masyarakat, seperti strata emas, perunggu, besi, dan kuningan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saking melekatnya imej Tana Toraja dengan bangunan rumah adat ini, sebagai bentuk promosi pariwisata dan untuk menggaet turis Jepang ke daerah ini, maka rumah adat pun dibangun di negeri matahari terbit itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-_CbApLGkV7c/TeTUBIu_K8I/AAAAAAAAAHM/ZwSIgmJDRJI/s1600/bori%25271.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="150" src="http://2.bp.blogspot.com/-_CbApLGkV7c/TeTUBIu_K8I/AAAAAAAAAHM/ZwSIgmJDRJI/s200/bori%25271.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;Bangunannya dikerjakan oleh orang Toraja sendiri dan diboyong pengusaha pariwisata ke negeri sakura. Sekarang di Jepang sudah ada dua Tongkonan yang sangat mirip dengan Tongkonan asli. Kehadiran Tongkonan selalu membuat kagum masyarakat negeri tersebut karena bentuknya yang unik. Perbedaannya dengan yang ada di Tana Toraja hanya terletak pada atapnya yang menggunakan daun sagu (rumbia).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Masih banyak lagi daya tarik Tana Toraja selain upacara adat rambu solo (pemakaman) yang sudah tersohor selama ini. Sebutlah kuburan bayi di atas pohon tarra di Kampung Kambira, Kecamatan Sangalla, sekitar 20 km dari Rantepao, yang disiapkan bagi jenazah bayi berusia 0-7 tahun.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Meski mengubur bayi di atas pohon tarra itu sudah tidak dilaksanakan lagi sejak puluhan tahun terakhir, pohon tempat “menyimpan” mayat bayi itu masih tetap tegak dan banyak dikunjungi wisatawan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di atas pohon tarra – yang buahnya mirip buah sukun – dengan lingkaran batang pohon sekitar 3,5 meter, tersimpan puluhan jenazah bayi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebelum jenazah dimasukkan ke batang pohon, terlebih dahulu batang pohon itu dilubangi. Mayat bayi diletakkan ke dalam, lalu ditutupi dengan serat pohon kelapa berwarna hitam. Setelah puluhan tahun, jenazah bayi itu akan menyatu dengan pohon tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ini suatu daya tarik bagi para pelancong dan untuk masyarakat Tana Toraja tetap menganggap tempat tersebut suci seperti anak yang baru lahir.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penempatan jenazah bayi di pohon ini, disesuaikan dengan strata sosial masyarakat. Makin tinggi derajat sosial keluarga itu maka makin tinggi letak bayi yang dikuburkan di batang pohon tarra.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selain itu, bayi yang meninggal dunia diletakkan sesuai arah tempat tinggal keluarga yang berduka. Kalau rumahnya ada di bagian barat pohon, maka jenazah anak akan diletakkan di sebelah barat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sementara itu, untuk sampai di Tana Toraja yang mengagumkan ini ada jalur penerbangan domestik Makassar-Tana Toraja. Penerbangan ini hanya sekali dalam seminggu dan memakai pesawat kecil berpenumpang delapan orang. Namun, waktu yang dibutuhkan cukup singkat, hanya 45 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menit dari Bandara Hasanuddin Makassar. Dan jika lewat darat, perjalanan yang cukup melelahkan membutuhkan waktu tujuh jam.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Even yang menarik di kawasan wisata ini adalah upacara pemakaman jenazah (rambu solo) dan pesta syukuran (rambu tuka) yang merupakan kalender tetap tiap tahun.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selain even tersebut, para pengunjung bisa melihat dari dekat objek wisata budaya menarik lainnya, seperti penyimpanan jenazah di penampungan mayat berbentuk kontainer ukuran raksasa dengan lebar 3 meter dan tinggi 10 meter serta tongkonan yang sudah berusia 600 tahun di Londa, Rantepao. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5139741108899141277-4625802212843531797?l=tambuks.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tambuks.blogspot.com/feeds/4625802212843531797/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tambuks.blogspot.com/2011/05/toraja-indah-dalam-panorama-dan-budaya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5139741108899141277/posts/default/4625802212843531797'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5139741108899141277/posts/default/4625802212843531797'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tambuks.blogspot.com/2011/05/toraja-indah-dalam-panorama-dan-budaya.html' title='Toraja Indah dalam Panorama dan Budaya'/><author><name>ichal_bandot</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03820352006467403448</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-9Yemwtyjs8A/TjDxzZnS5hI/AAAAAAAAAJk/W1PKrp7NJZQ/s220/richard%2Bn%2Bthe%2BGilis.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-vly0tVYqhCE/TeTUBMfjwkI/AAAAAAAAAHU/K-7cZ7aQG6w/s72-c/TanaToraja4.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5139741108899141277.post-5339690433598795292</id><published>2011-05-30T23:44:00.000-07:00</published><updated>2011-05-30T23:44:58.557-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ADVENTURE'/><title type='text'>PERLENGKAPAN DASAR BERKEGIATAN DI ALAM BEBAS/ PPAT</title><content type='html'>Keberhasilan suatu kegiatan di alam terbuka juga ditentukan oleh perencanaan perlengkapan dan perbekalan yang tepat. Dalam merencanakannya, beberapa hal yang harus diperhatikan adalah :&lt;br /&gt;1.  Mengenai jenis medan yang akan dihadapi ( misal : hutan , rawa, tebing, dan lain-lain )&lt;br /&gt;2. Menentukan tujuan perjalanan ( misal : penjelajahan, latihan, penelitian, kemanusiaan,/SAR, dan lain-lain )&lt;br /&gt;3. Mengetahuai lamanya perjalanan.&lt;br /&gt;4.Mengetahui keterbatasan perjalanan.&lt;br /&gt;5.Memperhatikan hal-hal khusus ( missal : obat-obatan tertentu, survival kit dan sebagainya ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengetahui hal-hal tersebut, maka kita dapat memilih perlengkapan dan perbekalan yang sesuai dan selengkap mungkin, tetapi bebannya tidak melebihi kemampuan membawanya, atau dikenal dengan istilah maximum utility in mimimum weight. Perhitungan beban total unutk perorangan sebaiknya tidak melebihi sepertiga berat beban ( atau sekitar 15 sampai 20 kg), walaupun beberapa ada yang mempunyai kemampuan sampai setengah berat badannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kegiatan penjelajahannya kita mengenal beberapa jenis perjalanan yang disesuaikan dengan medannya, yaitu: &lt;br /&gt;1.Pendakian gunung&lt;br /&gt;2.Perjalanan menempuh hutan rimba&lt;br /&gt;3.Penyusuran sungai&lt;br /&gt;4.Penyusuran gua&lt;br /&gt;5.Pelayaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula untuk perjalanan ilmiah dan kemanusiaan, dapat pula kita kelompokkan berdasarkan jenis medan yang kita hadapi. Dari tiap kegiatan tersebut, kita dapat mengelompokkan perlengkapan yang dibawa sebagai berikut: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Perlengkapan dasar meliputi: &lt;br /&gt;-Perlengkapan untuk pergerakan&lt;br /&gt;-Perlengkpan untuk memasak&lt;br /&gt;-Perlengkapan untuk MCK&lt;br /&gt;-Perlengkapan pribadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Perlengkapan khusus, yang disesuaikan dengan perjalanan. Misalnya:&lt;br /&gt;-Perlengkapan penelitian ( misalnya: kamera, buku, alat-alat khusus lainnya)&lt;br /&gt;-Perlengkapan penyusuran sungai ( misalnya : perahu, dayung, pelampung, dan lain-lain )&lt;br /&gt;-Perlengkapan pendakian tebing ( misalnya : tali, carrabiner, chock, piton, dan sbg)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.Perlengkapan tambahan&lt;br /&gt;Perlengkapan ini dapat dibawa atau tidak, missal: semir, kelambu, gaiter, dan lainnya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat pentingnya penyusunan perlengkapan dalam suatu perjalanan, maka sebelum melakukan kegiatan sebaiknya disusun sebuah check list (daftar perlengkapan ). Dalam check list , perlengkapan dikelompokkan kemudian diteliti apa yang perlu dibawa atau tidak. Apabila perjalanan adalah perjalanan kelompok, maka dibuat check list untuk perlengkapan regu dan pribadi. Dalam perjalanan yang besar dan cukup lama, perlu ita tentukan apakah perlengkapan akan kita bawa sendiri ataukah menggunakan pembawa beban ( porter), kemudian apakah semua perlengkapan dan perbekalan akan kita bawa sejak awal ataukah dapat diperoleh di perjalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlengkapan Dasar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam memilih perlengkapan, hal-hal yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.Perlengkapan Jalan ( untuk medan gunung hutan )&lt;br /&gt;     1.Sepatu&lt;br /&gt;       Yang perlu diperhatikan:&lt;br /&gt;-Mempunyai kegunaan yang sesuai dengan maksud perjalanan kita.&lt;br /&gt;-Sesuai dengan bentuk ukuran kaki&lt;br /&gt;-Harus sejauh mungkin menguntungkan sang pemakai&lt;br /&gt;-Harus kuat untuk pemakaian yang berat.&lt;br /&gt;Untuk medan gunung hutan diperlukan sepatu yang:&lt;br /&gt;-Melindungi tapak kaki sampai mata kaki ( melindungi sendi kaki dan ujung jari kaki )&lt;br /&gt;-Kulit tebal, tidak mudah sobek apabila terkena duri-duri.&lt;br /&gt;-Lunak bagian dalam, masih emberikan ruang gerak bagi kaki.&lt;br /&gt;-Keras bagian depannya, untuk melindungi jari kaki apabila terbentur pada batu-batu ( tidak  dianjurkan untuk menggunakan sepatu pekerja tambang karena    ujungnya yang keras dan memakai besi. Selain berat juga akan merusak jari kaki jika terjadi perubahan suhu).&lt;br /&gt;-Bentuk sol bawahnya dapat menggigit ke segala arah dan cukup kaku. Biasanya bentuk solnya yang bergerigi dengan dua arah, yang satu ke depan dan yang lain    ke belakang. Gunanya untuk memberikan pijakan yang kuat pada medan yang menurun.&lt;br /&gt;-Ada lubang ventilasi yang bersekat halus sehingga air dan udara dapat lewat untuk pernafasan kulit telapak kaki.&lt;br /&gt;-Sepatu ABRI cukup baik untuk digunakan, dengan modifikasi pada bagian sampingnya dibuat semacam ventilasi, diberikan tambahan insole ( alas tambahan    pada bagian dalam sepatu berupa nilon halus yang membuat lapisan udara antara kulit kaki dengan alas sepatu, sehingga sepatu nyaman dipakai tanpa   bertambah berat bila basah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hal yang harus diperhatikan: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Lecet. Walaupun hanya luka kecil, namun sangat mengganggu kenyamana perjalanan. Penyebab lecet mungkin disebabkan penggunaaan sepatu yang kurang   cocok (terlalu longgar atau sempit), kaus kaki yang kurang tebal, ataupun sepatu masih baru dan kulitnya masih tebal dan keras. Untuk itu, peliharalah kaki   dengan baik, sering-seringlah membuka sepatu dan mengontrol kaki. Jaga kebersihan kaki dan kaus kaki ( usahakan agar kaus kaki selalu kering ). Yang   terpenting, anda harus mengenal sepatu yang digunakan. Septum yang anda pakai di lapangan sebaiknya sepatu yang sudah kering digunakan ( tentu saja   keadaannya masih layak dipakai).&lt;br /&gt;-Bersihkan kaus kaki, sepatu, dan perlengkapan sepatu lainnya yang sesering mungkin.&lt;br /&gt;-Jangan mengeringkan sepatu terlalu dekat pada panas yang ekstrim. ( dekat dengan tungku api/ api unggun, sinar matahari yang terik.)&lt;br /&gt;-Semirlah sepatu sewaktu-waktu dan olesi dengan semacam lemak atau grease agar kulitnya tetap lembut dan benangnya tidak cepat lapuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Kaus kaki&lt;br /&gt;   Yang perlu diperhatikan: menyerap keringat.&lt;br /&gt;   Kegunaan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Melindungi kulit kaki dari pergesekan langsung dengan kulit sepatu atau bagian-bagian sepatu yang dapat menimbulkan lecet/luka.&lt;br /&gt;-Menjaga agar telapak kaki tetap dapat bernafas&lt;br /&gt;-Menjaga agar kaki tetap hangat peda daerah-daerah yang dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk keperluan diatas, bahan kaus kaki yang terbuat katun dicampur dengan wool atau bahan asintesis lainnya yang cukup baik. Sesuaikan panjang kaus kaki dengan keperluan. Mungkin lebih baik jika menggunakan lebih dai satu kaus kaki. Yang terpenting adalah menjaga kaus kaki agara tetap kering.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.Celana lapangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang perlu diperhatikan :&lt;br /&gt;-Kuat, lembut&lt;br /&gt;-Ringan&lt;br /&gt;-Tidak mengganggu gerakan kaki&lt;br /&gt;-Praktis&lt;br /&gt;-Terbuat dari bahan yang mudah menyerap keringat&lt;br /&gt;-Mudah kering, bila basah tidak menambah berat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk keperluan di atas, celana yangterbuat dari katun cukup baik, tidak terlalu tebal, tahan duri, mudah kering. Sangat tidak di anjurkan menggunakan jeans karena selain berat juga kaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.Baju lapangan&lt;br /&gt;   Yang perlu diperhatikan :&lt;br /&gt;   -Melindungi tubuh dari kondisi sekitar&lt;br /&gt;   -Kuat&lt;br /&gt;   -Ringan&lt;br /&gt;   -Tidak mengganggu pergerakan&lt;br /&gt;   -Terbuat dari bahan yang menyerap keringat&lt;br /&gt;   -Praktis&lt;br /&gt;   -Mudah kering&lt;br /&gt;     Prinsipnya sama dengan celana lapangan. Sebaiknya menutupi seluruh bagian tubuh termasuk lengan agar terhindar dari sengatan, &lt;br /&gt;     duri dan matahari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.Topi lapangan&lt;br /&gt;   Yang harus diperhatikan :&lt;br /&gt;   -Melindungi kepala dari kemungkinan cedera akibat duri.&lt;br /&gt;   -Melindungi bagian kepala dari curahan hujan, terutama kepala bagian belakang.&lt;br /&gt;   -Prinsipnya sama dengan perlenkapan yang lain, kuat dan menguntungkan pemakainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.Sarung tangan&lt;br /&gt;   Yang harus diperhatikan :&lt;br /&gt;   -Sebaiknya terbuat dari kulit&lt;br /&gt;   -Bentuknya sesuai dengan tangan&lt;br /&gt;   -Tidak kaku, artinya tidak menghalanagi gerakan tangan. Untuk medan gunung hutan, kegunaan nya adalah untuk melindungi tangan dari duri, menyibakkan      semak tanpa rasa takut tertusuk duri. Kemudian juga melindungi tangan dari serangan dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.Ikat pinggang&lt;br /&gt;    Pilihlah ikat pinggang yang terbuat dari bahan yang kuat, denga kepala gasper yang tidak terlalu besar tetapi kuat. Misalnya dari kulit yang tebal tetapi lembut     atau dari bahan sintesis lainnya. Kegunaannya adalah, selain menjaga agar celana tidak melorot, juga untuk meletakkan alat-alat yang perlu cepat dijangkau     seperti pisau pinggang, tempat air minum, tempat alat-alat p3k, dan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.Ransel &lt;br /&gt;    yang harus diperhatikan :&lt;br /&gt;   -Ringan&lt;br /&gt;     Ransel diusahakan seringan munkin karena merupakan beban yang paling berat ketika melakukan perjalanan di alam terbuka. Terbuat dari water proof       sehingga tidak ditembus air dan akan menambah berat beban.&lt;br /&gt;   -Kuat&lt;br /&gt;     Harus mampu membawa beban dengan aman, berdaya tahan tinggi, tidak mudah robek, jahitannya tidak mudah lepas, reslitingnya cukup kokoh, dan      sebagainya. Pokoknya harus kuat!&lt;br /&gt;   -Sesuai dengan kebutuhan keadaan mudah&lt;br /&gt;     Untuk medan gunung hutan, tidak dianjurkan memakai ransel dengan rangka luar (external frame). Ini akan menyulitkan untuk meleati medan semak. Ransel       jenis ini hanya cocok pada daerah terbuka seperti ( salju, padang rumput, pantai ).&lt;br /&gt;    -Nyaman dipakai&lt;br /&gt;      Dianjurkan untuk memakai ransel yang menggunakan rangka. Itu untuk membuat seimbang berat beban dan kenyamanan punggung.&lt;br /&gt;    -Praktis&lt;br /&gt;      Kantung-kantung tambahan serta pembagian ruangan akan memudahkan mengambil barang-barang tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.Peralatan navigasi&lt;br /&gt;   Kompas, peta, penggaris segi tiga, busur derajat, pensil, dan lain-lain.&lt;br /&gt;   Peralatan navigasi merupakan peralaytan yang sangat penting yang selalu harus dibawa. Bungkuslah selalu dengan plastic agar tidak cepat basah dan rusak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10.Lampu senter&lt;br /&gt;    Penerangan sangat dibutuhkan pada perjalanan alam terbuka. Untuk lebih baiknya, penggunaan penerangan lebih praktis seperti headlamp. Jangan lupa     menyiapkan baterai cadangan.&lt;br /&gt;11.Peluit &lt;br /&gt;    Yang perlu diperhatikan:&lt;br /&gt;    -Peluit yang dianjurkan adalah peluit jenis whistle, yang juga dikenal dengan sebutan peluit pramuka.&lt;br /&gt;    -Jenis ini dianjurkan karena frekuensi bunyi yang dihasilkannya tetap, sehingga kekuatan kita meniupnya tidak mempengaruhi buniya yang dihasilkan.&lt;br /&gt;12.Pisau &lt;br /&gt;    -pisau saku serba guna&lt;br /&gt;    -pisau pinggang&lt;br /&gt;    -golok tebas&lt;br /&gt;    masing-masing memiliki fungsi masing-masing sesuai dengan kegunaannya.&lt;br /&gt;Macam-macam pisau yang baik untuk kegiatan di alam terbuka:&lt;br /&gt;   -pisau Bowie( fighting knife )&lt;br /&gt;   -pisau komando&lt;br /&gt;   -pisau pengulit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B.PERLENGKAPAN TIDUR&lt;br /&gt;    -Satu set pakaian tidur&lt;br /&gt;    -Kaus kaki untuk tidur&lt;br /&gt;    -Sleeping bag atau sarung tidur&lt;br /&gt;    -Sleeping mat atau matras&lt;br /&gt;    -Tenta dome, ponco/ bivak&lt;br /&gt;C.PERLENGKAPAN MASAK DAN MAKAN&lt;br /&gt;    -Alat masak lapangan/ misting&lt;br /&gt;    -Alat bantu makan lainnya( sendok, garpu, piring dan lain-lain)&lt;br /&gt;    -Alat pembuat api ( lilin, spiritus, paraffin, dan lainnya )&lt;br /&gt;    -Kantung air/ tempat air. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERLENGKAPAN KHUSUS&lt;br /&gt;1. Pemanjatan tebing&lt;br /&gt;    -Tali : static, dinamik&lt;br /&gt;    -Harness&lt;br /&gt;    -Helmet/helm&lt;br /&gt;    -Carrabiner&lt;br /&gt;    -Sling: standard, prusik sling&lt;br /&gt;    -Chock&lt;br /&gt;    -Piton&lt;br /&gt;    -Ascender&lt;br /&gt;    -Descender&lt;br /&gt;    -Hammer&lt;br /&gt;    -Stirrup ( tali pijakan)&lt;br /&gt;    -skyhook&lt;br /&gt;    -Dan lain-lain ( sesuai kebutuhan pemanjatan ) &lt;br /&gt;E.103.09.L.A.89-FIB-UH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5139741108899141277-5339690433598795292?l=tambuks.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tambuks.blogspot.com/feeds/5339690433598795292/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tambuks.blogspot.com/2011/05/perlengkapan-dasar-berkegiatan-di-alam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5139741108899141277/posts/default/5339690433598795292'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5139741108899141277/posts/default/5339690433598795292'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tambuks.blogspot.com/2011/05/perlengkapan-dasar-berkegiatan-di-alam.html' title='PERLENGKAPAN DASAR BERKEGIATAN DI ALAM BEBAS/ PPAT'/><author><name>ichal_bandot</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03820352006467403448</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-9Yemwtyjs8A/TjDxzZnS5hI/AAAAAAAAAJk/W1PKrp7NJZQ/s220/richard%2Bn%2Bthe%2BGilis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5139741108899141277.post-4747659527492299854</id><published>2011-05-10T08:01:00.000-07:00</published><updated>2011-05-10T08:01:54.331-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='POETRY'/><title type='text'>Untukmu  yang Tertinggal</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Duduk dan tenanglah disitu&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Jangan ragu tentang aku&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Bukan inginku biarkan jarak menjauh&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Lepaskan rindu tebarkan khayal ingat diriku&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Sayangku manisku&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Jelang pencapaianku selalu kau yang menguatkan&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Tidak sengaja tapi datang membayangi&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;tiap langkah kurasa ada senyum manismu&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;jangan takut saat aku pergi&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;tidak akan lama pasti bertandang kembali&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;melangkah meraup cita dan pengalaman&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;rindu dan sayangku selalu ada padamu…..&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;lihatlah ke atas, disamping langit dan bintang aku juga ada untukmu….&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;E.103, 10.53 WIT, 17 MARET 2011, LAUT BANDA&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5139741108899141277-4747659527492299854?l=tambuks.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tambuks.blogspot.com/feeds/4747659527492299854/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tambuks.blogspot.com/2011/05/untukmu-yang-tertinggal.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5139741108899141277/posts/default/4747659527492299854'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5139741108899141277/posts/default/4747659527492299854'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tambuks.blogspot.com/2011/05/untukmu-yang-tertinggal.html' title='Untukmu  yang Tertinggal'/><author><name>ichal_bandot</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03820352006467403448</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-9Yemwtyjs8A/TjDxzZnS5hI/AAAAAAAAAJk/W1PKrp7NJZQ/s220/richard%2Bn%2Bthe%2BGilis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5139741108899141277.post-5490297268294168237</id><published>2011-05-08T02:27:00.001-07:00</published><updated>2011-05-09T04:13:50.713-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='GENERAL'/><title type='text'>BERDIRI TANPA PONDASI</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-LO54BDhBtM8/TcfLnV4g25I/AAAAAAAAAFg/vilNWOb63uE/s1600/DSCN1977.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="150" src="http://3.bp.blogspot.com/-LO54BDhBtM8/TcfLnV4g25I/AAAAAAAAAFg/vilNWOb63uE/s200/DSCN1977.JPG" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;Tak dapat dipungkiri bahwa daerah Ambon yang akrab disapa Ambon manise sangat rawan dalam persoalan yang berbau SARA. Apalagi, ibu kota dari provinsi Maluku Tengah  ini dihuni oleh ragam suku yang berbeda.  Berbagai etnis yang bermukim di kota ini  mencari nafkah dengan jalan mereka sendiri, khususnya  masyarakat pendatang yang kebanyakan berasal dari Pulau Jawa dan Sulawesi.  Tampak biasa-biasa saja seolah-olah tak ada permasalahan yang tertera di hati kecil para pendatang di Kota yang terpisah oleh teluk Bakuala ini.&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Begitu menyebutkan hal-hal yang terkait dengan SARA, terlebih pada persoalan agama, tanggapan bertubi-tubi dilontarkan mereka. Masyarakat daerah Ambon yang masih menyisakan sejuta tanda tanya mengapa pernah terjadi konflik internal antar agama ini, sangat sensitif bila berbicara tentang SARA. Jadi, alangkah baiknya jika berkunjung ke tempat ini, jangan mencoba untuk mengutak-atik mereka dengan pertanyaan yang masih dalam regulasi itu. Cukup dengan mengamati dan merasakan hawa dan suasananya. Berbeda dengan penduduk lokal, hanya dengan satu pertanyaan saja, mereka berbicara panjang lebar seakan membela ras dan sukunya. Nah, mendengar itu dapat ditebak bahwa seyogiyanya tempat ini masih belum dapat menyatukan masyarakatnya. “Kami ibarat berdiri tanpa pondasi!”, begitu gambaran singkat  kalimat pedas yang sempat diucapkan seorang ibu paruh baya yang sehari-hari bedagang di pasar Kota Ambon. Panjang lebar diceritakannya tentang keadaan etnis di Kota ini. Mendengar caranya berbicara, dialek yang digunakan sangat jelas menunjukkan bahwa beliau bukan orang baru di tempat ini. Persis seperti penduduk lokal dalam gaya bahasanya, hanya raut wajah yang menjadi tolak ukur bahwa dia bukan asli Daerah ini.  Wanita yang selalu sibuk melayani pelanggan di warung kecilnya ini, berapi-api membela dirinya yang tidak diakui sebagai orang lokal. Padahal kurun waktu dua puluh enam tahun bukanlah waktu yang singkat untuk tinggal bermukim di suatu wilayah. Dia menginginkan derajat yang sama dalam hal kepedulian pemerintah dengan penduduk asli Kota Ambon. Seringkali dia dan sesamanya merasa terkucilkan ketika perlakuan pemerintah setempat terlihat berbeda dengan penduduk lokal dibandingkan mereka. Tentu saja muncul rasa tidak senang dan merasa dianaktirikan di kampung orang, padahal semboyan dari leluhur kita mengatakan bahwa kita memang berbeda tapi tetap satu. Banyak diskriminasi dan intimidasi terhadap mereka yang terlanjur berlabel pendatang. Katanya dalam hal perekonomian, masyarakat pendatang lebih unggul dibanding masyarakat lokal sehingga terjadi suatu kecemburuan sosial yang sebenarnya tidak patut terjadi. Ekspresi kekecewaan menguasai wajahnya dan membentuk kemarahan yang meluap-luap dalam diri wanita ini. Memang bukan persoalan sepele ketika menyinggung persoalan ras dan etnis, tapi itulah kenyataan yang terjadi. Semboyan “bhinneka Tunggal Ika” sepertinya sudah luput dari sejarah dan mulai terlupakan. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;E.103.  KOLEKSI EKSPEDISI MANISE 2011.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5139741108899141277-5490297268294168237?l=tambuks.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tambuks.blogspot.com/feeds/5490297268294168237/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tambuks.blogspot.com/2011/05/berdiri-tanpa-pondasi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5139741108899141277/posts/default/5490297268294168237'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5139741108899141277/posts/default/5490297268294168237'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tambuks.blogspot.com/2011/05/berdiri-tanpa-pondasi.html' title='BERDIRI TANPA PONDASI'/><author><name>ichal_bandot</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03820352006467403448</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-9Yemwtyjs8A/TjDxzZnS5hI/AAAAAAAAAJk/W1PKrp7NJZQ/s220/richard%2Bn%2Bthe%2BGilis.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-LO54BDhBtM8/TcfLnV4g25I/AAAAAAAAAFg/vilNWOb63uE/s72-c/DSCN1977.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5139741108899141277.post-6747216777277831224</id><published>2011-05-08T02:22:00.000-07:00</published><updated>2011-05-09T04:53:48.782-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='GENERAL'/><title type='text'>Sejarah Penduduk Asli Pegunungan Binaiya  dan Rahasia yang Tersimpan v</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-R0Y-y-wdmt4/TcfTVI68aII/AAAAAAAAAGA/pVCmROq2fDM/s1600/DSC06951.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://2.bp.blogspot.com/-R0Y-y-wdmt4/TcfTVI68aII/AAAAAAAAAGA/pVCmROq2fDM/s200/DSC06951.JPG" width="150" /&gt;&lt;/a&gt;Sebuah hal yang sangat kompleks ketika membahas seputar silsilah keluarga dan tali persaudaraan masyarakat pegunungan Pulau Seram. Hubungan yang dahulunya sangat dekat bahkan dikatakan sebagai saudara kandung, kini hanya sebatas bualan. Menurut Hasan (53), kepala saniri negeri dari desa Wahai Seram Utara, bahwa masyarakat pantai Utara Seram dengan penduduk yang bermukim di kaki-kaki gunungnya memiliki satu ikatan keluarga yang dekat dan kian menjauh karena jarak yang memisahkan. Ketika missionaris protestan sudah gencar memasuki wilayah pegunungan, sebagian masyarakat yang muslim dan yang masih menganut animisme mulai memeluk agama protestan. Sebagian pula memilih untuk tetap memeluk islam. Atas dasar ini, maka pada waktu itu terjadi semacam konflik batin diantara mereka yang bersaudara. Tinggal bersama dalam satu wilayah dengan latar belakang keyakinan berbeda menurut mereka tidak benar. Diadakan sebuah perundingan yang dikenal dengan nama perundingan kursi emas. Nah, yang menjadi intisari agenda perundingan adalah terkait persoalan keyakinan yang merasuki Kanikeh pada waktu itu.Masing-masing tetap dengan pendiriannya ingin memeluk agama yang menjadi pilihan. Setelah melakukan perundingan bersama, maka tercetuslah kesepakatan bahwa siapa yang memeluk agama islam harus turun ke pantai. Semua dicetus atas dasar kepentingan bersama agar tidak terjadi konflik lagi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-INJprHWl6z0/TcfUAkzgsuI/AAAAAAAAAGI/P4ZA0r0NIGg/s1600/DSC07362.JPG" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="150" src="http://4.bp.blogspot.com/-INJprHWl6z0/TcfUAkzgsuI/AAAAAAAAAGI/P4ZA0r0NIGg/s200/DSC07362.JPG" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;Sampai pada saat ini, marga asli dari desa yang menjadi kaki Gunung Binaiya ini telah menetap di pantai, walaupun sekarang yang tertinggal adalah anak cucunya. Sementara yang tersisa masih bermukim di tengah hutan belantara adalah para penerus generasi. Dikatakan oleh pria paruh baya ini bahwa lima marga asli ini adalah marga yang menjadi pemilik harta pusaka dan tuan tanah di pegunungan sekitar Binaiya. Mereka tergolong orang-orang yang memiliki derajat yang tinggi dan dihormati pada zamannya. Misalnya, marga berjuluk “kaila” yang berarti tuan tanah. Kemudian “ malueka” dan “tolo matan” yang keduanya berarti orang besar. Sementara dua marga lagi tidak diketahui dan tidak jelas keterangannya. Kelima marga ini hijrah ke pesisir pantai dan memberikan amanah kepada mereka yang tinggal di gunung. Sampai saat ini, apabila merunut pada sejarah kependudukan, lima marga asli kanikeh menyisakan rentetan keturunan di wilayah Desa Wahai (kota kecil yang berlokasi di kecamatan seram)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping sejarah keturunannya, rahasia yang tersimpan dibalik mistiknya pegunungan Binaiya juga menyisakan sebuah pertanyaan besar. Begitu banyak hal yang dikeramatkan dan menjadi harta tersendiri warga pegunungan ini. Jarak yang harus ditempuh untuk mencapai wilayah perkampungan kaki gunung tergolong sangat jauh. Membutuhkan tenaga ekstra dengan waktu tempuh dua hari jika berjalan normal. Lain halnya dengan penduduk lokal yang sudah terbiasa, menempuhnya dalam waktu sehari merupakan hal biasa. Ada tiga perkampungan yang akan dilalui, dan akan berakhir di desa kanikeh. Sementara dua desa yang mendahului adalah Huahulu dan Roho. Dua desa ini memiliki perbedaan yang sedikit mencolok dalam kepercayaannya padahal masih berada dalam satu wilayah dan jaraknya hanya sekitar lima sampai tujuh kilometer. Di Huahulu, kepercayaan yang berkembang adalah Hindu Buddha. Perilaku mereka dalam beragama masih mendekati atheis yang dipengaruhi animisme yang besar, layaknya pribumi yang primitif lainnya. Terdapat kebiasaan-kebiasaan seperti pengambilan tumbal kepala manusia untuk persembahan dalam suatu acara dan rumah pengasingan bagi wanita yang sedang haid ( Lili Poso ). Di desa Roho pula, sudah terlihat sebuah gereja kecil dari kayu yang berdiri dekat dengan pintu masuk desa. Petanda ini menandakan bahwa kepercayaan yang berkembang disini adalah agama Kristen protestan. Hal yang sama terjadi di desa terakhir Kanikeh, juga memiliki gereja yang sedikit lebih besar dibanding dengan gereja di Desa Roho.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang menjadi dasar pemikiran warga ini adalah kental dengan animism. Maka dari itu, tidak heran ketika budaya, adat dan peninggalannya sangat memberikan nuansa peadaban yang berbeda dengan yang lain. Kesan keramat dan mistik selalu menjadi sandaran mereka, meski notabene telah memeluk agama langit yang punya ajaran dan Al kitab. Semua karena alasan bahwa leluhur mereka masih tetap saja selalu hadir dalam tiap langkah kehidupan mereka. Menurut kepala saniri negeri desa kanikeh, Bapak Son bahwa leluhur atau arwah nenek moyang menjaga dan melindungi mereka dalam kehidupan. Maka dari itu, setiap yang berkunjung ke tempat ini dan ingin mendaki Gunung Binaiya diharuskan melalui ritual upacara adat sirih pinang. Tujuannya agar leluhur mereka tahu bahwa ada yang sedang menjejaki wilayahnya dan akan ia berikan perlindungan dari marabahaya. Belum lagi rahasia peninggalan yang sangat dirahasiakan oleh mereka. Jalur-jalur yang ditempuh menuju desa Kanikeh dan Puncak Binaiya sebenarnya terbagi dua. Ada yang menjadi jalur umum dan ada yang khusus hanya untuk warga setempat. Jalur umum inilah yang sering di lalui para pendaki dengan bantuan guide yang disewa sebelumnya. Sementara jalur khusus, adalah jalur adat menurut istilah mereka. Hanya diketahui oleh orang-orang tertentu dari mereka. Pada jalur ini terdapat tempat-tempat yang dikeramatkan dan hanya akan dikunjungi pada saat upacara adat 29 desember. Contohnya adalah semacam kuburan besar dengan telapak kaki yang ukurannya tidak seperti telapak manusia biasa, sepanjang siku manusia. Guide yang biasaanya memandu para pendaki akan membawa mereka melalui jalur umum agar tidak melihat segala yang menjadi benda keramat warga setempat. Tidak mudah untuk melihat apa yang disembunyikan mereka, tapi untuk mengupas dan mencari tahu mungkin tergantung pada waktu dan keberadaan kita di belantara ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E.103.KOLEKSI EKSPEDISI MANISE 2011.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Narasumber : Hasan (53), kepala saniri negeri Wahai Kec. Seram Utara ( marga kaila )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5139741108899141277-6747216777277831224?l=tambuks.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tambuks.blogspot.com/feeds/6747216777277831224/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tambuks.blogspot.com/2011/05/sejarah-penduduk-asli-pegunungan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5139741108899141277/posts/default/6747216777277831224'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5139741108899141277/posts/default/6747216777277831224'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tambuks.blogspot.com/2011/05/sejarah-penduduk-asli-pegunungan.html' title='Sejarah Penduduk Asli Pegunungan Binaiya  dan Rahasia yang Tersimpan v'/><author><name>ichal_bandot</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03820352006467403448</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-9Yemwtyjs8A/TjDxzZnS5hI/AAAAAAAAAJk/W1PKrp7NJZQ/s220/richard%2Bn%2Bthe%2BGilis.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-R0Y-y-wdmt4/TcfTVI68aII/AAAAAAAAAGA/pVCmROq2fDM/s72-c/DSC06951.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5139741108899141277.post-1896150086330308289</id><published>2011-05-08T02:19:00.000-07:00</published><updated>2011-05-08T02:19:20.714-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='GENERAL'/><title type='text'>SEKILAS  MALUKU TENGAH</title><content type='html'>Sebuah provinsi yang beribu Kota di Ambon yang  merupakan bagian tengah dari  wilayah Maluku adalah sebuah wilayah nusantara yang memiliki ragam keindahan. Maluku  dengan geografis sirkum mediterania ini terbagi atas tujuh kabupaten dan satu kota madya dan terbagi dalam beberapa pulau. Dua diantaranya adalah pulau Ambon  dan Pulau seram yang masing-masing memiliki ragam budaya khas daerahnya. Pulau Ambon yang akrab disapa dengan julukan  “manise” dan sekaligus menjadi ibu kota tentunya dipadati oleh masyarakat urban yang berasal dari berbagai suku. Di pusat kota yang menjadi lokasi konflik agama beberapa waktu yang lalu ini, dipadati oleh masyarakat asal Sulawesi dan Jawa.  Bila anda berjalan di tempat ini, jangan heran ketika melihat raut wajah berbeda. Bahkan, sudah banyak asimilasi yang terjadi dan jelas tampak dalam keseharian masyarakat di perkotaan dan pasar lokal. Terlepas dari itu, Pulau Ambon ini sangat menarik dari segi transportasinya. Bentuknya yang menyerupai huruf U, menjadikan transportasi laut hadir sebagai akses yang lebih diminati masyarakat. Teluk Bakuala yang memisahkan pesisir Poka dan Galala terlihat sangat ramai pada jam siang dan malam karena antrean kendaraan dan masyarakat yang ingin menyeberang. Untuk menyeberangi teluk Bakuala ini, terdapat berbagai macam transportasi yang dapat diakses, diantaranya berupa ferri, speedboat dan perahu dengan harga yang sangat terjangkau, terlebih untuk mahasiswa dan pelajar sekolah yang tinggal berseberangan dengan kampus atau sekolahnya. Transportasi laut lebih diminati karena disamping harganya yang murah, juga jarak yang lebih dekat dibanding dengan angkutan umum yang harus mengitari pesisir teluk sampai di daratan sebelah. Saat menyeberangi teluk ini, kita akan disuguhi pemandangan eksotik Pulau Ambon. Kombinasi daerah urban dan rural tampak menyatu karena wilayahnya yang tidak rata. Wilayah perkotaan di bayangi oleh hutan-hutan kecil dengan beberapa rumah di bagian atas. Nampak pula Pegunungan Salahutu dan sekitarnya  pada sisi timur Dermaga Galala  berjejer berselimut kabut. Pantai-pantai yang berpasir putih adalah juga merupakan salah satu dari daya tariknya. Pasir putih dipadu dengan laut biru benar-benar memikat bila menikmati suasana sore hari di pelabuhan Liang Pulau Ambon. Di pusat kota pula, berdiri patung sang pahlawan nusantara yang sempat diabadikan dalam lembaran uang seribuan. Kapitan Pattimura, pria asal Ambon didesain dengan kaki telanjang memegang parangnya yang menghunus siap menggempur sang penjajah. Di tempat dimana ia di hokum gantung ini, sebuah patung besar sebagai monumen untuk mengenang kepahlawanannya berdiri kokoh.  Monumen  ini  berdiri di samping lapangan merdeka, tepat di belakang tembok bertuliskan AMBON MANISE besar sekali. Sangat elok dipandang dan membangkitkan semangat perwira generasinya ketika membaca semboyan keberanian Pattimura.  Dengan gaya bahasa lokal Ambon, sang pahlawan meneriakkan kalimat “ beta akan mati, tapi nanti akan muncul Pattimura-Pattimura baru yang akan melanjutkan beta punya perjuangan”. Seperti itu kalimat yang tergores di bagian bawah monument Pattimura Park ini. Tidak jauh dari tempat ini, tergantung  Gong Perdamaian Dunia berwarna keemas-emasan menjadi hiasan utama Kota Ambon dengan arsitektur yang baru saja diperbaharui. Gong yang menjadi simbol perdamaian dunia ini dihiasi bendera Negara-negara yang ikut menjadi anggota. Tampak unik dan menarik manambah pesona Kota Ambon. &lt;br /&gt;Dari pelabuhan Liang Ambon, samar-samar kelihatan Pulau Seram di kejauhan. Pulau ini lebih besar daripada pulau Ambon, namun penduduk dan perkembangannya belum terlalu memadai dan masih terkesan rural. Pulau ini bahkan masih menyisakan belantara-belantar tebal yang belum terjamah ganasnya eksploitasi kayu akibat penebangan liar. Selain itu, kehidupan yang ada di dalamnya sangat menarik untuk dikaji karena memiliki aneka budaya dan kearifan lokal yang unik. Sedikit primitif dan memiliki nilai tersendiri bagi siapa yang melihatnya. Menuju ke sebelah utara Pulau Seram , berjejer kelapa yang menjulang tinggi di pesisir pantainya. Sangat indah dan menawarkan nuansa alami yang belum tersentuh. Penduduknya belum padat dan hidup dengan melaut dan menjadi penghasil kopra. Di pulau yang dialiri banyak sungai-sungai besar ini, hidup berbagai macam fauna langka di hutannya. Contohnya burung-burung dan jenis hewan mirip komodo bernama iguana yang kini menjadi symbol dari Maluku. Hewan-hewan ini sangat dilindungi oleh instansi Taman nasional Manusela yang menjadi pusat pelestarian flora dan fauna wilayah belantara sekitar Gunung Binaiya.  Selain keindahannya, pulau Seram juga menyimpan begitu banyak budaya yang belum terekam kamera dan sangat menarik untuk dibawa ke kancah internasional sebagai bagian dari kekayaan Indonesia. Hanya saja aksesnya yang sangat sulit dijangkau membuat data terkesan sulit didapatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E.103.KOLEKSI EKSPEDISI MANISE 2011&lt;br /&gt;17 MARET 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5139741108899141277-1896150086330308289?l=tambuks.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tambuks.blogspot.com/feeds/1896150086330308289/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tambuks.blogspot.com/2011/05/sekilas-maluku-tengah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5139741108899141277/posts/default/1896150086330308289'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5139741108899141277/posts/default/1896150086330308289'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tambuks.blogspot.com/2011/05/sekilas-maluku-tengah.html' title='SEKILAS  MALUKU TENGAH'/><author><name>ichal_bandot</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03820352006467403448</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-9Yemwtyjs8A/TjDxzZnS5hI/AAAAAAAAAJk/W1PKrp7NJZQ/s220/richard%2Bn%2Bthe%2BGilis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5139741108899141277.post-4218583113664436085</id><published>2011-05-08T02:17:00.000-07:00</published><updated>2011-05-08T02:17:26.854-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kebudayaan'/><title type='text'>SERIBU MITOS PULAU SERAM, MALUKU TENGAH</title><content type='html'>Memulai cerita dengan warga Pulau Seram selalu saja berujung pada hal yang berkaitan dengan mitos dan legenda. Artinya mereka memang tak pernah melupakan sejarah leluhur mereka. Terlebih pada suku pedalaman yang masih menganut animisme dan dinamisme.  Gaya bahasanya yang  khas cukup sulit unutk dimengerti. Bicara tentang mitos dan legenda, tak ada habisnya ketika sudah berhadapan dengan penduduk pulau berpantai indah ini. Berjuta rahasia yang belum sempat terungkit di hadapan massa nusantara tersimpan rapi di bumi hijau ini. Mitos-mitos yang terdengar dari mulut ke mulut tiap warga yang bercerita benar-benar menarik dan memicu sanubari untuk tahu lebih jauh tentang itu. “piring dolo”, sebuah contoh yang melegenda di kalangan mereka. Ada yang dikatakan sebagai piring yang jahat, ada pula yang baik. Masing-masing memiliki kekuatan tersendiri. Yang baik dapat menyembuhkan dengan menetralisir racun dalam makanan yang disaji diatasnya, sementara yang jahat akan membawa malapetaka bagi penggunannya. Piring ini disebutkan digunakan oleh para pendahulu mereka dari golongan tinggi atau para raja. Dikatakan pula bahwa piring-piring ini banyak tersimpan dan terkubur di hutan rimba karena disembunyikan keberadaanya untuk menjaga kelesterian dan kesaktiannya. Secara ilmiah, dapat disebutkan bahwa piring-piring ini termasuk benda yang tergolong artefak. Tentu saja, hanya oang-orang yang beruntung bias menemukan benda ajaib ini. Memang agak sulit dipercaya bagi masyarakat modern saat ini karena memang hanya menganggapnya mitos belaka, tapi tidak bagi mereka yang menganggapnya sebagai hal yang dikeramatkan. Terlepas dari itu, ada pula disebut “kupu-kupu raja”. Nah, hewan ini diceritakan oleh penduduk asli Kanikeh, kaki Gunung Binaiya. Kupu-kpu raja berukuran lebih besar dari biasanya dan muncul pada waktu tertentu dengan tujuan mengganggu langkah para pendaki yang menuju Binaiya. Konon katanya ia akan muncul jika yang bersangkutan tidak mengikuti upacara adat sirih pinang sebelum naik ke puncak Binaiya. Sang kupu-kupu raja akan terbang menhalangi pandangan mereka agar tersesat di jalan. &lt;br /&gt;Makanya, setiap pendaki diharuskan mengikuti upacara adat sebelum menjejakkan kaki di pelataran Gunung Binaiya. Masih seputar mitos di Binaiya, air yang dikenal dengan istilah wai Puku.  Sebuah telaga yang tepat tergenang di  puncak Gunung ini. Menurut sumber, Oce Masahuna (25) di desa Roho, air it adalah sisa air laut ketika Binaiya masih belum muncul di permukaan laut, tentunya sebelum zaman es dahulu kala. Air ini akan terasa asin persis seperti air laut jika seseoarang meminumnya di puncak tepat pada hari jumat. Sementara di hari yang lain, air dari telaga kecil ini sama seperti biasanya. &lt;br /&gt;Di luar dari wilayah pegunungan,  legenda yang bersumber dari daerah pesisir pantai Pulau seram tak kalah menariknya. Tepatnya di Tanjung Hewal yang berada pada pesisir pantai Utara Pulau ini. Di tempat inilah terdapat sebuah legenda yang menceritakan tentang sebuah mesjid yang berdiri di tengah laut. Anehnya, mesjid ini semu dan hanya halusinasi dari setiap orang yang sempat melihatnya. Tentunya, hanya orang-orang tertentu pada waktunya yang kebetulan melihatnya dengan kasat mata, walaupun benda ini bersifat semu. Rahman(28), pria lokal asal Hatilen, sebuah kampung yang dekat dengan tempat ini mengatakan bahwa mesjid juga ada yang menghuninya. Mereka adalah orang-orang yang berbusana muslim lengkap dengan kopiah dan talkum layaknya orang yang akan menunaikan shalat.  Mereka akan memanggil siapa saja yang melewati wilayah dekat mesjid yang berdiri di atas permukaan laut ini. Disamping legenda ini pula, cerita rekyat tentang hubungan tali persaudaraan diantara penduduk pantai dan gunung sangat mencengangkan dan membuat kuping siap menyimak dengan tajam.  Orang-orang di gunung pada dasarnya memiliki talii persaudaraan yang dekat dengan penduduk di pantai sejak dahulu. Dahulu kala, pendahulu mereka merupakan saudara dimana salah satu diantaranya turun ke pantai. Sampai pada saat ini, anak cucu hanya tinggal mencocokkan marga untuk tahu silsilah keluarga yang sempat terpisah ini. Diketahui bersama bahwa Maluku ketika zaman kolonilisme belanda adalah salah satu wilayah favorit sasaran mereka berburu rempah. Nah, barang tentu banyak hal yang menjadi behan bersejarah yang kian menjadi peninggalan sang penjajah di tempat ini. Contohnya, “seterika VOC” yang sampai pada saat ini banyak diburu masyrakat  karena dipercaya memiliki kekuatan ghaib. Seterika yang dilengkapi dengan kepala ayam jago dan tujuh lubang khas seterika arang diyakini oleh mereka punya nilai tersendiri yang sangat berharga. Warnanya agak kekuning-kuningan dan entah apa tujuannya sehingga sangat diincar oleh masyarakat lokal. Jadi, merupakan sebuah keberuntungan yang amat sangat ketika ada yang memiliki benda itu.  Begitu pula halnya dengan uang logam peningggalan Belanda yang bergambar Ratu Welhemina. Turut menjadi buruan warga karena kekuatannya yang ajaib menurut mereka. Mitos-mitios makin berkembang dan menjadi hal-hal yang dikeramatkan di Pulau seram sampai pada saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E.103. KOLEKSI EKSPEDISI MANISE 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5139741108899141277-4218583113664436085?l=tambuks.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tambuks.blogspot.com/feeds/4218583113664436085/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tambuks.blogspot.com/2011/05/seribu-mitos-pulau-seram-maluku-tengah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5139741108899141277/posts/default/4218583113664436085'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5139741108899141277/posts/default/4218583113664436085'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tambuks.blogspot.com/2011/05/seribu-mitos-pulau-seram-maluku-tengah.html' title='SERIBU MITOS PULAU SERAM, MALUKU TENGAH'/><author><name>ichal_bandot</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03820352006467403448</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-9Yemwtyjs8A/TjDxzZnS5hI/AAAAAAAAAJk/W1PKrp7NJZQ/s220/richard%2Bn%2Bthe%2BGilis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5139741108899141277.post-3340219530656366777</id><published>2011-04-29T09:09:00.000-07:00</published><updated>2011-04-29T09:09:21.460-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='POETRY'/><title type='text'>secercah harapan kaum pedalaman</title><content type='html'>Ketahuilah wahai negeriku&lt;br /&gt;Hanya padamu mereka mencari &lt;br /&gt;Mengais dan bertani&lt;br /&gt;Berburu dan berlari-lari di hutan lebat&lt;br /&gt;Tanpa alas kaki mereka melaju&lt;br /&gt;Diserang dingin di ketinggian &lt;br /&gt;Diguyur hujan di lembah yang  dalam&lt;br /&gt;Terus saja menanti secercah harapan&lt;br /&gt;Semoga hari ini ada rusa di tangan&lt;br /&gt;Ada singkong yang padat berisi&lt;br /&gt;Ada uluran tangan dari sang penggawa di ibu kota&lt;br /&gt;Mengenal mereka sebagai saudara sebangsa&lt;br /&gt;Setanah air dan dalam satu negeri&lt;br /&gt;Lalu dengan senyum  berjabat tangan &lt;br /&gt;Akan hadir keharmonisan  yang mereka inginkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;koleksi ekspedisi manise 2011&lt;br /&gt;E.103, 21.10 WIT, 05 MARET 2011, WAE HUHU GUNUNG BINAIYA&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5139741108899141277-3340219530656366777?l=tambuks.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tambuks.blogspot.com/feeds/3340219530656366777/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tambuks.blogspot.com/2011/04/secercah-harapan-kaum-pedalaman.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5139741108899141277/posts/default/3340219530656366777'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5139741108899141277/posts/default/3340219530656366777'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tambuks.blogspot.com/2011/04/secercah-harapan-kaum-pedalaman.html' title='secercah harapan kaum pedalaman'/><author><name>ichal_bandot</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03820352006467403448</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-9Yemwtyjs8A/TjDxzZnS5hI/AAAAAAAAAJk/W1PKrp7NJZQ/s220/richard%2Bn%2Bthe%2BGilis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5139741108899141277.post-453866675112410922</id><published>2011-04-29T07:57:00.001-07:00</published><updated>2011-04-29T07:57:59.289-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='POETRY'/><title type='text'>Laut Banda Ketika Hari Ingin Berganti</title><content type='html'>Berembus halus angin laut&lt;br /&gt;Terasa hangat panas berpeluh&lt;br /&gt;Samudera biru kian gelap&lt;br /&gt;Ditelan malam makin menghitam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ragam warna dengan bahasa berbeda&lt;br /&gt; Bercanda ria sesama senada&lt;br /&gt; Tak peduli waktu terus berlalu&lt;br /&gt; Hanya ingin cepat berlabuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deru mesin hiasi kantuk mendera&lt;br /&gt;Bergetar merambah tubuh yang hangat&lt;br /&gt;Jelang hari berganti riak ombak makin semarak&lt;br /&gt;Goyahkan kuatnya hati muda dalam tubuh yang sedang bingung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Satu tujuan di genggam bersama&lt;br /&gt; Doa suci iringi langkah-langkahnya&lt;br /&gt; Waktu sudah menarik diri dari cerita&lt;br /&gt; Biar sang Khalik jadi sandaran selanjutnya…&lt;br /&gt;KOLEKSI EKSPEDISI MANISE 2011&lt;br /&gt;E.103, 25 FEBRUARI 2011, 11.00 WIT, DEK 7 KM GUNUNG DEMPO, PERAIRAN BANDA&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5139741108899141277-453866675112410922?l=tambuks.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tambuks.blogspot.com/feeds/453866675112410922/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tambuks.blogspot.com/2011/04/laut-banda-ketika-hari-ingin-berganti.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5139741108899141277/posts/default/453866675112410922'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5139741108899141277/posts/default/453866675112410922'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tambuks.blogspot.com/2011/04/laut-banda-ketika-hari-ingin-berganti.html' title='Laut Banda Ketika Hari Ingin Berganti'/><author><name>ichal_bandot</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03820352006467403448</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-9Yemwtyjs8A/TjDxzZnS5hI/AAAAAAAAAJk/W1PKrp7NJZQ/s220/richard%2Bn%2Bthe%2BGilis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5139741108899141277.post-8488015460483833619</id><published>2011-04-29T07:54:00.001-07:00</published><updated>2011-04-29T07:54:33.070-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='POETRY'/><title type='text'>ketika peluh menetes di tanah tinggi</title><content type='html'>Berat beban di pundakku&lt;br /&gt;Kejang kakiku melawan arus&lt;br /&gt;Jauh melangkah sisakan keringat perjuangan&lt;br /&gt;Kering kerontang tenggorokanku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bermain-main dengan nyali&lt;br /&gt;Tak terasa sudah diluar hati nurani&lt;br /&gt;Biarkan terbakar menjadi debu&lt;br /&gt;Biarkan mengalir terbawa arus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkedip-kedip tersentuh peluh menetes&lt;br /&gt;Terus menatap jalur setapak di bawah pandangan&lt;br /&gt;Kami datang bukan hanya menapak&lt;br /&gt;Tapi membawa pulang berjuta kenangan&lt;br /&gt;Serta berjabat tangan dengan hijau alamMu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E.103, 23.03 WIT, 04 MARET 2011, WAE SAMATA,&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5139741108899141277-8488015460483833619?l=tambuks.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tambuks.blogspot.com/feeds/8488015460483833619/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tambuks.blogspot.com/2011/04/ketika-peluh-menetes-di-tanah-tinggi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5139741108899141277/posts/default/8488015460483833619'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5139741108899141277/posts/default/8488015460483833619'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tambuks.blogspot.com/2011/04/ketika-peluh-menetes-di-tanah-tinggi.html' title='ketika peluh menetes di tanah tinggi'/><author><name>ichal_bandot</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03820352006467403448</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-9Yemwtyjs8A/TjDxzZnS5hI/AAAAAAAAAJk/W1PKrp7NJZQ/s220/richard%2Bn%2Bthe%2BGilis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5139741108899141277.post-8862371953909612784</id><published>2011-03-24T07:33:00.000-07:00</published><updated>2011-03-24T09:03:23.976-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ADVENTURE'/><title type='text'>sekilas ekspedisi manise 2011 ukm pa edelweis fib-uh</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;“ segala yang terjadi di bawah kolong langit, adalah urusan setiap manusia yang berfikir” ucap penulis ulung yang kini sudah kembali ke pangkuan ilahi, Pramoedya Ananta Toer. Jadi, selama masih ada disini, maka kurasa tak  ada yang menjadi tembok penghalang untuk terus berjuang membangun kembali puing-puing kejayaan dari ruang kecil bertuliskan “ukm pecinta alam Edelweis Fib-Uh. Dari sini kami melangkah, disini pula kami diterpa ribuan bebatuan kerikil yang sedikit demi sedikit  ingin merobohkan kekuatan. Jiwa persaudaraan terasa sedikit goyah, lantas dengan sigap kembali terikat dengan semangat juang yang tak pernah padam. Semoga semboyan dan sumpah anggota yang pernah kuucap, tidak luntur ditelan waktu dan tertiup badai berlalu. Sebagai bagian dari keluarga kecil ini, sebuah kewajiban yang kian menjadi tanggungjawab untuk selalu ada berjalan bersama dengan rekan-rekan seperjuangan yang punya status sama. Jangankan dalam roda organisasi, tapi juga mencakup semua aspek yang tercantum sebagai bentuk kesepakatan kami dalam musyawarah tertinggi dari organ kecil ini.&lt;br /&gt;Ketika bunga abadi kami benar-benar tertabrak karang, satu persatu mulai kami persatukan. Memulai babak baru yang berorientasikan petualangan dan penelitian sebagai wujud keberadaan kami sebagai mahasiswa pecinta alam. Sebuah ekspedisi yang terencana ingin kami persembahkan untuk segenap  keluarga fakultas, bahkan universitas berjuluk kampus merah ini. Mengawalinya memang bukan hal yang mudah, apalagi untuk saat-saat dimana badai masih terus mengguncang perahu kecil ini. Sempat terseok-seok membahas langkah awal dan bagaimana mentaktisinya, cukup membuat lelah juga pening yang berlebihan. Mulai membahas satu persatu kerangka ekspedisi dan akhirnya terciptalah sebuah nama yang terdengar cukup representatif untuk ekspedisi kali ini. “EKSPEDISI MANISE 2011” dengan tema eksplorasi tanah Maluku dengan bertualang dan berkarya. Berhubung destinasi dari ekspedisi ini adalah Ambon, Pulau Seram Maluku, maka atas dasar itulah kata Manise yang akrab menjadi sapaan tempat ini dipilih sebagai nama kegiatan. Bukan tanpa dasar memilih lokasi ini, tempat yang tidak begitu sering dikunjungi oleh kalangan masyarakat, bahkan jarang terdengar di telinga. Memiliki kearifan lokal yang berbeda, adat istiadat yang sedikit ganjil dan menyembunyikan beragam keindahan yang tak dimiliki oleh semua pulau yang ada di nusantara Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;Pulau ini terbilang cukup jauh dari kota Makassar, dan begitu pula data yang terkumpul terlalu minim untuk melakukan perjalanan mencapai lokasi yang menjadi bagian dari rute, puncak Binaiya. Sebuah gunung yang menjulang tinggi di Pulau Seram, Maluku Tengah dengan ketinggian sekitar 3027 mdpl. Berdiri megah menantang di atas hamparan salah satu desa berjuluk Kanikeh, kaki gunung ini. Sebuah desa yang sarat akan budaya dan adat istiadat maupun kebiasaan yang kesannya sangat unik bagi kalangan yang tidak tahu menahu persoalan mereka. Menurut cerita dan berbagai informasi yang sempat kami dapatkan, terdapat beberapa hal yang patut untuk diketahui mengenai peradaban serta adat istiadat dari penduduk desa ini. Nah, karena itu kami sangat tertarik untuk sedikit melakukan pengamatan terhadap apa yang menjadi tanda tanya bagi kami tentang mereka. Sedikit ingin berkarya dengan tulisan agar apa yang kami dapatkan disana bisa menjadi bahan cerita serta pengetahuan baru bagi teman-teman di ruang lingkup sastra dan seisinya. Barangkali tidak sesempurna apa yang dilakukan oleh mereka yang lebih professional dalam berkarya, setidaknya ada yang akan menjadi kebanggaan bahwa kami juga bisa memperkenalkan budaya anak bangsa dengan tulisan tangan sendiri nantinya. Itulah salah satu misi yang menjadi target penting dalam ekspedisi ini. Usaha maksimal sudah mulai gencar dilaksanakan, materi-materi tentang kepenulisan dan dokumentasi yang akan mendukung validnya data sudah dipelajari. Begitu pula dengan penguasaan teknik berpetualang yang kian diperdalam sebagai bentuk persiapan matang menjajali tanah Ambon Manise. Semua agar kami tak kewalahan mengatasi kemungkinan terburuk yang barangkali dan mungkin saja akan menghambat pencapaian ekspedisi ini. Fisik dan mental prima kami bangun baik secara pribadi maupun berkelompok. Menangani masalah yang ada dengan manajemen yang terarah dan sesuai prosedur. Walaupun apa yang tertuang disini tidak semua berjalan semestinya, perlu saya tekankan bahwa usaha kami tidak sampai disini….&lt;br /&gt;Mewujudkan peribadi yang tangguh akan hambatan coba kami bangun semaksimal mungkin. Persoalan yang kian menjadi faktor utama penghambat langkah awal bersumber dari pendanaan yang sangat tidak mendukung. Dengan estimasi yang telah tersusun rapi untuk segala hal, benda bernama uang dan lebih pantas disebut “dewa” selalu saja berontak tidak mau mengerti dengan kondisi. Sampai saat menjelang waktu pemberangkatan pun kami masih tersengal-sengal mengejar ketertinggalan. Terlalu besar dan jauh lebih besar dari kegiatan lainnya yang biasa kami selenggarakan. Dengan beberapa potong proposal yang disusun rapi sesuai konsep, kami menyebar mencari dimanakah nanti ada celah yang ingin berbagi dengan kami. Instansi baik pemerintah maupun swasta dijejaki dengan proposal yang sama. Semoga mereka mau mengerti dan tahu tujuan kami. Usaha mandiri kami lakukan, cukup untuk menghasilkan dana tambahan walau tidak mencapai target semestinya. Berusaha dan berusaha… terus berusaha! Kupikir ada yang indah nantinya ketika sebuah perjuangan terasa berat dan melelahkan, persis seperti mendaki gunung yang terbayar dengan indahnya alam dari ketinggian. Lelah pergi satu persatu berganti semangat baru dan senyum lebar tanda puas dan kebanggaan.&lt;br /&gt;Lima bulan bukan waktu yang cukup untuk persiapan sebuah ekspedisi. Waktu yang terkesan sempit ini memaksa kami untuk berfikir ekstra menyelesaikan pekerjaan rumah yang belum tuntas. Seperti dikejar waktu, terkadang manajemen amburadul dan terjadi crossing job, hal biasa dalam organisasi tapi tidak dalam ekspedisi. Entah berapa lembar kesalahan teknis yang dapat dibukukan jika harus dicatat satu persatu. Belajar bertanggungjawab dan disiplin diri, menjadi patokan utama sebuah ekspedisi. Ketika tak ada yang mampu diterapkan, maka tak ada pula arti dari semua susah payah ini. Memang makan hati, tapi sangat berarti. Tingkatan pendidikan tertinggi dalam regulasi dunia kepencintaalaman, seperti termaktub dalam kitab kurikulum rumah kecil edelweiss, bahkan semua organ pencinta alam. “edelweiss punya anggota, edelweiss punya cita-cita”……tak ada lagi unek-unek yang bisa dilontarkan untuk menanggapinya, hanya tekad dan semangat yang akan kembali mewujudkan dan merealisasikan sepenggal kalimat yang tertera pada sampul buku tebal identitas anggota. Cukup membuat hati tergerak untuk memegang erat panji kehormatan singkat itu, meski hanya sebaris saja.&lt;br /&gt;Tak dapat kami pungkiri bahwa pondasi kokoh ekspedisi ini sempat retak karena beberapa personel yang tidak aktif memberikan sumbangsih tenaga maupun fikiran. Mentaktisi hal itu, upaya dilakukan dengan sedikit perbincangan dalam rapat rutin mengenai perkembangannya. Tak ada jalan lain lagi selain tetap melanjutkan perjalanan panjang ini, walau hanya dengan yang tersisa saja. Tekad semangat yang sudah bulat sekali lagi tidak menyurutkan niat menjejakkan kaki di pelataran tertinggi tanah Ambon Manise nun jauh di sebelah timur Indonesia. Rela tidak duduk mendengarkan sang dosen berceramah panjang, hanya untuk setumpuk pengalaman dan pembelajaran yang tidak semua orang pernah merasakan betapa hebatnya petualangan. Begitu indah dan semarak untuk dikenang, bahkan membawa pulang segudang cerita yang membuat mereka pada tak sabar menanti kelanjutannya, ibarat sinetron saat aku minta izin buang air kecil. ….. bersambung. Berlari memutari pelataran kampus merah bukan rute yang pendek untuk dilalui. Namun rute inilah yang menjadi santapan kami di sore hari agar fisik tetap terjaga dan semakin membentuk lekukan pada betis. Sangat melelahkan, peluh berhamburan di sekujur tubuh dan membuat tubuh terasa lemas di malam hari, tapi sangat bugar di pagi hari jika tidak begadang. Tiga kali dalam seminggu selama kurang lebih empat bulan, barangkali cukup membuat fisik kami tergenjot dan rasanya sudah layak untuk dibawa melintasi belantara menuju puncak Binaiya. Apalagi sering pula disertai dengan latihan berpola  sehabis jogging, seperti push up, sit up dan back up, bahkan tidak jarang dilanjutkan dengan pull up dan bouldering bagi yang menyukainya. Seperti itulah gambaran singkat semaraknya perjuangan teman-teman yang masih punya tekad untuk berekspedisi. Sementara di lain tempat dan waktu, ada pepatah yang tercipta “ekspedisi adalah hidup itu sendiri”. Walau rasanya sulit dimengerti, kami percaya bahwa itu benar dan kami ada  untuk ekspedisi ini. Selalu berdiri tegak dengan semangat yang berapi-api. Tampak seperti sang puteri bunga abadi edelweis. &lt;br /&gt;Pemberangkatan semakin dekat dan semakin terasa dikejar-kejar waktu akibat persiapan yang masih menyisakan persoalan. Ekspektasi yang menjadi target benar-benar kewalahan dipenuhi. Langkah taktis dan saran yang bertubi-tubi terus dicari. Sedikit bisa mengatasi beberapa persoalan yang masih bersikeras. Kesannya seperti bermain water tower pada permainan out ward Bond. Terus-terusan mencari lubang dan menutupnya walau masih ada air yang terus mengucur pada lubang lainnya. Hebat dan sangat menantang mental anak muda. Bagi yang tak punya kekuatan mental prima sudah pasti akan rubuh tercekik problema yang terus menusuk sampai membuat panas kepala ini. Urusan-urusan lain yang menjadi kebiasaan di kampus terabaikan sedikit demi sedikit, akibat waktu dan tenaga yang berpihak pada satu sisi.. EKSPEDISI MANISE.  Tak bisa dipungkiri kalau memang makan hati terus-terusan terjadi bahkan sempat menyisakan konflik antar personel ekspedisi. Tapi tidaklah berlanjut sampai pada jenjang yang lebih jauh.&lt;br /&gt;Sekian lama bergelut dalam hal persiapan, tersisa beberapa hari lagi kami akan berangkat menuju tanah Ambon. Tiga hari telah kami gunakan untuk bersimulasi seadanya. Mungkin belum mencapai tahap yang persis sama dengan jalur pendakian binaiya, tapi ada sedikit penyegaran untuk penguasaan materi yang mengisi kepala ini. Rapat kembali digelar pada minus enam hari pelepasan, membahas segala hal yang masih harus diselesaikan termasuk persoalan yang terkecil sekalipun. Seketika semangat terasa  berkobar-kobar  mendengar kata memuncak terlontar dari kalimat yang terucap.  Rasanya tak ada lagi keraguan untuk membawa nama keluarga kecil ini ke atas sana. Mengibarkan bendera kecil kami di bawah panji-panji kekuasaan ilahi di tanah yang tinggi. Tersenyum dan kepakkan sayap-sayap yang telah letih berjuang melawan hujan kerikil kemarin. Menatap sang alam terbentang luas di bawah puncak Binaiya , dan meraih asa yang akan kami bawa pulang untuk sebuah persembahan sederhana berupa karya-karya petualangan. Biar tak segampang berkata, keyakinan sudah bermukim dalam dada kalau beberapa waktu lagi, segelintir anak muda berlatar sastra akan tersenyum puas di balik kabut petang di pelataran tertinggi Pulau Maluku. Semoga tidak hanya sebatas wacana yang terus menjadi bualan saja.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada hal yang paling mendebarkan selain hari pelepasan yang sudah tiba. Rasanya, detak jantung kian melaju entah karena apa. Padahal, tantangan masih jauh di depan mata. Masih sekedar khayalan dan ilusinasi belaka. Gambaran sebuah lingkaran manusia terpampang jelas sambil menanti kedatangan sang Pembantu Dekan Tiga fakultas Ilmu Budaya-UH. Semua sibuk dengan pertanyaan masing-masing, sampai kami jenuh menjawab pertanyaan yang sama terlontar dari mulut yang berbeda. Melelahkan dan membosankan mendengar celoteh mereka yang ingin mengikuti upacara pelepasan. Ribut dan tak mau berhenti menanyakan apa saja, seolah-olah juga menjadi bagian dari tim dan akan menyusul beberapa hari lagi. Sudahlah! Mulai saja upacaranya. &lt;br /&gt;24 Februari 2011&lt;br /&gt;Bukan lagi sebuah cerita, tapi benar-benar realita bahwa kami sudah di ambang pintu menuju tanah Maluku. Carrier barbaris di depan pemiliknya, lantas berpose dengan latar banner megah bertuliskan nama tanah itu. Kemeja krem melengkapi tubuh personel ekspedisi yang sudah siap dengan resiko di depan. Tak ada beban lagi yang harus bersarang di kepala, hanya satu tujuan dengan tekad yang sama. Jalan masih jauh, dan kami harus mengucapkan selamat tinggal buat kota dan teman. Di pelataran pelabuhan , kami berkumpul bersama menikmati malam menunggu klakson tanda berangkat bergema dari corong dek teratas kapal itu. Kapal yang dipenuhi lampu-lampu kecil di sekeliling, ibarat ingin menghibur siapa saja yang ditinggal pergi oleh penumpang kapal.  &lt;br /&gt;24 maret 2011……&lt;br /&gt;Sirine panjang bergema tiga kali di pelabuhan Makassar, petanda bahwa kapal akan segera meninggalkan laut Makassar menuju Ambok Maluku. Kami kini sudah berada pada titik awal menuju pencapaian ekspektasi dari EKSPEDISI MANISE. KM Gunung Dempo tertera pada dek teratas, disinari terang cahaya lampu kuning membuatnya terlihat megah besar di depan mata. Orang-orang berbaris di pinggiran dek, melihat-lihat awak yang sibuk menarik sauh dan sebagian pula menikmati menikmati cahaya metropolitan Makassar yang kian menjauh. Deru mesin menggetarkan kaki yang menapak pada dasar kelas ekonomi. Ada ragam suku dengan gaya khasnya. Masing-masing berkumpul dengan sesamanya sambil sesekali  menyapa yang lain dengan senyuman. Kali ini, domunan prawakan Indonesia Timur yang terlihat, karena memang tujuan benda terapung ini adalah kawasan timur dari nusantara sampai di Sorong Papua. Katanya, kapal ini baru dua tahun beroperasi. Pantas saja fasilitas di dalam kelihatan masih baik-baik saja. Jauh berbeda dengan kapal-kapal yang lain. Sebuah keberuntungan bagi kami yang kebetulan berada pada dek kelas ekonomi. Cukup nyaman melabuhkan tubuh dan carrier besar pada kasur yang masih empuk terlihat. &lt;br /&gt;Terayun-ayun dalam dek pening rasanya terkadang ingin muntah. Belum lagi di sekeliling ada ragam model yang sulit ditebak, apakah menggoda atau sebaliknya. Dugaanku, barangkali sedikit menggoda tapi terasa memuakkan. Norak dan berlebihan. Bukan tak senang melihat keadaan, tapi sekedar ingin menuangkannya dalam bait kalimat. Musik terdengar dimana-mana, riuh karena beragam genre yang terdengar. Cukup membuat pening bertambah parah jadinya. Masih dengan kostum tadi malam, kami berbaris menyandarkan punggung pada carrier. Masing-masing terlarut dengan aktivitasnya dan ditonton orang-orang yang sedikit heran melihat packingan yang besar dan aneh. Hanya sedikit yang tahu bahwa kami sedang dalam perjalanan untuk mendaki gunung. Perasaan bercampur aduk, dingin dan lapar. Tak ada makanan yang disiapkan pihak kapal. tertera jelas di bagian belakang tiket dengan stempel resmi dari PT PELNI. Untung saja ada sedikit persiapan untuk mengganjal perut yang keroncongan. Selebihnya kami harus merogoh kocek sendiri untuk mengalas perut. Menghabiskan waktu dengan menikmati angin laut di anjungan sambil meneguk kopi hangat dari café kecil milik besi terapung ini. Sesekali mengabadikannya dengan kamera mungil sebagai dokumentasi perjalanan EKSPEDISI MANISE. Selama kurang lebih tiga puluh lima jam aktivitas itu berputar-putar. Ke atas dan ke bawah, tidur dan bercerita. Sedikit monoton tapi kami tetap menikmati perjalanan ini. Malam terakhir di kapal ini kami habiskan dengan berbibcang-bincang kecil di dek tujuh. Celakanya, café sudah tidak buka lagi dan hanya ada beberapa gelas sisa yang masih setia melawan angin laut banda. Jadilah kami harus memesan kopi dengan harga yang tidak wajar dari dek bawah, sebuah kantin kecil yang lumayan lengkap. Satu persatu orang-orang yang sedari tadi asyik bermain domino mulai meninggalkan dek tujuh. Begitu pula beberapa pria paruh baya yang ceritanya selalu tentang bisnis, melangkah perlahan tanpa pamit pada kami menuju ruangan masing-masing. Lampu tepat di atas kepalaku, menerangi notebook cokelat yang baru kubeli sebelum berangkat. Makin jelas garis-garis biru pada lembarannya, menanti goresan-goresan tanganku malam ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;26 februari 2011&lt;br /&gt;Pagi cerah diterobos kapal besar ini dengan kecepatan entah berapa knot. Terlihat dari jendela bundar, percikan gelombang air asin berbuih putih meriak di belah besi. Kami tiba di pelabuhan Yos Soedarso pukul 10.00  WIT. Tampak kesibukan pelabuhan ini sama dengan pelabuhan-pelabuhan yang lain pada umumnya. Dari tempat pertama menginjakkan kaki di pulau Ambon, kami menuju Universitas Pattimura dijemput teman dari MATEPALA UNPATTI yang memang sudah dikoordinasikan sebelumnya. Angkutan umum menjadi pilihan kami menuju Poka, seberang teluk Bakuala tempat dimana UNPATTI berdiri megah berjejer dengan beberapa fakultasnya. Carrier diatur sedemikian rupa dan kami dibawa mengelilingi pesisir pantai berputar mengelilingi teluk itu. Sampai di UNPATTI, tepatnya di fakultas teknik, secretariat MAPALA UNPATTI aku dan ketua ekspedisi, TOM, harus kembali lagi ke Kota Ambon mengurusi segala administrasi di kepolisian dan proposal untuk Gubernur Maluku. Sementara teman yang lain, fuad, Reski dan Uun mulai mengakrabkan diri dengan teman-teman MATEPALA. Panas membakar wajah ketika kami harus melewati pelataran kota, gong perdamaian dunia dan patung pattimura. Rasanya menggila dan keringat mengucur deras. Tak peduli dengan keadaan, aku dan Tom terus berjalan menyelesaikan semua yang masih tersisa. Sejenak pula kami berteduh di bawah rumah makan kecil mengisi perut yang baru mendapat asupan sejak malam tadi. Selesai makan, kami kembali harus menyebrangi teluk Bakuala menuju UNPATTI. Tapi kali ini, kami memilih menggunakan jasa perahu katinting, istilah yang dipakai di Ssulawesi untuk perahu seperti itu.&lt;br /&gt;Jelang malam, kami istirahat tanpa  banyak beraktivitas. Tapi, sebagai pimpinan operasi aku masih dalam bingung soal kepastian dana yang dibutuhkan. Kami melakukan evalusai singkat membahas persoalan itu. Belum habis masalah finansial, muncul pula masalah baru tentang waktu. Manajemen mulai sedikit amburadul, padahal scenario sudah tertata rapi sebelum samapai di tempat ini. Kesepakatan kian berubah menjadi perbincangan baru yang a lot dan menyisakan problema yang menggantung. Sedikit banyak akibat informasi baru yang kami dapatkan tentang biaya yang digunakan untuk memasuki wilayah pedalaman pulau seram. Antisipasi dan perkiraan berbenturan keras. Finansial yang kami siapkan sangat kontra dengan informasi baru itu. Kemudian muncul pula dilemma yang tiba-tiba btentang siapa yang harus mnyertai tim kami melewati jalur menuju kaki Binaiya. Kaki gunung yang dihuni oleh masyarakat yang kian tercemar dengan pemikiran tidak sesuai dengan semestinya. Tempat itu seakan-akan menjadi momok menakutkan bagi kalangan Mahasiswa pencinta Alam yang keterbatasan finansial. Untuk mendaki gunung Binaiya, sebuah tim harus menyiapkan dana yang jumlahnya tidak sedikit. Katanya untuk kepentingan desa, dan itu sangat bertentangan dengan pemikiran dan persiapan kami. Kaki gunung Binaiya  berdiri di Desa Kanikeh yang kini menjadi loket pembayaran “tiket” mendaki gunung Binaiya. Kesannya terlalu mengada-ngada dan sangat tidak rasional. Para pendaki harus merogoh kocek dalam-dalam hanya untuk menginap dan menandatangani buku tamu sebagai wujud aktulisasinya.  Harga yang setara dengan hotel metropolitan untuk semalam dan tentunya tidak dilengkapi apa-apa, hanya segulung tikar dan ruangan sempit. Soal itu bukanlah masalah bagi kami, tapi dalam hal ini bukan lagi nilai petualangan yang terbit, melainkan kekecewaan yang meluap mengapa otak mereka harus dicemari dengan rupiah. Untuk instansi dan kelompok yang sempat menghamburkan uang pada kaum terbelakang ini demi mendapatkan nilai budayanya, kami haturkan maaf sebesar-besarnya bahwa cara itu tidaklah benar. Bukan mengintimidasi atau menyalahkan, tapi kami tak ingin kalau sampai setiap penduduk kaki gunung sudah menganggap bahwa pendaki gunung sumber pendapatannya. Karena kurangnya perhatian, jadilah Mahasiswa Pencinta Alam yang terjebak dalam aksi liput-meliput ini. Para petani dan pemburu yang dulunya selalu menyapa dengan senyum lembut kini diteror menjadi monster penghisap rupiah. Tak perlu diungkap terlalu jelas, tapi yang perlu diperhatikan adalah jika ingin berpetualang jangan sisakan kesulitan bagi petualang berikutnya! &lt;br /&gt;Dari hari ke hari, kami terlunta-lunta tak jelas ke arah mana fikiran melayang. Dilema benar-benar memuncak dan menjadi bagian dari perjalanan ini. Hal-hal kecil yang notabene tidak akan menjadi penghalang justru menjadi bebatuan karang yang sulit terpecahkan. Tak ingin terus-terusan terdampar, kami mencoba mentaktisi dengan segala cara. Mengalir mencari celah menembus batas sampai tujuan bak air di kali kecil. Filosofi sederhana ini bangkitkan semangat kami yang sempat babak belur dihimpit cerita-cerita teman-teman yang kebetulan lebih dulu menjejaki wilayah Seram. Psikologis tiba-tiba terkuras habis. Kering kerontang membuat kelam kabut mengatasi adrenalin yang terpacu cepat sekali. Walau sempat dibelenggu persoalan pelik dan alot beberapa hari, sekuat tenaga kami mencoba untuk saling menguatkan dan menetralisir “racun-racun” yang membebani fikiran. Ditambah dorongan semangat dari teman-teman Mahasiswa Pencinta Alam di Ambon, semangatku bersama empat rekan seperjuanganku tergenjot dan kembali menyalakan api perjuangan.&lt;br /&gt;01 maret 2011&lt;br /&gt;Setelah melalui proses yang cukup menguras otak, kami  memutuskan untuk tetap melangkah dan mengangkat kaki walau harus dengan modal yang tak sampai. Melangkah maju dan tetap bijak mengambil tindakan dan solusi terbaik. Bermodalkan finansial yang memprihatinkan, tim EKSPEDISI MANISE berangkat ke Pulau Seram. Kami ditemani oleh dua organ Pencinta alam, MATEPALA UNPATTI dan MAHIPALA IAIN AMBON. Totalnya ada empat orang ditambah pula dua penduduk local asal Seram Utara yang juga menjadi satu-satunya harapan kami untuk bisa mengatasi masalah di kaki gunung terkait finansial. Saat itu kami sangat yakin bisa berdiri di puncak singgahsana Binaiya yang mistis ini. Menuju Pulau seram, kami kembali harus menyebrangi lautan dengan ferri di pelabuhan Liang menuju pelabuhan Wai Pirit. Di situ pula kami dihibur pesona indahnya pantai Ambon saat berdiri di anjungan ferri. Pantas saja disebut Ambon Manise. Malam tiba dan menjemput kami di pelabuhan wai Pirit. Dari situ, kami masih harus menempuh perjalanan setengah hari menuju Halte Huahulu, garis start menapaki belantara Seram. &lt;br /&gt;03 maret 2011&lt;br /&gt;Pagi itu, sesuai dengan perencanaan kami bertemu dengan penduduk local yang akan menemani. Waktu itu, kami disuguhkan daging rusa dari rumah mereka. Mungkin hasil buruan beberapa hari yang lalu. Cukup menjadi sumber tenaga di pagi hari untuk mencapai target dua desa yang menjadi gerbang jalur utara Gunung Binaiya. Jauh, berat, berlumpur, letih, pegal dan lain-lain. Itu yang kami rasakan pada hari perdana menjejali hutan tropis Pulau Seram yang lebat belum terjamah. Hutannya memang lebat dan pantas disebut belantara. Menyusuri sungai yang luas dan bercabang-cabang membuat nyali tertarik ulur memperpecepat denyut jantung. Belm lagi jalur yang sudah agak buram dan sedikit luput dari ingatan sang pemandu kami. Basah menggerayangi kaki sampai di pinggang. Sedikit membuat tidak nyaman untuk tetap melanjutkan perjalanan ini. Jelang maghrib, saat tenaga sudah tinggal secuil, kami tetap melangkah perlahan mencari tempat yang cocok mendirikan tenda, wai samata. Malam tiba dan kami disibukkan dengan urusan tenda dan makan malam, sambil di terpa hujan yang tidak terlalu deras. Akhirnya bisa beristirhat juga di tempat ini setelah seharian berjalan dan melewati dua desa yang dihuni masyarakat asli Seram Utara. Mereka berperawakan hitam dengan rambut keriting, sedikit agak menyeramkan karena saat bertemu jarang yang berkenan untuk senyum menyapa. Hanya menatap tajam dan sesekali mengangguk tanda memberi izin untuk kami lewat.  Semua wajah  yang sempat kami sapa, hanya tunduk dan menatap bengong layaknya orang yang keheranan. Ada juga yang hanya menatap diam tanpa ekspresi. Sangat aneh rasanya berjalan sambil diperhatikan mereka. Gigi mereka hitam akibat sirih yang sudah menjadi candu bagi mereka. &lt;br /&gt;Malam itu, setelah selesai menikmati makan malam, kami melingkar di atas tanah yang becek. Hanya bisa berjongkok di depan lilin besar berwarna merah sebagai penerangan kami. kami mencoba untuk menyatukan persepsi dan pendapat dengan semua yang ikut dalam perjalanan ini. Sesuai perencanaan awal tentang kenekatan kami berangkat tanpa memenuhi persyaratan finansial di kaki gunung, kami rembukkan bersama. Mencari solusi dan mengatur strategi jitu agar bisa lolos dari perundingan dengan sang bapak saniri ( petinggi desa ). Setelah semua sudah satu arah pandang dan saling mengerti posisi, masing-masing kembali ke dalam tenda dan istiahat.&lt;br /&gt;04 maret 2011&lt;br /&gt;Dari wai Samata, tim kembali menempuh medan yang lebih parah lagi. Kami berangkat pagi dengan alasan bisa mencapai Desa Kanikeh lebih cepat. Kalau kemaren medan panjang dan datar, kali ini, berubah menjadi trekking berat melelahkan. Tersengal-sengal nafas kami dan terkadang diiringi keluh kesah dalam batin kecil. Jauh tak kunjung tiba. Terkadang harus jatuh tenggelam dalam lumpur sampai sepatu hilang dari pandangan. Desa kanikeh menjadi terlalu indah pada waktu itu, sangat dirindukan karena jauhnya yang melebihi target. Ingin cepat-cepat direngkuh sejuk desa itu, damai dan terlelap dalam pelukannya. Beberapa bukit dijajali, banyak sungai di seberangi, jutaan pohon besar dan kecil menatap langkah-langkah itu dan hanya diam dengan sambutan hangatnya. Telapak membekas dan sisakan penat di kaki, lumpur merengek-rengek ingin menempel sejauh manapun, menambah beban yang sedari tadi mulai menjengkelkan.&lt;br /&gt;Sekitar pukul lima sore itu, kami memasuki desa Kanikeh. Tampak pula binaiya yang menjadi latar belakang desa itu. Megah berdiri manantang, membuat semangat menyala-nyala ingin berdiri di atas sana. Kami beristirahat di rumah bapak saniri negeri malam itu. Suasananya agak tegang karena kami harus melewati malam dengan perdebatan yang alot. Dua teman yang memang masih berdarah lokal Kanikeh menurut marganya mencoba bernegosiasi secara persuasif. Semua hanya diam dan hanya mendengar apa yang mereka perdebatkan sambil dalam hati berdoa semoga hati petinggi desa ini luluh dan mau memberi izin pada kami memuncak di Binaiya tanpa biaya yang besar seperti yang baru saja gempar di kalangan Pecinta Alam Ambon. Jumlah yang luar biasa bagi kami yang tidak biasa dengan  hal seperti itu. Tak pernah kami dapatkan permintaan yang melewati batas, bahkan memang tidak ada biaya sedikit pun kecuali biaya pendakian. Alhasil, sekian jam berdebat dengan beberapa petua adat kampung, mereka menemui titik terang. Harga disepakati dan mulailah babak baru perbincangan mereka. Bukan lagi berkutat pada uang dan uang, tapi beralih pada keluhan-keluhan dari mereka yang merasa dianaktirikan oleh pemerintah. Hal seperti ini sudah biasa bagi kami kalangan mahasiswa. Kaum pedalaman memang sering berbagi keluh kesah mereka soal perhatian pemerintah. Kapan pemerintah bisa tahu keadaan rakyatnya sendiri jika hanya berputar-putar di metropolitan menghadiri acara silih berganti mengundangnya sebagai yang terhormat. Hati terasa tersentuh kala orang-orang yang jauh dari akses ini mengadu dan sepertinya salah tempat. Kami hanya bisa sebatas mendengar dan mengiyakan. Semoga saja ada yang berubah dari negeri ini agar rakyatnya tidak selalu berkeluh kesah tentang penderitaannya. Biar nusantara tahu bahwa di negeri ini yang ada bukan hanya kaum kota metropolitan yang sarat akan modernisasi dan gengsi, tapi masih banyak kaum yang belum mendapatkan apa yang selayaknya.&lt;br /&gt;05 maret 2011&lt;br /&gt;Pagi hari, rumah yang menjadi tempat menginap kami menjadi ramai. Banyak warga kampung yang dating untuk menyaksikan upacara adat dan kesibukan kami sebelum mendaki Gunung Binaiya. Saat petua adat sudah tiba, sehelai kain merah dan sepiring sirih dan kapur disiapkan istri bapak saniri. Tokoh adat yang sudah berumur itulah yang melepas kami menuju puncak binaiya. Kami melingkar di bawah kain yang tergantung di atas. Sementara piring berisi sirih dan pinang diletakkan di tengah lingkaran kami. petua adat memegangi kain merah dan mulai berteriak-teriak denga bahasa yang sedikit pun tidak kami mengerti apa yang diucapnya. Katanya, dia sedang memanggil roh leluhur mereka untuk dimintai perlindungan agar perjalanan kami kelak bisa selamat tanpa marabahaya yang mengancam keselamatan. Setelah meracau beberapa menit, kain merah dilepas lalu diletakkannya kain itu di atas kepala kami satu persatu. Di tekan sembari mengucapkan sesuatu, dan masih tak kami mengerti apa yang keluar dari mulutnya itu. Kami hanya terhenyak dan melongo. Pinang yang ada di piring di kunyahnya. Celakanya, kami juga diharuskan untuk mencicipi pahitnya sirih dan pinang itu. Raut wajah serta merta mengerut saat benda itu menyentuh lidah, sangat pahit dan rasanya jelek.  Katanya itu untuk keselamatan kami disana. Kami mengangguk apa saja yang diucapakannya. Jam Sembilan pagi itu, guide yang kami sewa mulai melangkah cepat. Sulit terkejar dan kami setengah mati mendapatkan jejaknya. Begitu seterusnya sampai pada sore hari di camp – 1, Wai Huhu. Dia hanya meninggalkan jejak dan kami mengikuti dari belakang. Tanpa alas kaki, langkahnya ibarat tidak sedang menjejaki medan menanjak. Sangat cepat dan jeli akan lubang dan lumpur. Kami memaklumi itu karena memang dia terbiasa berjalan cepat dan tenaganya memang sudah bersahabat dengan medan.  Sore itu, kami diguyur hujan. Dingin mulai menusuk dan membuat gemetar tubuh menembus wind breaker di badan. Trekking yang cukup berat sedikit dapat menghilangkan hawa dingin yang merasuk. Jemari mulai berkerut dan kaki terasa kaku, ingin sekali cepat-cepat melangkah dan berganti pakaian di dalam hangatnya tenda. Kami tiba di saat maghrib sudah menjelang, dan malam sudah mulai turun menutupi cahaya terang dari barat. Nikmatnya bersempit-sempit di dalam tenda. Rasa lelah yang tak terbendung kembali mengantar kami melihat mentari esok hari dimana kami harus bertempur kembali. Bertempur dalam summit attack menuju puncak Gunung Binaiya. Hari ini adalah hari yang paling mengisi semangat kami. Raut wajah cerah karena semangat dibalut oleh keletihan yang luar biasa tampak pada wajah tim ekspedisi manise. Kami memang letih dan penat. Letih memikirkan persoalan yang tersisa dan penat merajai tubuh saat mendaki.&lt;br /&gt;06 maret 2011&lt;br /&gt;Selesai sarapan dan packing, kami sejenak menghangatkan tubuh di bawah terik matahari yang kebetulan sangat beruntung bisa menembus vegetasi lebat belantara gunung ini. Setelah merasa enak, kami pun mulai melangkah dengan semangat besar mengingat puncak yang sudah kian dekat dengan telapak kaki. Sampai pada batas vegetasi sekitar satu kilometer menuju puncak, punggungan tertinggi tampak dari balik kabut tebal. Megahnya bangkitkan semangat segera memijak dan menyentuh tanah dinginnya. Vegetasi sudah mulai mengecil, yang tampak kini hanya paku-pakuan dan pohon-pohon palm yang berjejer menghiasi lereng punggungan. Lembahnya tampak terbuka dan tertutup silih berganti, terkadang pesisir pantai di bawah sana terbentang menghibur kelelahan kami. sedikit demi sedikit kami terus melangkah menuju tanah yang lebih tinggi. Semakin dekat tanjakan semakin menggila dan benar-benar menguras tenaga. Medannya yang terbuka membuat angin sangat mudah merubuhkan tubuh yang sudah lemah. Belum lagi medan berpasir yang mengharuskan kami berkonsentrasi memilih pijakan yang benar. Kabut di sisi kiri menutupi lembah dalam yang menganga lebar di punggungan terakhir. Sedikit membuat ciut nyali melangkahkan kaki di lereng itu.&lt;br /&gt;Sekitar pukul 14.00 WIT, aku menengadah menatap awan yang tidak berwarna biru. Aku berdiri pada ketinggian 3027 mdpl Pulau Seram Maluku Utara disusul  empat anggota tim ekspedisi manise 2011 dan tim pendukung. Hari ini, 06 maret 2011 UKM PA EDELWEIS FIB-UH memuncak di batas vertical Pulau Maluku. Wai Puku, istilah yang sedari dulu melekat pada puncak Binaiya karena disitu ada genangan air abadi menurut guide kami. Ada pula yang berkata air itu adalah sisa air asin saat masih tenggelam di zaman sebelum zaman es. Tapi, entah mana yang benar yang jelas bentuknya persis seperti danau kecil yang menjadi sumber air di puncak ini. Angin menghantam kami pada waktu itu, hujan tiba-tiba mengetuk-ngetuk flysheet yang sudah dibentang. Baru reda setelah kami selesai makan siang, dan kami mengambil waktu itu untuk berpose dan mengabadikan momen-momen puncak yang membuat senyum terukir indah. Banner kami bentang bersama. Sedikit sulit karena angin yang terlalu kencang. Dibantu oleh tim pendukung dari MAPALA Ambon, momen itu diabadikan dalam potret dan video durasi singkat sebagai wujud dokumentasi kami. Atribut organ melekat di tubuh sementara bendera kuning UKM PA EDELWEIS FIB-UH berkibar dalam genggam tangan-tangan kami. semua tersenyum seperti tak pernah ada susah untuk bisa menapak disini. Dingin yang keterlaluan membuat kami tak bisa berlama-lama. Kami kembali harus turun ke samping danau kecil Wai Puku dan membalut tubuh dengan sleeping bag. Nikmati malam di puncak ini bagiku punya nilai tersendiri bagi peribadi yang merasakannya.. Anginnya penuh arti dan hawa sejuk menusuk sampai ke hati seraya mengajak jemari menghasilkan karya-karya terindah dalam goresan pena…. Perjalanan ini belum berakhir, kawan!&lt;br /&gt;07 maret 2011&lt;br /&gt;` pagi – pagi sekali kami sudah bersiap, memasak dan packing untuk melaju ke kaki gunung. Jarak pendakian yang kami tempuh selama dua hari perjalanan kali ini akan ditekan menjadi sehari karena perjalanan tidaklah sesulit pendakian yang butuh istirahat lebih. Hanya saja, otot-otot yang kemarin sudah terbiasa dengan medan menanjak mulai terasa sakit, menyesuaikan dengan medan baru berupa penurunan curam menuju tempat yang lebih rendah. Paha terasa sakit dan lutut seperti ingin beranjak dari posisi. Kami kembali melalui jalur yang telah dilalui. Beberapa titik masih sempat terekam dalam otak., persis ketika melaluinya beberapa hari yang lalu. Beberapa teman dari tim pendukung sempat tertinggal akibat sakit pada bagian lutut menyiksa membuat langkah menjadi sedikit lamban. Sore menjelang senja menyambut kedatangan kami di Desa kanikeh, tempat dimana kami pernah mencicipi pinang dan sirih yang rasanya menyakitkan. Dari Kanikeh, kami dihibur panorama Binaiya senja kala. Tampak puncaknya diselimuti kabut dan sebagian masih melirik tajam ke segala penjuru. Di rumah yang sama, kami disuguhi singkong rebus atau kasbih dalam bahasa lokal. Ada juga patatas (ubi jalar) yang masih hangat menambah gairah menikmati makanan tradisional ini. &lt;br /&gt;Malam hari, malam hari kami menyempatkan diri menuntut jawaban-jawaban dari sang bapak saniri  melalui pertanyaan-pertanyaan singkat seputar budaya lokal. Mulai dari hal yang jelas kelihatan sampai pada mitos serta legenda yang kesannya terkadang tidak rasional bagi kami. Walau begitu, aku yang terlanjur merasa tertarik dengan cerita mistiknya terus saja bertanya antusias menanti setiap kata yang keluar dari mulutnya. Kucatat rapi dalam notebook kecilku dan akan kujadikan koleksi-koleksi budaya lokal yang sempat kami rekam dalam perjalanan panjang ini. Nantinya akan kami sampaikan pada mereka di luar sana bahwa ternyata masih banyak rahasia tentang budaya tersimpan rapi di balik nusantara Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;08 maret 2011&lt;br /&gt;Sekitar jam setengah sepuluh pagi, tim Ekspedisi Manise mulai berjalan melalui jalur yang sama. Kembali menempuh jarak dengan arah berlawanan menuju titik awal  seminggu yang lalu. Dua hari kami habiskan untuk sampai ke halte Huaulu( titik awal ). Kali ini kami tiba lebih cepat dibandingkan degan waktu tempuh pada saat berangkat. Mungkin karena semangat yang meluap-luap untuk kembali menikmati tiupan angin dari pulau seram saat duduk santai dalam bus. Ingin rasanya cepat-cepat melihat ramainya kota dan menikmati angin pantai pulau Ambon. Terlebih lagi suasana Pulau Sulawesi dan semua yang ada padanya sudah lama ditinggal pergi.&lt;br /&gt;09 maret 2011&lt;br /&gt;Tiba di halte huaulu, (jalan arteri pulau Seram), kami tidak langsung menyeberang ke pulau Ambon. Justru kami berbalik arah menuju ke Seram bagian Utara. Sampai di Desa Wahai yang merupakan kampung halaman dari dua orang tim pendukung, Ua (nama panggilan) dan Aman yang sempat ikut dalam pendakian. Tempatnya di pesisir pantai yang dipenuhi pohon-pohon kelapa menjulang tinggi. Disana, kami menyempatkan diri membenahi peralatan dan pakaian, kemudian kami disuguhi makanan khas Maluku “pappeda”, serta kelapa muda yang terlalu banyak. Mereka dan sanak saudaranya begitu ramah dan sangat peduli dengan keberadaan kami selama di desa bernama Wahai ini. Sore hari, kami dibawa berjalan-jalan  di sekitaran kampung, termasuk sebuah goa yang sangat elok untuk ditelusuri. Disamping itu, banyak juga hal-hal yang kami dapatkan tanpa sengaja di tempat ini. Ternyata, di pantai inilah tempat dimana para marga asli dari masyarakat kaki gunung Binaiya. Jadilah, berbagai cerita tentang sejarah yang dapat kami koleksi sebagai data observasi. Mereka begitu antusias menceritakan asal mula mengapa penduduk pegunungan bisa sampai di pesisir. Hanya sehari kami di tempat ini, tapi cukup banyak yang bisa kami petik dan dikenang. Mereka terlalu banyak memberikan jasa selama perjalanan ekspedisi manise ini. Sampai pada saat kami harus berangkat menuju pulau Ambon, salah satu dari mereka sempat meneteskan air matanya. Kami tak bisa berlama-lama dalam kondisi seperti ini, karena kami adalah petualang yang tak mau mengenal kesedihan. Pertemuan dan perpisahan sudah jadi hal biasa dan hanya patut untuk disimpan baik-baik dalam galeri perjalanan panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11-17 maret 2011&lt;br /&gt;Tim ekspedisi manise tiba di pulau Ambon dan mulai menjadwalkan scenario kunjungan ke tempat-tempat bersejarah dan mengatur rencana pulang menuju Kota Makassar. Semalaman kami istirahat karena lelah yang masih tersisa. Di secretariat MATEPALA UNPATTI, kami mulai membicarakan penetapan waktu pulang dan kondisi anggota tim sampai saat terkini. Kami disambut oleh teman-teman MAPALA yang sibuk menanyakan kondisi dan kesehatan kami. Pada saat seperti ini, aku benar-benar tahu bahwa jiwa petualangan dan kekeluargaan sangat erat antar sesama pecinta alam dan sama sekali tidak boleh dipandang sebelah mata. kami diajak berjalan-jalan menikmati panorama Kota Ambon Manise. Menyambangi gong perdamaian dunia dan patung pattimura. Kami duduk melingkar di pelataran pattimura park dan menyulut sebatang rokok sebelum beranjak pulang. Ditemani seorang teman yang memang sedari dulu sering menemani kami sampai akhir perjalanan ini, beberapa secretariat MAPALA sempat kami kunjungi. Setelah hari dan waktu sudah tiba, tim ekspedisi berangkat menuju Kota Makassar di antar beberapa MAPALA yang sempat eluangkan waktunya pagi itu. &lt;br /&gt;“jauh kami melangkah, banyak pula yang kami dapatkan…..keras badai menerpa, indah pula yang bisa dikenang…… selamat jalan Ambon Manise, Selamat datang di petualangan berikutnya…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E.103.09.L.A.89.FIB-UH, rangkaian catatan ringkas perjalanan eks.manise, G.binaiya, pulau seram Maluku Utara, 24 feb 2011 – 19 maret 2011..&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5139741108899141277-8862371953909612784?l=tambuks.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tambuks.blogspot.com/feeds/8862371953909612784/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tambuks.blogspot.com/2011/03/sekilas-ekspedisi-manise-2011-ukm-pa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5139741108899141277/posts/default/8862371953909612784'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5139741108899141277/posts/default/8862371953909612784'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tambuks.blogspot.com/2011/03/sekilas-ekspedisi-manise-2011-ukm-pa.html' title='sekilas ekspedisi manise 2011 ukm pa edelweis fib-uh'/><author><name>ichal_bandot</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03820352006467403448</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-9Yemwtyjs8A/TjDxzZnS5hI/AAAAAAAAAJk/W1PKrp7NJZQ/s220/richard%2Bn%2Bthe%2BGilis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5139741108899141277.post-6758749275168747081</id><published>2011-02-23T05:56:00.000-08:00</published><updated>2011-03-24T09:07:51.997-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ADVENTURE'/><title type='text'>gunung tertinggi di dunia</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;No Nama         Tinggi  Lokasi&lt;br /&gt;1.  Jammu          8.611 Kasmir&lt;br /&gt;2. Kangchenjunga  8.598 Nepal&lt;br /&gt;3. Dhaulagiri  8.172 Nepal &lt;br /&gt;4. Annapurna  8.078 Nepal &lt;br /&gt;5. Aconcagua  6.960 Amerika selatan&lt;br /&gt;6. Ojos del Salado 6.908 Chili&lt;br /&gt;7. Mac kenley 6.194 Amerika utara&lt;br /&gt;8. Kilimanjaro  6.010 Tanzania, Afrika&lt;br /&gt;9. Logan  5.959 Kanada &lt;br /&gt;10. Elbrus  5.642 Rusia &lt;br /&gt;11. Kirinyaga  5.200 Kenya &lt;br /&gt;12. Jayawijaya 5.030 Papua, Indonesia&lt;br /&gt;13. Vinson Massif 4.879 Antartika&lt;br /&gt;14. Mount blank 4.808 Prancis - Italia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puncak pegunungan tertinggi di dunia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No. Nama        Tinggi   Lokasi&lt;br /&gt;1. Mount everest 8.848 Nepal China&lt;br /&gt;2. Godwin Austin 8.611 Pakistan-China&lt;br /&gt;3. Khangchenjunga 8.603 Nepal – India&lt;br /&gt;4. Lhotse  8.501 Nepal &lt;br /&gt;5. Makalu  8.470 Nepal- china &lt;br /&gt;6. Dhaulagiri 8.172 Nepal &lt;br /&gt;7. Manaslu 8.156 Nepal &lt;br /&gt;8. Cho - Cyu 8.125 Nepal , Pakistan&lt;br /&gt;9. Nanga Parbat  8.125 Nepal &lt;br /&gt;10. Annapurna  8.078 Nepal &lt;br /&gt;11. Mount Mc Kenley 6.194 Amerika Utara&lt;br /&gt;12. Cerro Aconcagua 6.960 Amerika selatan&lt;br /&gt;13. Kilimanjaro  6.010 Tanzania ,Afrika&lt;br /&gt;14. Elbruz  5.642 Russia&lt;br /&gt;15. Vinson Massif 4.879 Antartika &lt;br /&gt;16. Wilhelm  4.509 Papua Nugini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Copyright_ www.E.103.09.L.A.89.FIB-UH.com&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5139741108899141277-6758749275168747081?l=tambuks.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tambuks.blogspot.com/feeds/6758749275168747081/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tambuks.blogspot.com/2011/02/gunung-tertinggi-di-dunia-no-nama.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5139741108899141277/posts/default/6758749275168747081'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5139741108899141277/posts/default/6758749275168747081'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tambuks.blogspot.com/2011/02/gunung-tertinggi-di-dunia-no-nama.html' title='gunung tertinggi di dunia'/><author><name>ichal_bandot</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03820352006467403448</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-9Yemwtyjs8A/TjDxzZnS5hI/AAAAAAAAAJk/W1PKrp7NJZQ/s220/richard%2Bn%2Bthe%2BGilis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5139741108899141277.post-6042128255803561543</id><published>2011-02-04T06:23:00.000-08:00</published><updated>2011-03-25T22:50:55.162-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='GENERAL'/><title type='text'>Temukan "jati diri". saripati dirmu yang sebenarnya</title><content type='html'>Ketergesaan dalam kehidupan modern, yang bergerak serba cepat, seringkali membuat kita melupakan diri sendiri dan kehilangan kendali. Ada banyak cara yang dapat dilakukan untuk membawa kita kembali ke diri sejati. Berikut 10 kekuatan yang dapat mengarahkan kita kembali ke diri sendiri dan menemukan sebuah kedamaian.&lt;br /&gt;1. Hadir&lt;br /&gt;Hiduplah untuk saat ini. Masa lalu telah berlalu. Anda tak akan pernah dapat kembali dan mengulang masa-masa itu lagi, pun Anda tak akan dapat menghidupkan kembali apa yang ada di masa lalu. Kehidupan ini adalah apa yang sedang Anda jalani saat ini, tak peduli apapun yang telah terjadi. Itu semua nyata dan sempurna. Jangan menengok ke belakang ataupun terlalu memikirkan apa yang akan terjadi di masa mendatang. Pikiran kita selalu menciptakan berbagai percakapan yang mengembangkan rasa takut dan membuat kita berusaha menyelamatkan diri. Katakan pada pikiran Anda yang sibuk&lt;br /&gt;berbicara itu: ‘Terima kasih telah bersedia berbagi’ dan yakinkan ‘Aku di sini, aku ada untukmu.’ Setiap hari, kita semua harus selalu membuat pilihan dan Andalah yang paling tahu bagaimana membuat hari yang Anda jalani jadi indah.&lt;br /&gt;2. Bersatu Dengan Alam&lt;br /&gt;Duduklah di rerumputan atau di bawah sebuah pohon. Rasakan putaran bumi, keagungan angkasa raya, dinginnya udara yang menerpa wajah Anda, atau kehangatan sinar matahari pagi. Tersenyumlah pada langit yang luas, ucapkan salam pada lebah yang beterbangan dan semua binatang yang Anda jumpai. Berjalan-jalanlah di taman atau mendaki perbukitan. Kedekatan dengan alam dapat membawa kesadaran betapa Anda bagian dari jagat raya yang maha luas ini.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;3. Berolahrga&lt;br /&gt;Berolahraga secara teratur memberi jeda pada pikiran Anda yang terus berkecamuk, membantu memperlancar peredaran darah, membersihkan racun dari tubuh, dan memberi Anda energi serta banyak keuntungan lain. Pilihlah aktivitas yang memberi Anda kesenangan dan buat perpaduan. Lakukan jalan sehat di satu hari dan latihan Yoga di hari berikutnya. Ikuti latihan erobic dan bertemu banyak orang. Banyak sekali daftar kegiatan yang dapat Anda pilih.&lt;br /&gt;4. Spiritual&lt;br /&gt;Kenali dan sadari Anda adalah pribadi yang penting dan unik. Lakukan meditasi, atau duduk tenang di kesunyian, dan nikmati saat-saat itu. Baca buku-buku keagamaan atau panduan kepribadian yang membawa pesan positif dan membuat Anda merasa kuat. Jangan lupa bersyukur atas kesehatan yang Anda miliki, rumah, orang-orang yang mencintai dan Anda cintai, teman-teman yang mengelilingi Anda, serta kebahagiaan dan kegembiraan yang melingkupi hidup Anda.&lt;br /&gt;5. Memaafkan&lt;br /&gt;Saatnya untuk melepaskan. Maafkan seluruh bagian diri Anda, atas segala kekurangan dan ketidaksempurnaan. Maafkan diri Anda untuk semua kesalahan yang pernah Anda buat di masa lalu, maafkan ketakutan masa kecil Anda, maafkan emosi dan kemarahan masa remaja Anda, maafkan masa dewasa awal Anda yang tak mau mengambil resiko. Maafkan kesalahan orang tua Anda, saudara kandung, kerabat dan orang-orang di masa lalu. Lepaskan semua uneg-uneg. Memaafkan membawa kedamaian dalam jiwa.&lt;br /&gt;6. Bersenang-Senang&lt;br /&gt;Beri kesempatan pada diri Anda untuk merasa rileks dan memanjakan diri. Baca buku yang menyenangkan. Keluarkan uang sekali-kali untuk membeli hal yang paling Anda inginkan. Lakukan kesenangan hanya untuk diri Anda sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Nutrisi&lt;br /&gt;Dengarkan kebutuhan tubuh Anda. Penuhi kebutuhan tubuh akan makanan bernutrisi. Konsumsi vitamin yang bermanfaat untuk tubuh. Dengan tubuh sehat dan bugar membuat Anda selalu menghargai hidup.&lt;br /&gt;8. Buang Penilaian&lt;br /&gt;Berhentilah menilai dan menyalahkan. Jangan melontarkan kritikan pada orang lain ataupun diri sendiri. Ucapkan kata-kata yang memberi dorongan pada diri dan semua orang yang Anda jumpai. Terima orang lain apa adanya, lengkap dengan segala perbedaan yang mereka miliki.&lt;br /&gt;9. Bantu Orang Lain&lt;br /&gt;Hubungi dan ulurkan tangan pada teman yang membutuhkan. Tawarkan bantuan tanpa syarat pada orang lain. Jadilah pendengar yang baik dan benar-benar mendengarkan apa yang dikatakan orang lain. Temukan cara untuk membantu orang lain mengangkat beban hidup dengan mendengarkan keluh kesah mereka.&lt;br /&gt;10. Cinta&lt;br /&gt;Cintai diri Anda dan gunakan kata-kata positif untuk memberi dorongan. Puji orang lain dengan tulus dan buat mereka tersenyum. Bicaralah dengan penuh kasih dan ketulusan dari dasar hati.&lt;br /&gt;Kesepuluh kunci kekuatan yang disebutkan di atas bukanlah hal yang sulit untuk dilakukan siapapun. Pelankan sejenak laju hidup Anda yang serba cepat, dan luangkan waktu untuk melakukan kesepuluh hal tersebut. Niscaya Anda akan menemukan keindahan hidup serta kelengkapan diri sejati Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5139741108899141277-6042128255803561543?l=tambuks.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tambuks.blogspot.com/feeds/6042128255803561543/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tambuks.blogspot.com/2011/02/temukan-jati-diri-saripati-dirmu-yang.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5139741108899141277/posts/default/6042128255803561543'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5139741108899141277/posts/default/6042128255803561543'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tambuks.blogspot.com/2011/02/temukan-jati-diri-saripati-dirmu-yang.html' title='&lt;blink&gt;Temukan &quot;jati diri&quot;. saripati dirmu yang sebenarnya&lt;/blink&gt;'/><author><name>ichal_bandot</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03820352006467403448</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-9Yemwtyjs8A/TjDxzZnS5hI/AAAAAAAAAJk/W1PKrp7NJZQ/s220/richard%2Bn%2Bthe%2BGilis.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5139741108899141277.post-4810304306003441175</id><published>2011-02-04T05:18:00.000-08:00</published><updated>2011-03-25T23:07:07.046-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='GENERAL'/><title type='text'>MESIR makin mencekam,WNI tersiksa</title><content type='html'>Warga Negara Indonesia (WNI) yang masih bertahan di Mesir tidak hanya mengalami krisis bahan makanan, namun juga mulai kehabisan uang tunai karena bank dan mesin anjungan tunai mandiri (ATM) tak bisa dioperasikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebagian besar WNI di sini kehabisan uang. Pengumuman bantuan logistik dari KBRI belum kami terima. Kami seperti hidup di tengah kota mati," ujar salah satu mahasiswa Universitas Al Azhar asal Kota Madiun, Jawa Timur, Yovi Saddan melalui pesan facebook yang dikirim ke wartawan ANTARA, Jumat.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;Menurut dia, dalam situasi Mesir yang terus bergolak, Yovi dan kawan-kawannya memilih diam di dalam apartemen. Mereka memantau perkembangan di luar melalui siaran televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dari pagi hingga malam, kami selalu memantau situasi Mesir melalui TV. Di CNN, BBC atau France 24 dan tersiar kabar bahwa warga Amerika, Israel, Turki, Prancis, Brunei, dan Thailand telah dievakuasi oleh pemerintah masing-masing," kata dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ribuan WNI yang sebagian besar adalah mahasiswa ini berharap Pemerintah Indonesia segera mengevakuasi mereka dari Mesir, termasuk dirinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami mendengar bahwa pemerintah telah mengirim pesawat untuk mengevakuasi WNI, tapi satu persatu. Padahal, kalau satu pesawat hanya mampu menampung 500 orang untuk sekali terbang, berarti membutuhkan sekitar 11 pesawat. Jarak tempuh dari Indonesia ke Mesir membutuhkan waktu 10 jam," tutur Yovi dalam pesannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara proses administrasi evakuasi membutuhkan waktu satu hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami cukup cemas karena informasi yang kami terima dari Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia di Mesir (PPMI), para mahasiswa yang belum terangkut diminta menunggu," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tunggu saja! Tunggu keputusan pemerintah pusat, karena katanya, inilah instruksi Dubes," kata Yovi menirukan jawaban yang selalu ia terima dari PPMI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia berharap Pemerintah Indonesia menambah jumlah pesawat agar evakuasi ribuan WNI di Mesir dapat segera terselesaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yovi adalah satu dari ribuan mahasiswa Indonesia di Mesir yang merasakan sulitnya bertahan hidup di negara yang sedang dilanda krisis politik. Yovi adalah mahasiswa S-1 Jurusan Tafsir Alquran, Fakultas Ushuluddin, Universitas Al Azhar, Kairo. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibunda Yovi, Sri Sugiarti, di rumahnya di Jalan Maleo, Kelurahan Nambangan Kidul, Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun, Jatim, mengaku cemas dengan nasib anaknya yang saat ini masih bertahan di Mesir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pihaknya berharap, pemerintah segera menambah pesawat untuk mengevakuasi WNI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Seharusnya jumlah pesawatnya ditambah, kalau hanya satu tidak akan cepat selesai. selain itu, kami juga meminta Pemerintah Indonesia menjamin keamanan WNI yang masih bertahan di Mesir," kata Sri Sugiarti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5139741108899141277-4810304306003441175?l=tambuks.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tambuks.blogspot.com/feeds/4810304306003441175/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tambuks.blogspot.com/2011/02/mesir-makin-mencekamwni-tersiksa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5139741108899141277/posts/default/4810304306003441175'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5139741108899141277/posts/default/4810304306003441175'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tambuks.blogspot.com/2011/02/mesir-makin-mencekamwni-tersiksa.html' title='&lt;blink&gt;MESIR makin mencekam,WNI tersiksa&lt;/blink&gt;'/><author><name>ichal_bandot</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03820352006467403448</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-9Yemwtyjs8A/TjDxzZnS5hI/AAAAAAAAAJk/W1PKrp7NJZQ/s220/richard%2Bn%2Bthe%2BGilis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5139741108899141277.post-8691810841923439914</id><published>2011-01-06T08:16:00.000-08:00</published><updated>2011-03-25T23:07:37.827-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='GENERAL'/><title type='text'>bahasa, tutur dan ekspresi</title><content type='html'>Bahasa, ekspresi dan tutur adalah aspek yang tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan sehari-hari. Segala hal yang meliputi komunikasi dan interaksi antara satu dengan yang lain tentu akan berujung pada bahasa, ekspresi dan tutur. Oleh karena itu, ketiga hal ini pula akan sangat cepat mengalami perubahan dari masa ke masa karena bidangnya yang meliputi segala bentuk interaksi  dalam berkehidupan. Perubahan yang terjadi bukan karena tak ada sebab yang melatarbalakangi, tetapi justru karena adanya angin yang memasuki halaman rumah kita bangsa Indonesia sehingga bahasa, ekspresi dan tutur kita sedikit banyak mengalami perubahan yang cukup memprihatinkan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   &lt;br /&gt;Kata globalisasi yang sangat tersohor kini di mata publik menjadi sorotan utama jika ingin mencari tahu sebab mengapa kini bahasa kita cenderung berubah. Teralu banyak hal yang menjadi bahan tiruan untuk memasukkan aspek-aspek non-indonesia masuk ke dalam rana kehidupan kita, termasuk dalam hal bahasa,ekpresi dan tutur. Jika diperhatikan perbedaan para pendahulu kita, atau dengan kata lain mereka yang hidup dan terlahir lebih dulu di zaman yang masih belum padat akan modernisasi dengan generasi saat ini, bahasa yang digunakan jauh lebih nasionalis daripada bahasa sekarang yang terlalu banyak menggunakan kata serapan. Bahasa, ekspresi dan tutur generasi pendahulu pada era non modernisasi barangkali dapat dikatakan lebih menghargai bahasa Indonesia jika dibandingkan dengan penggunaan bahasa Indonesia oleh generasi saat ini. Penggunaan bahasa Indonesia yang murni tanpa tercemar oleh bahasa-bahasa asing yang kini menjadi bagian yang sudah paten dalam bahasa Indonesia. Adanya kaidah E.Y.D adalah salah satu upaya dari bangsa kita sendiri unutk mencoba mencari solusi agar bahasa nasional yang selama ini kita banggakan dapat dilestarikan secara perlahan. Namun, kenyataan yang terlihat adalah justru makin banyaknya bahasa yang menjadi bagian dari bahasa Indonesia yang diambil dari diksi asing dengan imbuhan-imbuhan yang sedikit mengubah pelafalannya agar kedengaran ke-Indonesia-an. Belum lagi penggunaan bahasa sehari-hari  generasi saat ini yang cenderung lebih bangga menggunakan campuran bahasa asing dan pemenggalan kata yang tidak jelas maksud dan tujuannnya. Globalisasi dan modernisasi memang cukup memberikan pengaruh besar terhadap bahasa, ekspresi dan tutur bangsa Indonesia. Globalisasi yang ditunjang kompleksnya fasilitas dan pernak-pernik modern membuat segala hal dapat terjangkau dengan mudahnya oleh generasi sekarang. Segala aspek kini mengedepankan kecanggihan dan modernisasi daripada memikirkan akibat bagi bahasa, ekspresi dan tutur kita. Sebagai contoh konkret, generasi muda saat ini yang sering berkomunikasi dengan jaringan ponsel berupa pesan singkat. Bahasa yang digunakan cukup memprihatinkan jika ditinjau dari segi kebakuan dan tanda baca yang digunakan. Memang tidak ada tuntutan untuk penggunaan bahasa yang baku, tetapi setidaknya jika terlalu banyak pemenggalan dan penyalahgunaan bahasa, tidak menutup kemungkinan akan mempengaruhi bahasa kita ke depannya. Terlebih jika kita melihat  penggunaan bahasa lisan pemuda Indonesia saat ini yang cenderung menggunakan bahasa asing, begitu pula pada tuturnya yang sering terkesan tidak sopan dan bernada tinggi sehingga menghilangkan kesan bahwa kita bangsa Indonesia adalah bangsa yang lembut dan penuh budi pekerti. Dahulu, bangsa Indonesia terlalu lembut dalam bertutur kata dan sopan dalam berperilaku. Jika dibandingkan dengan generasi saat ini yang cenderung bertindak sembarangan dan sebagian besar memang sudah tidak memperhatikan etika dan moral, sangat terlihat sebuah perbedaan yang mencolok dalam bahasa, ekspresi dan tuturnya. Tidak dapat dipungkiri bahwa, sedikit banyak penyebab dari perubahan ini adalah pengaruh global yang ditunjang sarana yang canggih dalam mengakses hal baru di luar dari ruang lingkup bangsa Indonesia. Kemudian aspek-aspek lain yang membuat mengapa bangsa kita kian berubah dalam tutur, ekspresi dan  bahasa antara lain adalah mental generasi kita yang tidak kental akan jiwa nasionalismenya. Tuntutan zaman yang sangat persuasif bagi kalangan pemuda untuk terbawa arus modern tanpa memperhatikah etika dan moral dalam bertutur. Sepertinya sudah tidak ada aturan lagi yang mengatur kita dalam berbahasa dan berkomunikasi satu dengan yang lain. Sebuah kebebasan tercipta dalam penuturan bahasa dan akan berujung pada perubahan signifikan terhadap bahasa kita, bahasa Indonesia. &lt;br /&gt;Disamping itu, perlu diperhatikan juga permasalahan yang dikenal dengan istilah double speak. Pada era reformasi, suatu ketimpangan terlihat saat adanya kasus penghukuman pemimpin redaksi serta jurnalis tempo. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa pada zaman reformasi double speak sudah ada dan berkembang Indonesia. Kemudian hal ini mendapat tanggapan serius dari pemerintah karena adanya media yang mencoba memberitakan hal tersebut ke rana public. Kebebasan berpendapat seakan menjadi penghalang berkembangnya media massa untuk terus kreatif dalam bidangnya. Terlebih masyarakat dan kalangan mahasiswa yang tidak dapat bergerak demi kepentingan bangsa semata hanya karena adanya batasan yang tidak bisa terlampaui. Hal ini sedikit banyak disebabkan oleh adanya praktek double speak dalam dunia politik yang tak ujung pangkalnya. Sehingga pada era reformasi banyak berkembang istilah bahasa kaum yang terluka ( bahasa panasea ). Bahasa yang lugas, kreatif dan sangat menentang kebijakan-kebijakan pemerintah yang dianggap tidak berdasar. Banyak tulisan yang tersusun rapi dalam buku maupun kumpulan puisi kritis yang sangat menggambarkan kondisi rakyat pada era reformasi. Bahasa yang dikenal dengan bahasa panasea, adalah bahasa serta tutur yang digunakan oleh mereka yang merasa bahwa bangsa ini sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja. Mereka berkarya dan memprotes apa yang sesungguhnya tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya dari apa yang diinginkan oleh bangsa Indonesia.&lt;br /&gt;Melihat situasinya, jika dihubungkan dengan bahasa public saat ini, perbedaan yang yang mencolok sangat terlihat. Bahasa yang digunakan tidak mencerminkan adanya bangsa yang kritis dan peduli terhadap bahasa nasional. Bahasa public sekarang cenderung dipengaruhi oleh perkembangan bahasa asing yang kini menjadi bagian dari bahasa Indonesia. Terkadang sangat ironi kedengaran apabila kita membaca pada majalah atau ruang publik yang seakan-akan merasa sangat bangga ketika menggunakan bahasa asing dalam sebuah kalimat. Kesan yang ditimbulkan adalah, masyarakat kini tidak menghargai bahasa Indonesia yang notabene adalah bahasa nasional bangsa Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasa Indonesia saat ini memang mengalami gangguan dari segi kebakuan. Sangat sulit menemukan bahasa yang baik dan benar sesuai kaidah penggunaannya, meskipun itu dalam berbagai tulisan yang biasa terpampang pada media publik. Bahkan seorang publik speaker juga terkadang belum mampu mengaplikasikan bahasa Indonesia yang baik. Untuk menjadi seorang public speaker, yang harus diperhatikan adalah bahasa, tutur dan ekspresi. Sejauh mana seorang public speaker menguasai siapa yang dihadapinya akan sangat menentukan keberhasilannya. Kemudian, menjadi public speaker juga membutuhkan segudang wawasan yang tentunya akan menunjang apa yang dibicarakannya. Mengetahui kondisi tempat ia berbicara, dan menguasai perihal yang dibawakan juga menjadi penentu keberhasilan seorang public speaker. Jika hal tersebut tidak dapat terpenuhi, besar kemungkinan, kegagalan akan muncul sebagai dampak. Nah, apabila seorang public speaker tidak berhasil, konsekuensi yang harus ditanggung adalah lahirnya rasa kebosanan pada public dan apa yang menjadi inti pembicaraan tidak akan tersampaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budaya tutur setiap kaum berbeda-beda. Suatu kaum akan sangat menghargai apabila kaum lain yang mengerti akan tatacara bertutur sesuai dengan kebiasaan mereka. Dalam hal ini, perlu diketahui bahwa pentingnya untuk mengetahui bagaimana system atau budaya tutur dari suatu kaum. Sebagai contoh, untuk memulai pembicaraan pada adat batak, seseorang harus memulai dengan kata “santabi”. Mengucapkannya ketika berlalu dihadapan orang lain. Begitu pula pada suku bugis yang dikenal dengan istilah “tabe”. Jika budaya tutur seperti ini dapat kita ketahui dan diimplementasikan sesuai pada tempatnya, akan terkesan sangat menghargai dan akan mendapat respon yang baik dari kaum yang dihadapi. Dalam kehidupan sosial, tidak dapat dipungkiri bahwa adanya keragaman suku atau etnis yang menyatu membentuk sebuah kelompok masyarakat. Sebagai contoh, dalam sebuah institusi seperti kampus yang tentunya padat akan keragaman budaya. Fungsi dan kegunaan dari pengetahuan budaya tutr seperti ini adalah dapat menjalin sebuah hubungan yang lebih harmonis dan terciptanya keakraban yang berasaskan nasionalisme sebagai sesama bangsa Indonesia. Selain itu, pengetahuan budaya tutur suatu kaum juga sangat bernilai dari segi keilmuan. Dalam hal budaya, budaya tutur dapat dijadikan sebuah kajian yang tentunya memberikan segudang ilmu yang dapat dikembangkan. Disamping salah satu cara untuk tetap mengenal budaya Indonesia, pengetahuan tentang tutur budaya juga sangat berperan dalam sebuah institusi. Dalam regulasi kehidupan kampus, budaya tutur akan sangat memberikan sumbangsih positif baik dalam komunikasi antar sesama mahasiswa, maupun dengan pengajar atau sebaliknya. Bagaimana tingkat kemampuan seseorang dalam berkomunikasi akan sangat menentukan luasnya jaringan sosialnya. Begitu pula dalam hal belajar mengajar yang sangat membutuhkan komunikasi yang baik antara pengajar dengan yang diajar. Serang pengajar harus mengerti siapa yang dihadapinya. Mahasisiwa adalah generasi muda sebuah bangsa, dan tentunya akan menjadi penerus akan budaya-budaya yang ditirunkan kepada mereka. Apabila budaya tutur dari pengajar sangat tidak relevan dengan kondisi mahasisiwa yang menginginkan hal kreatif dan inovatif, maka tidak aka nada sebuah perubahan yang akan tercipta nantinya. Hanya akan ada unsur kebencian dan ketidaksopanan yang akan terlahir  Bagaimana supaya terciptanya hubungan yang harmonis sangat ditentukan oleh budaya tutur. Untuk itu, dalam konteks institusi berupa perguruan tinggi, memang perlu dihadirkan materi yang khusus mempelajari tentang budaya tutur demi mennjang pengetahuan mahasiswa dalam hal bertutur kata dalam rana publik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5139741108899141277-8691810841923439914?l=tambuks.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tambuks.blogspot.com/feeds/8691810841923439914/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tambuks.blogspot.com/2011/01/bahasa-tutur-dan-ekspresi.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5139741108899141277/posts/default/8691810841923439914'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5139741108899141277/posts/default/8691810841923439914'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tambuks.blogspot.com/2011/01/bahasa-tutur-dan-ekspresi.html' title='bahasa, tutur dan ekspresi'/><author><name>ichal_bandot</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03820352006467403448</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-9Yemwtyjs8A/TjDxzZnS5hI/AAAAAAAAAJk/W1PKrp7NJZQ/s220/richard%2Bn%2Bthe%2BGilis.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5139741108899141277.post-1231472952787248505</id><published>2011-01-04T03:34:00.000-08:00</published><updated>2011-03-25T23:08:11.618-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='GENERAL'/><title type='text'>sastra dan sejuta isinya</title><content type='html'>Sebuah lorong sempit tempat beberapa ruangan kecil saling bertatap wajah terlihat sepi dan agak lengang, tak seperti hari-hari biasanya yang riuh oleh suara dari setiap ruangan dengan tema aktivitas masing-masing. Mungkin karena musim libur yang kini membuat para penghuni lorong ini berbondong-bondong menuju kampung halaman masing-masing. Lorong ini nampak gelap dan sedikit tertutup, tak dilewati sinar mentari siang hari, sehingga udaranya agak pengap. “Terkadang ada rasa malas dan tak suka berlalu disitu”, ungkap beberapa temanku yang biasa memulai ceritanya soal lorong sempit bertempat di lantai dasar itu. Untung saja ada sosok yang begitu tekun berjuluk “cleaning service” yang setia membungkukkan punggungnya setiap pagi buta. Tanpa pernah bicara,ia terus membersihkan lantai yang kotor dengan sebatang alat pel di tangan sebelum sepatu-sepatu cantik mahasiswi kembali menggilas lantai putih itu menuju ruangan kuliahnya. Sang cleaning service hanya menatap sayu tanpa ada tanggapan ataupun larangan, walau jauh di sudut hatinya terbesit rasa kesal yang cukup besar untuk menyuarakan hasrat marahnya. Apalah daya, ada batas yang kian menjadi pembeda antara dirinya dengan mereka yang berlalu lalang dan tanpa sadar ada hati yang gundah gulana.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   &lt;br /&gt;. Lantai yang masih basah hasil kerjanya itu bernoda bekas sepatu ber-merk ragam jenis baik domestik maupun mancanegara. Artinya, kita benar-benar sudah ada di zaman globalisasi yang tak kenal batas segala hal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lorong ini bukanlah sebuah lorong perumahan yang rimbun akan pepohonan dan bunga-bunga cantik menghias halaman. Bukan pula sebuah gang yang sering dipenuhi kelompok balita bermain dan berlari sambil bersorak gembira kesana kemari. Melainkan, di lorong ini ada generasi muda. Generasi muda yang kini menyandang status mahasiswa dan kaum akademis yang akan melanjutkan tampuk kepemimpinan dari republik ini. Berdatangan dari berbagai pelosok daerah, bahkan luar pulau sulawesi dan berkumpul membaur dalam satu rasa dan status yang sama, Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin. Fakultas yang tergolong dalam regulasi kelompok ilmu sosial bersama dengan beberapa rekan Fakultas lain yang turut bercita rasa disiplin ilmu sosial. Belajar Ilmu tentang kebersamaan,kehidupan manusia dan budayanya. Tapi entah mengapa sangat sulit mewujudkan implementasi dalam keseharian sesuai dengan bidang ilmu yang menjadi dasar langkah kaki di kampus merah ini. Mungkin karena lingkungan dan faktor zaman yang kian sedikit demi sedikit melunturkan budaya dan mencoba untuk menembus keras garis budaya kita. Sering terlihat memang apa yang ada kini  hadir di tempat ini, bukan lagi budaya dan kebiasaan ala Indonesia, tapi kecenderungan untuk meniru dan berlagak ala mereka yang jauh dari kekurangan untuk sekedar berpenampilan. Merogoh kocek dalam-dalam agar tampil maksimal di setiap langkah dan menjadi modal utama penggait gadis cantik molek di pelataran kampus. Tapi, berbeda halnya dengan apa yang ada di lorong sempit. Bukan penampilan yang berada di garda depan, tapi kesederhanaan dan citarasa unik yang tampak mendominasi sesuai dengan latar belakang masing-masing. Walau begitu, tak bisa dipungkiri bahwa, disini ada wibawa, ada idealisme bahkan ribuan kemunafikan yang tersembunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap ambang pintu ruangan di lorong ini, terpampang jelas atribut organisasi melekat rapi di atas daun pintu sesuai kreatifitas masing-masing. Sangat kontras terlihat dengan lampu kecil yang menerangi dari dalam bak lampion di panggung sandiwara.  Indah menghiasi lantai dasar dari gedung tua yang sekian lama berdiri kokoh memberi ruang untuk kami menuntut puing-puing ilmu tentang budaya dan segala hal diluar bangku kuliah. FIS V, nama gedung yang sedari dulu tak pernah berubah namanya. Tak berdiri tunggal, tapi serangkai dengan gedung-gedung lain yang juga bernama FIS membentuk sebuah tanah lapang di tengahnya. Tanah lapang yang menjadi pusat kegiatan seremonial mahasiswa baru fakultas sastra, dan terkadang menjadi tempat perhelatan sepak bola antar ruangan di lorong yang mengundang gelak tawa penontonnya. Lorong sempit ini ada di lantai dasar FIS V, tertindih dua lantai di atasnya membuat lantai ini tak tampak jelas dari pelataran  fakultas. Memang sulit untuk memperhatikan jelas apa yang ada disana ketika berdiri di pelataran sastra yang posisinya lebih tinggi dari lantai dasar FIS V. Dari luar, hanya terlihat sebuah ambang pintu yang menjadi gerbang utamanya. Tampak agak gelap membuat kesan pertama seorang mahasiswa baru akan sdikit ciut nyalinya melewati lorong ini. Dibalik lorong yang tampak buram dan remang ini, ditambah pula isinya yang tak jelas apa saja, tersimpan sejuta keceriaan dan kemelut di dalamnya. Keceriaan yang penuh canda tawa dan kemelut yang tak lain karena organisasi yang terus diterjang masalah karena persoalan kuno. Persoalan tentang progam kerja yang tertunda dan dana proposal yang tak kunjung datang, membuat siapa saja yang pernah mengenyam pahit manis lorong ini sedikit banyak punya cerita dan segudang pengalaman untuk dibagi di dunia luar sana. Belum lagi keberadaan mahasiswa baru yang menyisakan tugas baru untuk para seniornya menyiapkan segala hal tentang jadwal kuliah dan persoalan kaderisasi. Setiap jurusan sibuk dengan massanya, berkumpul di suatu tempat berceloteh panjang di hadapan mahasiswa baru yang bersungut jenuh mendengar seniornya bercerita dan marah tidak jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lorong ini terdiri dari beberapa jurusan atau sering disebut himpunan mahasiswa dan unit kegiatan mahasiswa. Berdiri sejajar atas dasar yang sama dan disatukan oleh rasa kebersamaan dalam wadah senat mahasiswa. Jurusan  yang ada kebanyakan diawali dengan nama sastra ditambah pula dua jurusan yang berkecimpung dalam ilmu humaniora, arkeologi dan sejarah. Mungkin salah satu alasan mengapa fakultas ini berjuluk sastra. Fakultas yang kini berganti nama menjadi fakultas ilmu budaya. Entah apa pula yang menjadi dasar kuat sebagai alasan sehingga terjadi sebuah perubahan demikian tak jelas maknanya. Walau begitu, tetap saja nama sastra masih tenar dalam tiap kata dan identitas penghuninya yang masih sering memakainya untuk sekedar sebuah identitas. Mungkin karena terlanjur menyatu dengan kata yang sepintas kedengaran begitu dalam maknanya. Sampai pada suatu ketika, tampaklah goresan tangan pada tembok gedung. Walau salah dalam aturan, tapi menurut kami tetap benar dalam kata. “teriakkan sastra di telinga mereka yang tak jelas berkata!”. Ucap tangan kreatif yang sampai saat ini masih belum kutahu siapa pemiliknya. Cukup berarti dan mungkin saja membuat iri mereka dari fakultas sebelah ketika tanpa sengaja membacanya. Goresan hitam dari arang yang membuat tiap mata memandang dan hati yang mengucapkannya, tanpa sadar akan mengukir senyuman di bibir seraya membusungkan dada merasa bangga memiliki fakultas kecil ini. Di tempat ini ada kesenangan, adapula kepedihan yang sering menghiasi perjalanan di kampus merah. Rangkaian jalinan kekerabatan dengan alas kebersamaan dan nuansa kekeluargaan juga turut menjadi bagian dari tiap cerita. Ada dialektika yang tak pernah ada ujung pangkalnya. Membuat siapa saja yang hadir disini merasa betah berlama-lama sampai lupa akan gelar sarjana yang semakin menuntunnya enyah dari dunia kampus. Berbagai hal baru dan pengalaman yang sulit hilang dari ingatan. Terus tumbuh dan berkembang menjadi sebuah pohon subur dengan ranting-ranting yang banyak dan dedaunan  yang berbunga indah dalam bingkai memori kenangan sejuta cerita tentang sastra dan isinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang bukan sekedar mainan berada di kampus ini. Banyak tuntutan yang harus aku dan mereka penuhi. Di lorong sempit ini kami berkarya dan bercerita tentang apa yang akan bertandang di masa mendatang. Terkadang pula ada rasa bersalah saat waktu-waktu berlalu tanpa diisi dengan bergabung dalam kelas bersama teman mendengar kuliah dari sang dosen yang sudah mulai ditumbuhi uban di kepala. Kami sibuk berurusan dengan program kerja organisasi dan berdebat tentang solusi untuk masalah baru. Terkadang ruangan sempit yang menjadi rumah kedua menjadi tumpah ruah, malah sampai harus mencari ruangan lain hanya untuk memulai sebuah rapat membahas beberapa agenda. Begitu gambaran singkat yang terlihat di lorong sempit nan sibuk ini. Sibuk dengan urusan tiap organ sampai terkadang lupa untuk bertutur sapa dengan tetangga sebelah. Tetangga jurusan yang kebetulan tidak ada di lorong ini. Sedikit terpisah tapi setidaknya dalam tiap rangkaian kegiatannya, selalu ada silaturahmi antar sesama membuat keakraban dan ikatan tak pernah luput dari pandangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lorong ini selalu terlihat riuh kala musim libur telah sampai pada penghujungnya. Tiap ruangan akan kembali dipenuhi oleh sivitas akademika yang sibuk dengan urusan masing-masing. Entah apa yang ada dalam benak mereka. Antara rasa tenang jalani hari dan penantian akan episode baru saat gelar sarjana sudah dalam genggaman. Sebagian masih terlihat segar dan penuh ceria di wajahnya, sebagian pula ada yang duduk manis termenung di kursi panjang tepat di sudut lorong. Kelihatan ceria karena masih ada di babak awal dari cerita, sementara yang termenung tadi pening memikirkan skripsi yang menanti kelanjutan bab berikutnya alias sudah ada di babak falling dalam sebuah novel. Sebuah tanda tanya besar tentang seperti apa jadinya nanti. Kala renungan menusuk batin dengan ribuan pertanyaan menyakitkan, muncul pula lembar khayal baru berisi wajah-wajah penuh kasih kedua orang tua yang selalu mendambakan anaknya menjadi manusia berarti. Barangkali, inilah salah satu bagian dari lamunan wajah-wajah murung sambil menatap lembaran buku-buku kuliah. Buku-buku yang menjadi momok menakutkan, berisi rangkaian kata cukup bagus ala ilmuan dan entah mengapa sangat sulit terekam di kepala dan akhirnya membuat jeblok ipk-nya. Sebuah simbol yang menjadi standar prestasi mahasiswa perihal perkuliahan, namun tidak pada pengetahuan dan wawasan di luar bangku kuliah. Selalu saja menjadi bahan cerita dan pertanyaan yang berulang kali ditanyakan saat duduk di kantin sederhana kolong gedung. Kolong yang menjadi tempat semua golongan yang ada di fakultas ini. Dari mahasiswa lama dan baru, cleaning service, dosen-dosen, bahkan petinggi fakultas juga kadang hadir disitu berbincang sebentar dan berlalu pergi menyisakan tanda tanya yang belum terjawab. Beberapa gelas kopi dan kepulan asap mewarnai cerita-cerita mahasiswa saat duduk manis di tempat ini. Ada-ada saja yang menjadi topik baru dan bahan candaan mengundang gelak tawa. Namun terkadang di sudut-sudut tertentu, terlihat dua tiga orang yang duduk serius membicarakan suatu hal. Mungkin berdiskusi atau berbagi cerita, tapi memang tempat ini juga sedari dulu memberikan ruang bagi anak-anak sastra untuk menambah sedikit ilmu tak terduga. Sama persis suasana di lorong yang selalu terlihat kelompok-kelompok kecil berhadapan dan serius menatap satu dengan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lorong sempit bernuansa sastra ini penuh dengan kesibukan. Sibuk dengan perihal surat menyurat walau hanya dinding yang membatasi ruangan satu dengan yang lain. Pinjam meminjam dan terkadang tak ada yang kembali. Semua menjadi sebuah proses sebagai tanda bahwa ada kata belajar di tempat ini. Ada yang sibuk dengan persoalan bahasa, ada yang gelisah mencari bahan budaya untuk dikaji, bahkan riuh karena suara gendang bernuansa tradisional budaya bugis makassar menjadi latar dari segala aktivitasnya. Belum lagi para pemuda yang senang dengan petualangan di ruangan sudut sibuk dengan dentingan alat vertikal dan kolam ikannya. Para pemusik mulai memainkan gitar dan dentaman drumset seirama dengan suara merdu gadis manis melantunkan lagu lokal Indonesia. Sebuah pemandangan yang memicu daya fikir untuk mengungkap apa  yang ada dalam lorong ini. Ruangan-ruangannya sesak dilengkapi peralatan ala organisasi mahasiswa, bahkan ada yang lengkap dengan alat memasaknya. Ruangan kadang dipenuhi kertas berserakan dan asbak yang tumpah karena sudah tak mampu lagi menampung puntung rokok berbagai jenis merk. Identik dengan pakaian lusuh yang biasanya berwarna hitam, duduk bersimpuh di dalam ruangan dengan jeans yang sudah bolong menjadi pelengkap seorang mahasiswa sastra. Walau tak semua bisa dibilang persis begitu, tapi cukup representatif ketika bertandang di lorong ini. Helai-helai rambut rontok berserakan di lantai putih berasal dari kepala si gondrong yang sudah menjadi lumrah di fakultas ini. Sepintas kelihatan sangat tidak kontras dengan penampilan seseorang yang berstatus mahasiswa, golongan akademis yang patut menjadi panutan di kalangan masyarakat. Tapi, ditempat ini penampilan bukan lagi menjadi hal yang perlu untuk dijadikan  dijadikan tolak ukur. Walau dengan penampilan yang kucar-kacir ini, kuyakini segudang wawasan bersarang di kepala mereka. Tak sekedar wawasan yang ada, tapi dibalik keras wajah yang tampak anarki itu, tersimpan jiwa yang besar untuk menjadi pelanjut dari bangsa besar Indonesia. Mengambil alih tampuk kekuasaan yang kian marak akan kasus korupsi yang  tak pernah ada solusinya. Membawa dan mengiringi langkah bangsa ini  menuju peradaban yang sebenarnya, jauh dari sifat ketidakadilan dan keangkuhan yang luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan semangat romansa dan bait puisi yang berbunga mekar, kami goreskan dan kami teriakkan ribuan kalimat sastra mengangkat tema tentang budaya dan sejuta  persoalan negeri ini. Di lorong sempit ini, ada perjuangan. Perjuangan dari anak muda berjiwa sastra. Semoga apa yang tertuang dalam tulisan singkat ini, menjadi referensi baru pembangkit semangat jiwa generasi penerus bangsa dari republik tercinta ini…… salam lestari! (EDELWEIS), 00.03 WITA, 03 januari 2011.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;﻿&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_9JupwEGbl6k/TU91Zs6FAvI/AAAAAAAAAC8/juIlR3OOZ5Y/s1600/mahasiswa%2Bkah.jpg" imageanchor="1" style="clear:left; float:left;margin-right:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="320" width="213" src="http://1.bp.blogspot.com/_9JupwEGbl6k/TU91Zs6FAvI/AAAAAAAAAC8/juIlR3OOZ5Y/s320/mahasiswa%2Bkah.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5139741108899141277-1231472952787248505?l=tambuks.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tambuks.blogspot.com/feeds/1231472952787248505/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tambuks.blogspot.com/2011/01/sastra-da-sejuta-isinya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5139741108899141277/posts/default/1231472952787248505'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5139741108899141277/posts/default/1231472952787248505'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tambuks.blogspot.com/2011/01/sastra-da-sejuta-isinya.html' title='sastra dan sejuta isinya'/><author><name>ichal_bandot</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03820352006467403448</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-9Yemwtyjs8A/TjDxzZnS5hI/AAAAAAAAAJk/W1PKrp7NJZQ/s220/richard%2Bn%2Bthe%2BGilis.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_9JupwEGbl6k/TU91Zs6FAvI/AAAAAAAAAC8/juIlR3OOZ5Y/s72-c/mahasiswa%2Bkah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5139741108899141277.post-5048603356288140542</id><published>2010-12-28T20:17:00.000-08:00</published><updated>2011-03-25T22:46:26.878-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ADVENTURE'/><title type='text'>putih karst luluhkan pongah dalam jiwa</title><content type='html'>Tubuhku hampir menyatu dengan bebatuan karang nan keras, barangkali  hanya lima sentimeter jika ada yang ingin mengukurnya. Bebatuan karang keras dan sedikit ditumbuhi beberapa tumbuhan hijau di pinggirannya kelihatan kokoh berdiri tegak setia menaungi tanah kering di dasarnya. Tampak teksturnya sangat jelas di depan mataku, warnanya putih namun sedikit dikombinasikan dengan warna hijau karena lumut yang menjalar di bagian-bagian tertentu. Jika dilihat dari kejauhan, akan tampak sebuah tebing vertical mengarah ke jalur trans antar daerah di Sulawesi selatan. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   &lt;br /&gt;Di sebelah atas bertuliskan “Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung” jelas tertata rapi hasil kerja tangan para penggiat olahraga di ketinggian. Berlokasi tidak jauh dari pintu masuk sebuah tempat wisata terkenal di Sulawesi selatan, Bantimurung seperti yang terpampang di atas tebing tempat tanganku kini terpaut erat berpegangan mencari celah yang paling meyakinkan. Hati dan perasaan tak karuan jadinya. Penasaran dan kekhawatiran berbaur menjadi sebuah rasa yang tak bisa terungkap dalam kata. Cukup membuat ciut nyaliku. Sebuah hardness yang sudah agak lusuh menunjukkan jam terbangnya yang tergolong  tinggi sudah melekat di pinggangku. Alat yang begitu berarti untuk olahraga panjat tebing ini. Berat rasanya tubuhku dipenuhi peralatan. Segala peralatan yang menjadi stantar keselamatan pemanjatan tebing, bergelantungan di pinggangku. Cukup berat dan membuat gerakanku sedikit kaku dan sangat terbatas akibat dentingan logam berjuluk carrabiner  saling beradu terus kedengaran saat aku mencoba mencari posisi yang nyaman. Lalu kukalungkan tasbih hitam di leherku. Benda yangs selalu menemani setiap perjalananku ke alam terbuka. Walau kuakui memang sangat jarang kugunakan sesuai dengan fungsinya. Tapi setidaknya aku masih punya sedikit bayangan dan ingatan terhadap sang pencipta bahwa aku ini hanyalah makhluk biasa yang tak rajin menemuiNya dalam shalat. Sepintas terlintas di benakku, bahwa memang selama ini, aku terus terlarut dengan aktivitasku tanpa pernah sedikit menundukkan kepala hanya untuk beberapa menit menghadap kepadaNya. Betapa berdosa diri dan segenap jiwa raga ku. Selalu menikmati apa yang telah ada padaku dan seluruh yang ada di jagad raya, tapi tak berpaling pada sang pencipta yang barangkali sudah jenuh akan kepongahan hati ini. Semoga apa yang kurangkai ini bisa jadi sebutir emas berharga yang akan kujaga sepenuh hati dan tak luntur ditelan waktu. Menjadi bait-bait indah yang akan kukenang selalu dan menjaga hati ini agar bersih dalam setiap langkah dalam kehidupan.  Seringkali  terfikir pula olehku banyaknya orang diluar sana yang akan berkata betapa bodoh dan gilanya kami yang ingin mempertaruhkan nyawa hanya untuk skedar melakukan hal aneh dan sama sekali tak ada untungnya menurut mereka. Ahhh….. mungkin saja saudara-saudara kami yang berkata demikian belum mengerti apa yang ada dibalik perjuangan ini. Lewat hobi dan kecintaan akan alam dan bergiat dalam aktivitas penuh resiko ini, mungkin menjadi jalan terbaik bagi kami untuk belajar  membawa hati dan akal fikiran terhindar dari kepongahan dan sombongnya kehidupan kota….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulakukan sedikit peregangan agar ototku tak kaku dan menimbulkan rasa nyeri nantinya. Kulafaskan sedikit doa singkat dalam hati sebelum menengadah ke atas mencari celah-celah di bebatuan. Semoga dengan seutas tali kernmantel  yang tersimpul rapi pada hardness di pinggang tetap setia menjaga keselamatanku. Setelah sang belayer mengangguk perlahan tanda siap mengantarkan langkahku meraba permukaan tebing ini, jemariku mulai mencari pegangan unutk mengangkat tubuh ini jauh keatas. Sangat perlahan, cukup berhati-hati dan waspada dalam setiap gerakan dan pijakan. Sesekali singgah di beberapa posisi untuk memasang runner dengan membenamkan besi berjuluk python sebagai pengaman terlebih dahulu. Mengenakannya pada tali dan menghembuskan nafas panjang untuk memulai langkah baru. Terkadang sambil mengusap keringat dengan lengan yang berhias serbuk kapur putih, aku berpaling kebawah melihat betapa tangguhnya saudaraku, sang belayer yang setia mendongak keatas demi keselamatanku. Walau pegal mendera leher dan pundaknya, tak pernah lepas pandangannya ke arahku dengan seutas tali melekat di kedua tangannya. Terus begitu….. semakin tinggi pula pijakanku. Saat menoleh kebawah,  terbesit di hati bahwa semakin tinggi pijakan ini, semakin tinggi pula resiko yang ada. Begitu pulalah rangkaian kehidupan yang selama ini kita jalani. Semakin jauh dan tinggi kita melangkah, maka resiko dan ketelitian akan mengikuti dengan sendirinya. Semakin besar kedudukan kita, semakin besar puls tanggungjawab yang harus diemban. Jika tidak seperti itu, maka hidup ini bukan lah sebuah kehidupan yang berarti. Cukup hanya sekedar menikmati hidup, tapi tidak memaknai  kehidupan. Dari atas sana, kulihat luas alam terbentang, jauh ke batas horizontal sejauh mata memandang. Begitu luas, begitu besar apa yang ada. Sungguh keagunganMu tak ada duanya. Terbesit secuil rasa puas di dada saat mampu berada di sini walau hanya untuk beberapa menit saja. Kemudian akan bergelantungan bebas pada tali untuk kembali pada pijakan yang sesungguhnya. Memang bukan hal aneh ketika degup jantung berdetak lebih cepat di atas sana. Terkadang pula teringat momen indah bersama keluarga, dan kedua orang tua. Merasa takut kehilangan mereka. Merasa diri sangat kecil dihadapan sang maha kuasa. Setidaknya menjadi sebuah symbol bahwa  kita ini mahkluk tak berdaya di hadapan sang Khalik.. mampukah aku kendalikan rasa sombong yang tak mau pergi? Semoga dengan ini ada yang bisa menambah puing-puing kesadaran dalam jiwa dan membawa aku dan saudaraku pada kehidupan yang jauh dari kepongahan…… E.103.09.L.A.89.FIB-UH. “23.14.depsos, maros”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_9JupwEGbl6k/TU90gckEvCI/AAAAAAAAAC0/8rEIIKJybGY/s1600/DSC_0458.JPG" imageanchor="1" style="clear:left; float:left;margin-right:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="200" width="133" src="http://3.bp.blogspot.com/_9JupwEGbl6k/TU90gckEvCI/AAAAAAAAAC0/8rEIIKJybGY/s200/DSC_0458.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5139741108899141277-5048603356288140542?l=tambuks.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tambuks.blogspot.com/feeds/5048603356288140542/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tambuks.blogspot.com/2010/12/putih-karst-luluhkan-pongah-dalam-jiwa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5139741108899141277/posts/default/5048603356288140542'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5139741108899141277/posts/default/5048603356288140542'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tambuks.blogspot.com/2010/12/putih-karst-luluhkan-pongah-dalam-jiwa.html' title='putih karst luluhkan pongah dalam jiwa'/><author><name>ichal_bandot</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03820352006467403448</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-9Yemwtyjs8A/TjDxzZnS5hI/AAAAAAAAAJk/W1PKrp7NJZQ/s220/richard%2Bn%2Bthe%2BGilis.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_9JupwEGbl6k/TU90gckEvCI/AAAAAAAAAC0/8rEIIKJybGY/s72-c/DSC_0458.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5139741108899141277.post-116958633789509292</id><published>2010-12-08T05:17:00.000-08:00</published><updated>2011-03-25T22:32:27.438-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='POETRY'/><title type='text'>pagi indah nan elok tuk merangkai mimpi-mimpi baru</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;Sekepul hembusan asap tembakau keluar dari rongga mulut&lt;br /&gt;Tak ada beban dalam fikiran untuk lalui hari ini&lt;br /&gt;Gerimis menyambut pagi kala jam dinding berdenting sembilan kali&lt;br /&gt;Jemari perkasa ini kembali menari dengan pena di atas  secarik kertas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   &lt;br /&gt;Kampus ini seakan berubah warna......&lt;br /&gt;Dari merah menjadi hijau bak rimbun pepohanan di belakang sana&lt;br /&gt;Sepi tanpa suara canda tawa para petualang muda&lt;br /&gt;Hanya lantunan nostalgia hiasi telinga penuh romansa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bingung ingin duduk dimana......&lt;br /&gt;Tak tahu arah dan ujung pangkal langkah ini..&lt;br /&gt;Adakah ruang untuk berbagi rasa tentang niat untuk melangkah&lt;br /&gt;Kembali berjabat  mesra dengan sejuk daun rumput liar....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin selalu tersenyum&lt;br /&gt;Saat ada mimpi yang mulai tampil dalam realita&lt;br /&gt;Benar semua berawal dari angan kecil&lt;br /&gt;Tapi tak semua bisa menjelma begitu saja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruang kecil yang terasa semakin sempit ini&lt;br /&gt;Jadi sandaran manis merangkai mimpi-mimpi baru&lt;br /&gt;Semoga ada yang akan kugores nantinya&lt;br /&gt;Menjadi bait sejarah mendalam yang terus dikenang generasi baru pecinta alam.&lt;br /&gt;E.103.09.L.A.89.FIB-UH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5139741108899141277-116958633789509292?l=tambuks.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tambuks.blogspot.com/feeds/116958633789509292/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tambuks.blogspot.com/2010/12/pagi-indah-nan-elok-tuk-merangkai-mimpi_08.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5139741108899141277/posts/default/116958633789509292'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5139741108899141277/posts/default/116958633789509292'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tambuks.blogspot.com/2010/12/pagi-indah-nan-elok-tuk-merangkai-mimpi_08.html' title='pagi indah nan elok tuk merangkai mimpi-mimpi baru'/><author><name>ichal_bandot</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03820352006467403448</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-9Yemwtyjs8A/TjDxzZnS5hI/AAAAAAAAAJk/W1PKrp7NJZQ/s220/richard%2Bn%2Bthe%2BGilis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5139741108899141277.post-7121658415912956615</id><published>2010-12-05T06:31:00.000-08:00</published><updated>2011-03-25T22:32:05.113-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='POETRY'/><title type='text'>kobaran bunga api tak pernah padam ditelan waktu</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;bantu kami tuhan...&lt;br /&gt;sepertinya tak ada tempat lagi untuk bersandar&lt;br /&gt;hanya padamu kami mengingat&lt;br /&gt;hanya kau yang tahu segala keluh kesah di dada....&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;semua berlalu tanpa sadar&lt;br /&gt;hari saling kejar dengan detak waktu yang terus bergulir&lt;br /&gt;bolehkah kami tahu apa jawabMu&lt;br /&gt;jawaban singkat saat hari sudah menggapai sang waktu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;benar kah langkah kami akan kembali terayun&lt;br /&gt;kokoh beradu melawan keras bebatuan jalan setapak&lt;br /&gt;sungguh tiada pernah terbayangkan di hati kecil ini&lt;br /&gt;seperti apa kami......&lt;br /&gt;kelak senja mulai datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pemuda edelweis tak pernah mundur&lt;br /&gt;pemuda edelweis tak pernah takut dengan godaan alam...&lt;br /&gt;sekalipun terhadang lumpur selutut&lt;br /&gt;terjatuh perih menoreh luka di kulit&lt;br /&gt;semua  hanya jadi hiasan perjalanan panjang,&lt;br /&gt;perjalanan yang akan  menjadi kisah baru buat para petualang muda...........&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5139741108899141277-7121658415912956615?l=tambuks.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tambuks.blogspot.com/feeds/7121658415912956615/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tambuks.blogspot.com/2010/12/kobaran-bunga-api-tak-pernah-padam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5139741108899141277/posts/default/7121658415912956615'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5139741108899141277/posts/default/7121658415912956615'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tambuks.blogspot.com/2010/12/kobaran-bunga-api-tak-pernah-padam.html' title='kobaran bunga api tak pernah padam ditelan waktu'/><author><name>ichal_bandot</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03820352006467403448</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-9Yemwtyjs8A/TjDxzZnS5hI/AAAAAAAAAJk/W1PKrp7NJZQ/s220/richard%2Bn%2Bthe%2BGilis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5139741108899141277.post-2182339070581417790</id><published>2010-11-21T09:59:00.000-08:00</published><updated>2011-03-25T22:34:11.567-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='POETRY'/><title type='text'>teriakan kami untuk segenap pemuda</title><content type='html'>Tak pernah sedikit pun terbesit di lubuk hati&lt;br /&gt;tuk pergi menjauh....&lt;br /&gt;Mungkin karena batin ini&lt;br /&gt;yang terlanjur tersimpul rapih oleh gerak langkah&lt;br /&gt;dan keras ombak menantang......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   &lt;br /&gt;Layar perjuangan anak bangsa ini&lt;br /&gt;tetap terkembang dan&lt;br /&gt;tak pernah takut tertiup badai serta teriakan petir&lt;br /&gt;mengguncang semangat petualang......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdiri tegak menatap awan biru,&lt;br /&gt;kami bernafas&lt;br /&gt;perlahan.....&lt;br /&gt;dan menghembuskan nafas baru untuk jagad raya tercinta...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam lestari dari kami,&lt;br /&gt;untuk segenap jiwa &lt;br /&gt;dan makhluk tuhan di bumi pertiwi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E.103.90.L.A.89.FIB-UH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5139741108899141277-2182339070581417790?l=tambuks.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tambuks.blogspot.com/feeds/2182339070581417790/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tambuks.blogspot.com/2010/11/tak-pernah-sedikit-pun-terbesit-di.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5139741108899141277/posts/default/2182339070581417790'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5139741108899141277/posts/default/2182339070581417790'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tambuks.blogspot.com/2010/11/tak-pernah-sedikit-pun-terbesit-di.html' title='teriakan kami untuk segenap pemuda'/><author><name>ichal_bandot</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03820352006467403448</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-9Yemwtyjs8A/TjDxzZnS5hI/AAAAAAAAAJk/W1PKrp7NJZQ/s220/richard%2Bn%2Bthe%2BGilis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5139741108899141277.post-9158280532052557955</id><published>2010-09-27T03:47:00.000-07:00</published><updated>2011-03-25T22:48:25.231-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ADVENTURE'/><title type='text'>BOMBANA IS TODAY</title><content type='html'>Rasa bimbang selalu menghantui fikiranku. Sebuah tempat yang begitu asing bahkan untuk pertama kali ini kuinjakkan kaki di sulawesi sebelah tenggara. Namanya juga berpetualang. Ada suku ada duka yang selalu akan menemani perjalanan ini. Semalaman di ferry cukup buat bercanda bersama mereka yang turut ikut dalam perjalanan ini. Tak begitu nikmat rasanya, semua ini ulah malam yang tak mau berbagi keindahan alam. Bentangan samudera seakan ruang kosong yang tak punya cahaya. Yang ada hanya kedap kedip bintang malam yang menghibur gundah hati dan menjadi satu-satunya objek sorotan mata. Sekali-kali pula terlihat sepintas goresan panjang dari cahaya di kejauhan. Bintang jatuh!!!!!! Indahnya membuat fikiran melayang mengingat berbagai macam memori kenangan yang lalu…..  nostalgia……asyik…..&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   &lt;br /&gt;Bersama beberapa saudaraku yang sebagian besar juga penggemar alam liar, kususuri garis pantai tenggara menuju ke sebuah Kabupaten yang kini sohor karena emasnya. Beberapa waktu lalu sebuah kisah gempar merebak di masyarakat kalau seorang penduduk tak sengaja menemukan emas di suatu tempat. Tak pelak, dalam waktu sebentar saja, tempat itu menjadi sentral pencarian uang mendadak. Kabupaten Bombana! Seketika terdengar agak unik di telinga kami anak-anak dari selatan. Entah mengapa, mungkin karena tak terbiasa mendengar nama-nama seperti itu. Seharian di perjalanan, tibalah di sebuah kota kecil yang menjadi pusat kabupaten. Memang kecil kalau dibandingkan dengan kota-kota kabupaten lainnya. Bahkan bisa dikatakan hanya sebuah kota kecamatan untuk ukuran kami di Selatan. Disana terpaksa pula menginap di wisma karena kemalaman. Sangat bertolak belakang dengan rencana sebelumnya bahwa kami akan terus ke destinasi masing-masing.&lt;br /&gt;Cerah pagi menyambut dengan hiruk-pikuk kota kecil bernama Kassi Pute. Disitu pula awal dari perpisahan kami, masing-masing menuju ke setiap penjuru wilayah sesuai target yang telah diatur sebelumnya. Kupercepat langkah menuju ke pangkalan ojek terdekat.  Disitu ku mulai mengeluarkan aksi jitu bersilat lidah dengan tukang ojek yang memang sedari tadi menanti tumpangannya. Beberapa waktu berlalu, usai sudah tawar menawarnya. Kusewa dan langsung saja ke tujuanku, Desa Lombakasi. Sekali lagi aku sedikit heran dengan nama tempat daerah ini. Makin jauh makin aneh saja. Lumayan jauh juga tempat berjuluk aneh itu. Kuselidiki sedikit tentang namanya, rupanya gabungan dari nama tiga suku. Lombok, Bali, dan Kassi Pute. Tiga nama itu jadi repreentasi dari penduduk yang ada. Sebagian besar adalah warga yang merupakan hasil program kerja presiden terdahulu. Program kerja berjuluk transmigrasi yang sedikit banyak membuat perubahan pada tatanan hidup masyarakat negeri ini. Entah apakah semakin baik atau semakin buruk. Hanya mereka yang mengalami mampu berbicara persoalan itu.&lt;br /&gt;Malam itu kuhabiskan malam bersama sang kepala desa yang kebetulan menjadi tuan rumahku kali ini. Agak letih juga rasanya habis berjalan keliling kampung. Waktu itu pula si Kades memulai kelakarnya tentang kisah tambang emas. Berbagai hal yang kudengar darinya. “Lumayan asyik juga si kades ini”… bisikku dalam hati. Mulai dari cerita ditemukannya benda kecil nan mahal itu, sampai pada suka duka mereka yang mendulang mengadu nasib di tambang emas. Dari kisah perselingkuhan sampai pada kematian ratusan penambang emas akibat reruntuhan tanah yang menghimpit mereka. Katanya, Bombana ini menjadi sorotan utama masyarakat pada waktu itu. Dari semua pelosok pulau ini, bahkan dari Jawa dan sumatera juga ada yang rela mengarungi lautan demi mencapai tanah yang menyimpan sejuta kekayaan itu. Bombana ibarat muara yang menjadi pusat pertamuan arus dari berbagai sumber anak sungai. Sesak dan tak pernah henti dari aktivitas menambang. Sampai pada suatu ketika tambang emas ini mulai dilirik oleh golongan pemodal alias kapitalis. Sampailah titik akhir dari semua mimpi-mimpi dan angan para penambang untuk bersimbah uang. Wilayah pertambangan akhirnya di kapling dan mulai pulalah babak baru dari kisah tambang emas ini. Sepi dan semua kembali ke episode sebelumnya. Mereka kini hanya mampu menatap dan mendengar pekik alat berat perusahaan menderu-deru memburu si kecil kuning nan mahal itu. &lt;br /&gt;Si kades terus bercerita. Bahkan ia sempat menceritakan sebuah kisah tentang dirinya. Dia berkata bahwa dirinya sendiri pernah mengadu nasib di sebuah kali kecil mencari sebutir dua butir emas. Hanya dengan modal kuali dan sekop, sudah dapat membawa pulang 50 gram emas dalam semalam. “ Bukan jumlah yang sedikit untuk ukuran kita” katanya lirih. Sungguh anugrah yang luar biasa mengapa di kabupaten bombana ini ada benda mahal yang kini menjadi rebutan para golongn pemodal yang masing-masing ingin saling menguasai.&lt;br /&gt;Esok hari kulanjutkan perjalanan ke pelosok desa yang ternyata jauh dari dugaanku sebelumnya.  Tinabite, nama desa itu. Jaraknya sekitar 50 kilometer dari desa Lombakasi. Bermodalkan tekad dan semangat jiwa petualang muda, kuminta peta manual dari kepala desa agar tidar tersesat disana. Dia menemani sampai di sebuah bendungan megah. Alhasil, perjalananku kali ini hanya dengan modal peta dari goresan tangan si Kades dan sedikit pesan darinya. Beberapa tambang emas sempat menarik perhatianku di sepanjang jalan, apalagi  beberapa papan tanda larangan yang berbunyi “ DILARANG MENAMBANG DI AREAL INI “.  Dibagian bawah tertulis nama PT yang berkuasa, membuat kepercayaanku akan cerita si Kades malam tadi menguat serta-merta. Inilah yang menjadi keluhan warga bombana yang kini kembali mengolah sawah dan kebun mereka.&lt;br /&gt;Kujabat erat tangan kekar milik si kades muda itu dan pamit padanya sebelum melintasi sungai dengan air setinggi pinggang orang dewasa. Cukup banyak dia membantuku dalam perjalanan ini. Kuucapkan terima kasih, dan dibalasnya dengan anggukan kecil dan tersenyum bangga. Aku mulai turun ke sungai.  Maklum, tak ada jembatan yang dibangun. Sungguh meyedihkan untuk sebuah wilayah pertambangan yang kaya akan hasil bumi. Jembatan saja tak mampu diwujudkan, walau sudah tahu bahwa dananya tidak akan menggoyahkan modal perusahaan yang mengelola. Ah…. Tak ingin ku berfikir jauh tentang itu. Aku hanya ingin memikirkan jalan mana yang harus kulewati selanjutnya.&lt;br /&gt;Melintasi jalan lumpur, bentangan sungai luas, savana nan panas membahana, serta belantara yang diselimuti daun lebat tak pernah sedikit pun membuat sorot semangatku mencapai destinasiku selanjutnya… “ Desa Tinabite”. Malam mulai tampak, kususuri jalan sempit dengan lumpur yang berhias jejak hartop di kiri dan kanannya. Tak kuduga ada juga sosok mereka yang igin tetap setia bermukim di hutan ini. Hanya dihibur pekikan jangkrik liar hutan sudah cukup membuat senyum-senyum terukir diwajah mereka. Senyum yang dihiasi sedikit raut letih bekerja seharian di kebun dan hutan-hutan. Dari situ aku tahu, “ HIDUP BUKAN HANYA SEBATAS COBAAN, TAPI DIBALIK KERASNYA HIDUP INI SELALU ADA BAHAGIA YANG MEWARNAI.” ………………. Ichal_bandotQue.E.103.09.L.A.89.FIB-UH.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5139741108899141277-9158280532052557955?l=tambuks.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tambuks.blogspot.com/feeds/9158280532052557955/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tambuks.blogspot.com/2010/09/bombana-is-today.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5139741108899141277/posts/default/9158280532052557955'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5139741108899141277/posts/default/9158280532052557955'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tambuks.blogspot.com/2010/09/bombana-is-today.html' title='BOMBANA IS TODAY'/><author><name>ichal_bandot</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03820352006467403448</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-9Yemwtyjs8A/TjDxzZnS5hI/AAAAAAAAAJk/W1PKrp7NJZQ/s220/richard%2Bn%2Bthe%2BGilis.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5139741108899141277.post-4695857305001195789</id><published>2010-08-15T09:03:00.000-07:00</published><updated>2011-03-25T22:47:18.485-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ADVENTURE'/><title type='text'>cerita singkat tentang perjalanan yang panjang</title><content type='html'>“BUNGA ABADI”&lt;br /&gt;DALAM PELUKAN BELANTARA KAMBUNO&lt;br /&gt;19 FEBRUARI-04 APRIL 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal yang tidak terlalu baik bagiku untuk melanjutkan rencana pendakian perdana ini. Dalam keraguan yang masih selalu melekat dalam benak, kucoba sembunyikan semua dengan tetap menatap jauh ke arah semaraknya dunia puncak yang sering kudengar lewat cerita-cerita “mereka”. Katanya, kalau sudah di atas sana,semua terasa indah dan seakan segala yang diimpikan sudah ada dalam genggaman. Hanya itu yang selalu meredam keraguan yang masih tersisa.&lt;br /&gt;Kapan lagi aku bisa merasakan semua itu. Gejolak rasa penasaran semakin tak mau saja di ajak bercanda. Sudahlah…………. Dengan sisa uang yang kulipat rapi dibalik dompet hitamku, kupersiapkan segala yang kurasa bakal menjadi dewa- dewi penyelamatku di atas sana.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   &lt;br /&gt;19 feb 2010………..&lt;br /&gt;Pukul 08.00 malam, ketika itu sebuah ruangan sempit yang tertata rapi bertuliskan “UKM PA EDELWEIS FIB-UH” diatas daun pintu, terlihat agak sesak dipenuhi barang-barang dan segala persiapan perjalanan. Terlihat pula beberapa orang dengan rambut diikat rapi mondar-mandir seakan kehilangan sesuatu yang berharga. Rupanya , mereka tengah sibuk menata carrier masing-masing. Rasanya, tak pernah puas untuk memandangi betapa perkasanya carrier itu ketika berada di balik pundak. Sepertinya,lengkap sudah semuanya,dan tak ada lagi yang perlu di ragukan untuk memulai sebuah perjalanan panjang yang tak pernah terduga sebelumnya. Masih terlihat senyuman bangga dari kami waktu itu. Entahlah bangga karena apa, hanya aku dan mereka yang tahu itu………kuangkat carrier berat itu naik ke bus yang sudah menanti. Deru mesin bus antar kota berlabel “ alam indah” di pojok atas kaca depannya, mengiringi lelapnya para petualang muda menuju lokasi. Tempat dimana kami akan memulai sebuah rangkaian cerita panjang yang sulit dihapus dari galeri PPAB XV.&lt;br /&gt;Siang hari tanggal 20 februari 2010, dengan tenaga yang masih terlalu prima, kami mulai melangkah cepat dan pasti menuju belantara yang ternyata tidak seperti yang biasa dalam imajinasiku. Kini, kami benar-benar ada dan berjalan di balik liarnya rimba. Semakin lama, rasanya semakin berat saja tubuh,carrier dan kaki ini. Melewati jalan setapak sempit, langkah kami selalu diatur oleh iringan canda tawa yang agak sedikit kaku, mungkin ulah dari nafas yang masih memburu. Waktu berlalu begitu saja, belasan kilo bahkan terbilang puluhan kilometer sudah kami berjalan menelusuri berbagai macam tumpukan batu aneh dan tanah kering. Terkadang, batinku ingin tertawa ketika melihat jiwa perkasa yang tersemat dalam raga senior maupun saudara-saudaraku terusik oleh rapuhnya jembatan gantung tua yang harusnya tidak dipakai lagi. Dipakai untuk menyeberang sungai yang tidak terlalu luas itu…… barangkali lebih baik untuk turun dan melintasinya tanpa jembatan. Kadang aku harus jujur bahwa rasa takut dan ragu yang begitu besar dalam sanubari, coba kulempar jauh-jauh agar tak terlihat oleh mereka. Sebegitu ironiskah untuk menjadi seorang “pejantan tangguh”? kata “Sheila on 7” dalam lagunya. semua itu kami anggap sebagai bagian dari sengitnya pertarungan melawan arus liar belantara. Sepanjang jalan, sudah banyak upaya yang terlihat untuk membuang rasa haus dan penat lelah. Lelah yang kian menjadi sebab utama mengapa langkah ini semakin perlahan saja. Kadang, di sudut jalan tertentu terlihat tumpukan kulit durian yang dihinggapi lalat rimba. Tidak jauh pula dari tumpukan itu,terlihat pohonnya yang menjulang, menggenggam puluhan buah yang aromanya kian menusuk rongga hidung. Makin semangat saja aku waktu itu, walau tak begitu suka dengan buah itu, kupaksakan untuk merasakan hangatnya kebersamaan bersama saudara-saudaraku, para petulang muda berbakat. Senyuman dan canda kembali menghiasi cerita panjang ini ketika aku dan mereka duduk melingkar menikmati satu persatu manisnya buah durian. Jemari perkasa mereka dipenuhi sisa durian yang kian habis dilahap sampai habis di ujung nikmatnya.&lt;br /&gt;Menapaki bebatuan yang berhambuaran di atas jalan pengerasan milik para penebang kayu dahulu, kulit kakiku terasa panas bahkan mengelupas tergesek kerasnya besi yang menempel di ujung sepatu. Besi yang konon fungsinya sebagai pengaman, tapi ternyata menjelma menjadi predator ganas menghambat langkah kakiku. Sudah 5 hari menuju kaki gunung, sudah 3 malam kedinginan, tidur dalam rasa was-was akibat cerita-cerita mistis dan tingkah kesurupan si gadis yang sempat ikut dalam perjalanan ini. Apakah kali ini, kami akan dihadapkan pada sebuah pencapaian yang belum pernah kami dapatkan. Rasanya, terlalu banyak hal yang selalu jadi sumber masalah. Mulai dari surat menyurat, entah apa tujuannya sampai kami harus menginap di gubuk penuh coretan ala petualang masa lalu. Ditambah pula dialog mistis dengan penghuni gunung yang konon mencoba menghalangi perjalanan kami. Sungguh diluar batas pemikiran logika seorang pemuda seperti kami . Namun, tidak bisa dipungkiri jika semua itu sempat merasuk akal sehatku, keyakiananku kini akan mistiknya dunia semakin menjadi-jadi saja.&lt;br /&gt;Dihadapkan pada berbagai problema,kami tetap terus melangkah menuju mencari destinasi yang menjadi tujuan awal kami. Dua hari di gubuk persinggahan para tukang ojek rimba,membuat tenaga kami kembali pulih. Hanya tulisan dari arang dapur yang setia menghiasi dindingnya menjadi penawar rasa jenuh menanti hari berganti. Tulisan singkat nan kaku yang kadang membuat gelak tawa silih berganti menjadi bahan celotehan sang petualang-petualang muda. Kalimatnya terkesan agak serius dan mungkin sangat berarti jika ada niat untuk merenungi. “ hidup tanpa penderitaan, tidak akan sukses di segala bidang” kata mereka. Bunyinya kuno, tetapi barangkali itulah realitas kehidupan yang sesungguhnya. Sangat sulit untuk menemukan kalimat seperti ini bagi kami civitas akademika yang terbiasa dengan tulisan indah milik penulis yang tersohor namanya…&lt;br /&gt;Ayunan langkah dan derap sepatu kulit kembali terdengar saat kami melanjutkan perjalanan ke titik akhir yang sudah ada dalam kerinduan teramat sangat. Aku selalu berdoa agar waktu cepat berlalu dan membawaku ke singgahsana indah milik trianggulasi, sang penghuni tunggal puncak Kambuno. Selalu saja terbayang sekilas dalam kepala ku, betapa damai suasana saat aku berdiri di balik kabut tebal dengan hembusan nafas panjang rasa puas. Tidak terlalu lama untuk sampai ke kaki gunung. Kami terus beranjak dari satu titik ke tanah yang lebih tinggi, kata gps yang dibalut perpaduan warna kunig dan hitam. Sebuah alat yang merepresentasikan bahwa manusia semakin pintar saja menguasai dunia.&lt;br /&gt;Mulai menarik meteran di kaki gunung menyambut lelah kami menuju ke pos berikutnya. Rasanya semakin berat saja beban di pundakku, padahal baru saja cairan spritus yang masuk dalam daftar perlengkapanku membakar padat beras untuk makan siang. Saudara-saudaraku kelihatan sibuk dengan dengan alat ditangan, dan suara keras lantang terdengar tiap kali meneriakkan angka dengan satuan alat yang di gunakan kepadaku. Kutulis rapi semua yang kudengar agar tidak sia-sia semua yang mereka dan aku lakukan. Itulah awal dari jejak langkah generasi baru bunga abadi “edelweiss” dalam sebuah pendakian melelahkan.&lt;br /&gt;Sambil meneguk air dari veldples sederhana dari botol AQUA, kami duduk sejenak melepas penat disamping kerumunan rumput liar pos 2. Nikmatnya asap rokok menghiasi nafas yang masih terengah-engah. Walau hanya sebatas rokok murah dan tak pernah kunikmati bahkan kulihat, entah mengapa rasanya seakan menundukkan cerutu mahal milik kaum elit di ibu kota. Barangkali, dari rokok hasil plagiarisme ini, aku dan saudara-saudara ku bisa belajar dan mengerti arti penting nilai dari sebuah benda yang terkadang terasa gengsi untuk dinikmati. Sebuah pelajaran sederhana dan berarti yang mungkin belum tentu bisa di peroleh dengan duduk diam diruang kuliah mendengar celoteh dosen yang panjang lebar. Ingin kurebahkan tubuh ini dimana saja walau hanya beberapa menit saja. Kulihat tetesan keringat dari wajah saudara-saudaraku. Walau tampak lelah, selalu saja terukir senyum yang tak semanis biasanya. Aku bersyukur, betapa beruntungnya bersama mereka dan turut memiliki canda tawa itu dalam wujud kebersamaan, seperti kata senior-senior ketika aku baru sebulan menapaki dunia kampus yang penuh tanda tanya. sebuah momen indah tak terlupakan ketika ingin diputar kembali dalam memori kumpulan kenangan masa laluku..&lt;br /&gt;Kabut petang kian menyelimuti punggungan kecil di depan mata, ketika langkah kami sudah hampir tiba di pos 3. Enak rasanya merebahkan tubuh dalam tenda mungil yang ku pasang rapi di sudut camp. Aku memulai lagi imajinasiku jauh menerawang ke hingar- bingar bunyi klakson mobil di gerbang kampus. Bisa kurasakan hangatnya kota pada malam itu walau berada di tengah dingin kabut malam gunung Kambuno. Terbayang pula semaraknya kampusku esok hari, ketika para gadis-gadis remaja nan molek berdandan cantik melenggang di depan kantin, milik para ibu tua yang setia dengan dagangannya. Aku semakin jauh melayang,kini kulihat ruang kuliahku diisi teman-temanku yang kelihatan serius mendengarkan dosen mitologi yunani mendongeng ria. Sekali-kali, ada yang mengangguk sok tahu mencari simpatik dari dosen baik hati itu. Di pojok belakang ruangan, beberapa senior 3 tahun di atasku cuek dengan fikirannya masing-masing. Mungkin sedang memikirkan apa yang akan ditulis dalam BAB 1 skripsi yang tertunda. Sementara itu, sebuah kursi tepat di bawah air condisioner , tempat nyaman yang sering kutempati terlihat terisi seorang gadis berjilbab besar ala timur tengah menggantikan aku. Kadang aku sedikit menyesali, mengapa aku harus ada di tempat ini, sedangkan ada ilmu yang jelas akan kudapatkan lewat ruangan kuliah itu. kemudian kupikir pula betapa hebatnya nya ceritaku ketika aku pulang, tentu dengan antusias teman-teman dekatku bertanya semua yang aku alami dalam kepergianku. Semakin berwarna saja imajinasiku malam itu, sampai kudengar suara memanggil untuk beberapa suap nasi dicampur lauk ala outdoor, dan lamunanku pun berakhir.&lt;br /&gt;Tidak terlalu banyak yang bisa digoreskan dalam cerita singkat sepanjang lereng-lereng curam milik punggungan indah di gunung kambuno. Hanya momen keracunan jamur kuping, tercampur jamur beracun menghiasi malam sebelum menuju pelataran tertinggi milik Gunung Kambuno. Pelataran dimana kami mengabadikan momen bersama trianggulasi tua yang tampak mulai dipenuhi lumut. Baru kusadari sudah sepuluh hari perjalanan di belantara, tanpa pernah kuingat apakah ada seseorang yang merindukan ku.. cepat-cepat kuhapus pikiran itu, mungkin bukan saatnya mengingat cinta kasih di sebuah puncak mistis seperti Gunung Kambuno. Rindu dan merindukan bagiku adalah hal biasa dan tidak perlu dipermasalahkan. Yang kubutuhkan sekarang adalah sebuah jawaban tentang apa sebenarnya tujuan kami berada di samping trianggulasi ini. Belum sempat kutarik sebuah kesimpulan, instruksi dari pendamping menggerakkanku bersama saudara-saudaraku memulai lagi kegiatan pengukuran yang sempat tertunda. Plat koordinat pos lengkap dengan elevasi, ditempel di sebatang pohon yang bagus letaknya. Sengaja di pasang di Pohon yang Keras dan kuat, agar bisa menggambarkan jiwa perkasa yang dimiliki para “ edelweiser”. Di sisi bawah plat berlatar kuning, tertulis kalimat yang merepresentasikan aku dan saudara-saudaraku untuk sebuah hasil yang bisa di bawa pulang. Melihat plat itu suatu saat nanti, tentu ada yang bisa kami banggakan ketika ada yang memanfaatkannya.&lt;br /&gt;Kembali kami menarik meteran panjang untuk mencari data jarak dan kemiringan dari jalur gunung Kambuno. Kali ini agak sedikit mudah karena kami sudah berjalan turun dari puncak. Dalam hati berharap besar kami dapat menemukan saudara –saudara kami yang hilang beberapa waktu lalu di celah padat pohan liar lembah dalam sebelah utara . menyusur sungai sempit di bawah pohon besar menjadi sebuah langkah jitu dalam menemukan mereka. Sudah sebulan mereka hilang disini, entah kemana rimbanya hanya tuhan yang tahu pasti keberadaan dan nasib mereka. Pohan-pohaon besar yang diameternya tidak bisa mempertemukan kedua jari tangan orang dewasa menjadi payung lebar yang menutup cahaya di balik lembah itu. Hanya beberapa titik cahaya saja yang terlihat beruntung dapat menembus lebat dedaunannya. Menimbulkan suasana agak gelap dan semakin tampaklah mistik yang membuat bulu tengkukku sedikit terbangun dari posisinya. Memang terlalu banyak rahasia alam tersemat dalam belantara ini. Kami terus saja menyisir kiri dan kanan anak sungai itu, sampai ketika kami tiba-tiba saja kembali ke pos 3 yang menjadi camp 2 hari yang lalu. Sudah kuduga memang untuk sebuah pencarian sperti ini, tidak mudah untuk mendapatkan hasil yang dicari. Dengan berat langkah ini, kami kembali mengayuh roda kaki yang memang sudah berat untuk kembali melangkahi jalan setapak menuju ke pos 5.&lt;br /&gt;Sudah hampir dua minggu dalam hening rimba, kami memutuskan untuk turun dan kembali menyusuri pengerasan panjang sejauh 45 km. Memang sangat berat jika ingin dibayangkan betapa banyak langkah yang akan kami hasilkan untuk sampai ke Desa Malimbu, tempat kami mulai menapaki rimba ini. Manakala semua rincian barang makanan yang masuk dalam daftar logistik kami hanya menyisakan beberapa liter beras dan garam. Kegelisahanku semakin menjadi- jadi, apakah mampu bagi kami untuk tetap bertahan melalui ratusan tanjakan di jalan pengerasan itu. Kelak, pasti tidak akan kulupa jika sampai aku tidak memakan apapun selama tiga atau 4 hari nanti. Semunya semakin kelihatan tidak baik-baik saja. Beberapa saudaraku sudah berulag kali mengungkapkan wujud penyesalan nya. Coba ku ingatkan bahwa semua akan berakhir dengan cepat dan kita akan sampai di kasur empuk beberapa waktu lagi. Mereka hanya diam, sinis menatapku seakan tidak ada kata yang benar keluar dari bibirku. Disinilah, sebuah panji kebersamaan untuk jalan bersama mengawali langkah anak muda “EDEELWEIS”. Sebuah cerita yang nantinya akan menghiasi galeri PPAB XV dalam berbagi warna kisah petualangan di kancah para sivitas akademika.&lt;br /&gt;Sungguh nikmat rasa nasi dicampur sedikit garam menjadi santapan siang dan malam sepanjang jalan. Karena rasa persaudaraan yang kian menebal di hati, semua semakin tak terasa bahwa kami sedang ada dalam sebuah keadaan gawat darurat. Ada ada saja yang menjadi bahan racikan dan menu baru yang tercipta. Semua lahir begitu saja dan menghasilkan citarasa khas rimba yang tidak punya sebuah nama. Nikmat dan mantap. Itu barangkali kata yang cocok untuk semua menu baru para EDELWEISER. Langkah demi langkah semakin membuat lemah raga ini. Sudah sekian hari menatap warna hijau kadang membuatku ingin terus menutup mata berjalan menyusuri jalan setapak. Aku dan saudaraku pasti rindu akan gemerlap lampu neon di tepi jalan. Sisa tenaga dan segenggam semangat membawa kami pada jembata n gantung pinggira Desa Malimbu yang sudah tampak dipenaruhi modernisasi. Hidup memang susah jika dilalui sendiri tanpa ada teman yang menemani. Terbesit sebuah kata bijak dari fikiranku yang lelah karena capek yang luar biasa. Kulirik saudara-saudaraku, terukir kembali senyuman tanda ikatan persaudaraan yang kental tercipta. Suara-suara parau mereka kadang terdengar sayup mendendangkan lagu-lagu bahagia tanda rasa senang yang tidak terhingga. Menanti truk mungil yang dulu kami tumpangi, asap rokok selalu saja mengepul dari rongga mulut para EDELWEISER. “Kini kami sudah kembali ke peradaban yang sebenarnya setelah sekian lama berkelana dalam pelukan belantara milik gunung kambuno”. Kuangkat kedua tangan dan kulambaikan kearah selatan, tempat berdirinya Gunung Kambuno ketika truk mungil membawa kami pergi dari jembatan gantung Desa Malimbu. Tanpa sadar, bukan hanya diriku yang melakukannya, saudara-saudaraku yang gagah berani juga sempat melambaikan tangan bahkan diiringi dengan sorakan puas sebuah petualangan. Tentu saja udara segar nun jauh di balik kabut itu masih bisa kurasakan walau semakin jauh dari pandangan mata.&lt;br /&gt;4 maret 2010……………………………………………….&lt;br /&gt;Malam di bus menuju Kota Makassar , terdengar lantunan lagu melankolis melayu yang mengantar lamunan kami ke tiap detik hembusan nafas lelah beberapa waktu lalu. Baru saja berakhir sebuah kisah indah yang penuh cerita dari dingin kabut rimba di atas gunung. Aku berharap agar harum bunga edelweiss akan tetap abadi dalam setiap bongkahan batu dan tumpukan tanah tinggi belantara Kambuno. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5139741108899141277-4695857305001195789?l=tambuks.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tambuks.blogspot.com/feeds/4695857305001195789/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tambuks.blogspot.com/2010/08/cerita-singkat-tentang-perjalanan-yang.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5139741108899141277/posts/default/4695857305001195789'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5139741108899141277/posts/default/4695857305001195789'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tambuks.blogspot.com/2010/08/cerita-singkat-tentang-perjalanan-yang.html' title='cerita singkat tentang perjalanan yang panjang'/><author><name>ichal_bandot</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03820352006467403448</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-9Yemwtyjs8A/TjDxzZnS5hI/AAAAAAAAAJk/W1PKrp7NJZQ/s220/richard%2Bn%2Bthe%2BGilis.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5139741108899141277.post-6621506959724960349</id><published>2010-08-15T08:47:00.000-07:00</published><updated>2011-03-24T09:35:04.749-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ADVENTURE'/><title type='text'>“TOTAL ADVENTURE” MENUJU ATAP SULAWESI</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;“TOTAL ADVENTURE” MENUJU ATAP SULAWESI&lt;br /&gt;E.103.09.L.A.89.FIB-UH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berangkat dengan bermodalkan tekad bulat mengantar aku dan empat saudaraku menuju puncak tertinggi pulau Sulawesi. “Gunung Latimojong”….., begitu panggilannya. Walau menuai banyak kritikan dan sejumlah kekhawatiran, tekadku sudah tak terbendung lagi untuk tetap melangkah ke depan karena kuyakin bahwa aku pasti mampu menginjakkan kaki di puncak sana, melihat betapa besarnya keagungan sang khalik dari atap Sulawesi. Belum lagi cerita–cerita mistik yang selalu mewarnai awal dari kepergianku bersama beberapa saudaraku yang juga punya tekad sama seperti diriku. Semua cerita kupendam dalam-dalam dan kusimpan jauh di lubuk hati biar semangatku tak kendor sedikit pun. Biar tetap membara bak bunga api “EDELWEIS” yang tak pernah layu diterjang musim. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;  &lt;br /&gt;Pukul 06.30 WITA, tanggal 01 agustus 2010, sebuah mobil plat kuning menjemput awal perjalanan kami dari kampus merah Universitas Hasanuddin. Kami melingkar sejenak, tunduk meminta petunjuk dan perlindungan kepada sang maha kuasa sebagai langkah awal perjalanan pagi itu bersama beberapa saudara EDELWEISER yang turut melepas keberangkatan kami. Di mobil sempit penuh barang itu, tak mampu lagi kutahan kantuk yang sedari tadi membuat pening kepala sekalipun duduk dalam posisi tidak wajar untuk sebuah perjalanan ratusan kilometer. Hanya sesekali kuterjaga tuk memastikan dimana posisi saat itu. Mobil mungil itu melesat kencang membawa kami meninggalkan kota Makassar sampai ke wilayah sekitar kaki Gunung Latimojong, kecamatan Baraka tepatnya. Dari situ pula, kami kembali harus terpontang –panting di atas sebuah truk pengangkut barang melewati jalan bebatuan yang kelihatannya sudah tak layak pakai. Berlumpur dan berlubang, belum lagi daun-daun salak yang terkadang menghantam wajah bila tidak siaga. Tapi senang rasanya melewati jalur itu. Terlihat panorama lembah dengan kabut-kabut tipis menghiasi beberapa titik lereng pegunungan nun jauh di sebelah sana. Mataku terus memandangi indahnya kombinasi hijau dan putih dari atas truk mungil sembari tetap menggenggam erat besi di pinggiran truk. Walau terpontang-panting akibat kondisi jalan yang rusak parah, hatiku tetap bersenandung ria menikmati indahnya petualangan kali ini. “Total adventure” bisikku dalam hati ketika kami harus turun dan menarik truk itu dengan tambang saat terkubur dalam ganasnya lumpur. Beberapa kali itu terulang sampai pada satu titik, seorang pak tua yang juga ikut menumpangi pesona perjalanan mendebarkan itu terhantam besi truk. Keningnya beradu menghantam kerasnya baja. Tak pelak, darah merah segar mengucur deras dari keningnya yang sudah tampak mulai berkeriput termakan usia. Suasana hening seketika , beberapa orang di atas truk mulai panik. Kuraih carrierku, mencari sebuah kotak yang memang menjadi benda tak terlupakan dalam setiap petualanganku. kotak p3k yang lengkap terisi sejumlah alat medis sederhana sesuai dengan namanya. Kedekati pak tua yang lagi memegangi keningnya. Tampak jelas dari wajahnya kalau dia sedang meringis kesakitan. Kuberikan sedikit sentuhan medis ala petualang bersama saudara-saudaraku yang ikut membantuku. Seribu ucapan terima kasih terlontar dari bibir pak tua usai kubalut lukanya. Kubalas dengan senyuman dan anggukan kecil lalu kembali beranjak ke atas truk bersiap untuk melanjutkan perjalanan. Sejenak kuberpikir, bangga juga rasanya bisa membantu pak tua itu walau hanya dengan sedikit alcohol, obat luka dan sejengkal kain kasa dilengkapi plaster perekat. “Satu dari tridarma perguruan tinggi, pengabdian kepada masyarakat” bisikku dalam hati. Hahahaha………………..lumayan.&lt;br /&gt;Satu jam lebih di atas truk, kami sampai di sebuah dusun. Truk behenti dan memaksa kami melangkahkan kaki dengan carrier yang masih padat. Tapi itu tak jadi masalah bagiku, mumpung tenaga masih sangat prima. Malam tiba, kami tetap bersikeras melangkah walau lumpur jalan sudah mencapai mata kaki. Untung saja, sepatu ¾ yang kupakai masih mampu membalut kaki ini dari lumpur-lumpur sisa mobil hartop khas jalan berlumpurl. Tak mampu lagi berjalan karena didera perut yang kosong, kuputuskan untuk singgah saja di sebuah rumah berhias sebiji lampu pijar. Lampu yang kadang padam karena pasokan tenaga yang minim. Kata si pemilik rumah, hanya dinamo kecil yang dipasang di aliran sungai sebagai pembangkit tenaga si lampu pijar mungil. Pantas saja kelihatan redup, persis seperti cahaya lilin yang tertiup angin sepoi. Kadang terang, kadang pula redup tak bercahaya. Kami menginap di rumah itu. Mantap…… dingin malam khas daerah pegunungan mulai menusuk sampai ke tulang sum-sum. Untung saja sleeping bag mampu menghangatkan lelapku sampai fajar kembali nampak dari celah gunung sebelah timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HARI-2&lt;br /&gt;Tulang punggungku terasa ngilu pagi itu. Mungkin karena semalaman menggendong carrier 120 L yang masih padat terisi ransum, ditambah pula olahraga di atas truk yang sempat membuat ciut nyaliku. Kurapikan kembali carrierku. Begitu pula saudaraku yang lain. Kami pamitan dengan sang pemilik rumah, sebelum membelah hening pagi itu dengan langkah sedikit cepat. Artinya sama dengan kecepatan berjalan normal jika tanpa beban. celakanya, seringkali langkah kaki perkasa itu terhambat lumpur yang sama sekali tak mau memberi ruang untuk berpijak. Ya, sudahlah! Kata Bondan Prakoso…. Biar saja sepatu ini berubah warna menjadi cokelat. Tawa saudara-saudaraku terdengar ketika melihat sepatu kami menjadi satu warna seperti kumpulan anak SD yang sebentar lagi akan mengikuti perhelatan gerak jalan indah acara HUT RI. Tiga jam berjalan, kami tiba di dusun sebelah, sebuah kampung yang kelihatannya agak ramai, Rantelemo namanya. Dari situ, target destinasi kampung terakhir masih tersisa empat kilometer menurut warga sekitar. Kembali kami duduk sejenak di halaman sebuah rumah dipenuhi bunga indah di balik pagarnya. Cukup untuk melepas lelah dan menikmati sebatang rokok dengan secangkir teh buatan ibu pemilik rumah. Pekat dan manis, mengalahkan teh dingin di kota metropolitan yang biasa kuteguk dari botol kaca. Botol kaca mungil berlabel softdrink, buatan pabrik dalam negeri yang menjadi andalan warung-warung tepi jalan melengkapi padatnya kota Makassar. Entah racikan seperti apa yang membuat teh itu terasa mampu mengembalikan tenaga yang terkuras sedari tadi. Terima kasih ibu!!!!!!!!! Kau telah mengisi kepingan kisah pendakian ini walau hanya sekedar beberapa menit saja.&lt;br /&gt;Ketika nafas sudah mulai normal kembali, kami terus bangkit dari tembok lantai halaman tuk kembali melangkah ke tempat dimana kaki Gunung Latimojong berpijak. Dusun “Karangan” namanya. Lengkap sudah lelah ini akibat tanjakan yang tak kunjung berakhir. Berliku dan tak ada habisnya sampai tak ingin lagi rasanya bersuara. Pantas saja, tak ada canda tawa yang mengiringi langkah sepanjang jalan menuju kampung itu. Kami sempat menikmati kopi dan sedikit cemilan sesampai di perkampungan itu. Agak lama kami duduk sebelum memasuki pintu rimba kaki gunung. Kunyalakan GPS, kulirik ketinggian tempat itu. 1419 mdpl…… pantas saja terasa dingin mulai menghambat nafasku, pedis rasanya. Kuraih raincoat hitam dan kupakai rapi agar baju kebanggaan bertuliskan EDELWEIS di dada tak basah diguyur hujan yang mulai turun. Begitu gagah rasanya memakai baju itu. Ada kebanggaan tersendiri yang kurasa walau hanya selembar baju yang persis sama bahan dasarnya dengan baju-baju lain. Mungkin karena rasa cinta dan segenggam ilmu yang kudapat dari tulisan yang terpampang di dadanya. Kami terus melangkah menyusuri setapak sempit dikelilingi pohon kopi. Naik turun punggungan ke punggungan yang lain. Lututku rasanya seperti ingin jatuh ke tanah. Kadang bergetar dan membuat langkah ini terhenti tuk sejenak melabuhkan punggung ke rerumputan di pinggir jalan setapak. Untung saja persiapan fisik sebelum berangkat sudah kupermantap. Target sore itu, kami mampu menembus pos 2 tanpa ada yang tahu jelas, jalan mana yang harus kami susuri. Hanya sedikit informasi yang selalu segar dalam ingatanku menjadi penuntun langkah ini akan dibawa kemana. Lega rasanya setelah melewati berbagai tanjakan, menyisir lereng panjang, bahkan sempat kesasar ke jalur lain, kami tiba di tepi sungai dimana sebuah bongkahan batu besar menjuntai membentuk ruang nyaman di bawahnya. Itulah pos 2. Deru air sungai menghiasi istirahat kami malam itu. Ditambah lagi suasana di bawah “bivouk alami” menjadikan malam itu menjadi salah satu memori indah petualangan ini. Benar-benar sebuah nuansa outdoor yang dapat melahirkan beribu rangkaian kata indah saat menggoreskan tinta di sebuah notebook Kecil. Notebook yang selalu saja merengek ingin ikut serta dalam tiap perjalananku. Banyak bait puisi yang mampu tercipta untuk menyentuh hati sang kekasih tercinta, goresan singkat tanda terima kasih buat sosok wanita yang melahirkan. Saat itu pula, terkenang lagi wajah ibu tercinta nun jauh disana. Ahhh…!tak ingin kuteruskan khayalan itu. Akan panjang lamunanku jika terus-terusan berimajinasi. Saat ku sudah tak mampu lagi bersimpuh rapi di hadapan lilin, ku berdiri beranjak masuk ke dalam tenda yang sudah siap dengan matrasnya. Berbaring di samping saudara-saudaraku yang lebih dulu berlabuh dalam buai mimpi masing-masing. Sungguh, tidur dibaluti sleeping bag dalam tenda ini memang tak ada tandingannya waktu itu. Dingin menusuk di pos 2 dipadu dengan deru air sungai menemani lelap kami menerobos malam di Gunung Latimojong.&lt;br /&gt;HARI – 3&lt;br /&gt;Pagi hadir diiringi gerimis menetes, seperti biasa badan terasa pegal dan berat rasanya tuk bangkit dari pembaringan. Janji tuk berangkat lebih awal sepertinya sulit terlaksana. Dingin mengalahkan hembusan nafas hangat rongga hidungku. Tubuhku menggigil keras pagi itu. Fikiranku melayang jauh, entah apa yang kufikirkan saat itu. Kulirik saudaraku disamping masih terus nikmat dengan tidurnya. Dingin sepertinya sudah tak dirasakannya lagi akibat lelah berjalan seharian. Tapi itu tak membuat surut niatku untuk membangunkan mereka. Aku tak mau kalah oleh rasa simpati dan kasihan walau aku tahu kalau mereka benar-benar lelah. Jika ingin kuturuti simpati ini, barangkali kami sudah tak sempat lagi melihat embun pagi hari yang berlabuh di daun-daun segar milik belantara Latimojong.. Sembari menggulung matras hitamku, kubangunkan satu persatu tuk segera bersiap karena sang suria tak lagi dalam posisi terbit. Walau agak lamban gerakannya, aku tak mahu bersungut karena kutahu bukan tanpa alasan mereka tidak mampu bergerak cepat. Sebuah lingkaran yang biasa kami bentuk tiap kali akan memulai langkah di pagi hari kembali terlihat. Merunduk sejenak, mengingat sang ilahi yang menjadi tempat kami memohon perlindungan. Itulah yang menjadi tumpuan harapanku, apapun rintangan yang akan kami lalui, kuyakin bahwa sang khalik pasti bersama kami,petualang muda perkasa yang tak pernah surut dihantam keras petualangan. Kusapu wajahku dengan kedua belah tangan tanda doa usai. Kupimpin saudara-saudaraku sedikit demi sedikit melangkahi jalur yang sudah kelihatan licin diguyur hujan semalam. Tak ingin rasanya ku mendongak ke atas melihat kemiringan jalur itu. Lumayan ekstrim dan menakutkan. Terus saja merunduk sembari menyibak dedaunan pohon yang coba menghalangi pandangan mata. Terkadang, harus pula kupegang erat akar-akar yang menyembul keluar memberi sedikit ruang untuk mengenggam, ia membantuku mengangkat tubuh naik melewati gundukan setinggi pinggang. Menarik rerumputan liar tuk menerobos pagar daun yang semakin menebal memperlihatkan kalau jalur itu tak sering dilalui. Mereka yang dibelakangku turut melakukan apa yang baru saja kulakukan. Sepertinya saudara-saudaraku mulai kelihatan lelah, begitu pula diriku. Tampak jelas dari wajah dan hembusan nafas yang memburu. Benar saja, tak lama setelah itu saudaraku yang berada dalam posisi sweeper ( belakang ), memintaku berenti sejenak. Kuturuti saja maunya dan langsung mencari posisi tuk melabuhkan carrierku. Hanya kumpulan rumput basah bercampur lumut yang ada. Biar saja basah celanaku, tak kuasa lagi rasanya mencari tempat ideal hanya untuk istirahat beberapa menit. Tanpa melepas carrier yang masih menempel erat dipunggung, kuraih veldples mungil yang sengaja kuselip di pinggir agar mudah kujangkau. Nikmat rasanya meneguk air dari veldples itu, dinginnya masih mampu menyegarkan tenggorokan yang sudah kering. Air segar nan bening, jernih bak air mineral dengan harga yang tak mampu dijangkau oleh sebagian warga pinggiran kota. Entah mengapa sampai hal seperti itu juga sempat terlintas di benakku. Biar saja, agar lelah tidak terlalu terasa….. Barangkali salah satu nilai yang harus kutanam di hati bahwa dibalik keramaian kota dan sepinya balantara, banyak hal yang perlu direnungi untuk diperbaiki. Sayangnya, aku bukanlah seorang orator ganas yang tergabung dalam aliansi mahasiswa. Menyusun sebuah konsolidasi dan acap kali turun ke jalan dengan suara lantang meneriakkan kata keadilan. Berteriak tanpa henti, sampai jalanan harus macet total menghambat laju aktivitas kota metropolitan. Aku hanyalah bagian dari para sivitas akademika. Tiap hari lalu-lalang di seputaran kampus menuju ruang kuliah dan kadang ikut duduk manis di kursi kantin dengan kepulan asap rokok menghiasi canda tawa bersama teman-teman. Terkadang pula nongkrong di pendopo indah milik taman secretariat MAPALA EDELWEIS, sambil melempar beberapa biji makanan untuk ikan emas cantik di kolam kecil. Kampusku memang indah berseri, tapi entah mengapa kadang rasa jenuh tak bisa dipungkiri, itulah mengantarku terduduk letih di atas rerumputan ini. Alam ini indah, asri dan murni. Semua dapat diperoleh dengan mudah dan menyajikan kesegaran luar biasa. Mungkin itu salah satu alasan mengapa aku merasa tergugah untuk selalu berkunjung ke taman alami ini tuk melestarikan kedamaian yang ada. Semoga bisa terbawa sampai di metropolitan dan dapat memberikan pelajaran berharga.&lt;br /&gt;Beberapa pos kami lewati dengan medan yang bervariasi. Hanya semangat dan tekad yang tersisa ketika kami sampai di sebuah titik dengan tanah yang agak lapang tapi tetap tertutup oleh rimbunnya daun dari pohon di sekitar. Sebuah plat terpasang di dahan pohon betuliskan pos 5 dilengkapi ketinggian serta titik koordinatnya. Cukup informatif usaha dari mereka yang memasang plat itu. Tempat itu luas dan agak bersih dari lumut-lumut. Mungkin karena sering terinjak sepatu para penjelajah sampai tak sesubur kumpulan lumut lainnya. Waktu itu, bukan hanya kami yang berdiri di situ. Saat tiba, sudah ada beberapa tenda yang tertata rapi menyambut kedatangan kami. Senyap dan hening, petanda tak ada pemiliknya disitu. Berarti bukan hanya aku dan empat saudaraku yang sedang berkelana di seputaran gunung ini. Barangkali mereka sedang berjuang menuju ke puncak tanpa barang bawaannya. Sebentar lagi pasti akan kembali karena hujan mulai membasahi segenap penjuru. Secepat kilat, aku dan saudara-saudaraku melebarkan flysheet untuk berteduh dan memasak makan siang waktu itu. Hujan tak mau reda, dan itu membuat udara semakin menusuk rongga hidung. Hembusan nafas dari rongga mulut tampak mengeluarkan kepulan asap petanda udara memang dingin. Sepertinya kondisi itu memaksa kami untuk memasang tenda. Menginap adalah satu-satunya jalan menghindari cuaca buruk. Waktu terus berlalu sampai pada sore hari menjelang maghrib, sang pemilik tenda lain berdatangan dari atas. Tampak jelas mereka sedang kedinginan. Basah kuyup dan tak mampu bicara banyak akibat didera dingin ketinggian tiga ribuan. Hujan tak mau reda, sama sekali enggan memberi ruang bagi kami untuk bisa menikmati segarnya udara sekitar. Terus mengguyur sampai kami juga harus melewati malam di tenda dihibur bunyi percikan air di flysheet di atas tenda. Lembaran parasut tipis yang begitu berarti saat hujan datang bertamu di bumi pertiwi. Walau hujan, lelap tak mampu tertahan akibat lelah seharian menempuh medan dengan kemiringan hampir 80o itu. Sungguh sebuah petualangan melelahkan…&lt;br /&gt;HARI IV&lt;br /&gt;Rencana kami untuk berangkat ke puncak pagi-pagi sekali lagi-lagi tertunda karena hujan tak mau berhenti sejak kemarin. Yah, mungkin sudah takdir untuk menempuh pendakian panjang ini berteman tetesan air di sekujur tubuh. Tak dapat dielak lagi, kami berangkat ke puncak pagi itu dengan kondisi basah kuyup menerobos hujan yang terus mendera. Seperti biasa, ada saja titik-titik tertentu yang menyuguhkan keindahan luar biasa dan rasanya tak ingin beranjak cepat sebelum puas memandanginya. Kadang saudaraku memaksa untuk berpotret ria mengabadikan sosok tubuhnya berlatar lembah berhias kabut di sekitar. Memang indah tampaknya, sulit menemukannya kalau bukan di ketinggian seperti saat dimana kami berpijak saat itu. Disitu juga beberapa batang rokok sempat habis terbakar di bibir. Nikmatnya dingin dengan aroma tembakau khas Indonesia. Walau itu katanya sangat tidak baik, tapi apalah daya kami yang sudah kecanduan nikotin perusak paru-paru itu. Nikmat dan mantap, hanya beberapa kali hisap saja karena tetesan air hujan merusak gulungan rapi tembakaunya. Sambil asap mengepul, terkadang ku abadikan momen itu dengan kamera mungil tanpa mereka sadari. Lucu juga saat melihat hasil jepretan kamera yang terkesan alami tanpa rekayasa mimik wajah mereka. Tampak asli dan benar-benar memperlihatkan tampang ganas saudara-saudaraku saat di hutan liar. Berbeda ketika ada senyuman yang sengaja dibuat-buat hanya untuk memperindah mimik wajah yang mulai tampak kusam akibat keringat. Sebuah kisah yang sulit terlupakan kala kami bersama menikmati suapan nasi dan sedikit mie rebus dari satu wadah misting. Jemari perkasa milik anak adam itu beradu berhias canda tawa yang tak henti mewarnai lingkaran kecil itu.&lt;br /&gt;Tiap kali ingin melangkah maju, selalu saja kami dihantui kebingungan menentukan arah mana yang harus kami lalui ke puncak sana. Kucoba mengingat kembali semua gambaran yang sempat menjadi pegangan sebelum berangkat. Senior memang menjadi satu-satunya tempat pertanyaanku berlabuh. Semua hal kutanyakan agar tahu kondisi medan dan jalur yang akan kami tempuh nantinya, disamping bermodalkan secuil kemampuan navigasi darat berkat pendidikan dasar beberapa waktu lalu. Yakin dengan jalur yang kupilih, kelihatan saudara-saudaraku mengangguk perlahan tanda setuju dengan keputusanku. Aku tahu kalau mereka menaruh kepercayaan besar padaku, karena itulah aku jadi pemimpin untuk perjalanan kali ini. Jalur-jalur yang kupilih bukan tanpa dasar, karena semua keputusan yang akan kuambil pasti kusampaikan dahulu pada mereka untuk dirembukkan. Hal-hal seperti ini cukup membuat jantungku berdegup kencang disertai perasaan tidak karuan. Kucoba terus melangkah dengan tenang menerobos deras hujan dan lapisan kabut yang mulai memperpendek jarak pandang. Terlihat parit-parit kecil mulai terbentuk alami pada jalur pendakian tempat kami berpijak. Jemari kaki dalam sepatu mulai tergenang air yang menerobos celah sepatu. Makin berat saja kaki ini melangkah. Jalur mulai terkikis sedikit demi sedikit oleh aliran air yang mulai deras. Melaju saling mengejar mencari tempat paling rendah dari muka bumi. Mereka pasti sedang bergembira. Terlintas dalam benakku kalau air-air inilah nanti yang mengisi derasnya sungai nun jauh di bawah sana. Mengalir menuju lautan asin dan akan disambut meriah di muara sana. Mereka mengalir begitu saja, tanpa berfikir dan tidak punya tujuan jelas yang akan dituju. Beda halnya dengan aku dan saudara-saudaraku yang masih terus melangkah perlahan mencari sang trianggulasi tunggal di puncak sana. Terus berpikir dengan sejumlah keraguan antara benar dan salah. Sedikit salah akan fatal jadinya, itulah resiko bertualang. Sudah agak lama melangkah sedikit demi sedikit, melalui bongkahan-bongkahan batu besar yang tampak berwarna gelap. Kurasa destinasi yang kami tuju sudah semakin mendekat. Dugaanku tidak meleset. Ketika lepas dari kumpulan pohon lebat dan berdiri di titik yang agak lapang, sesaat kumendongak memandangi punggungan yang lebih tinggi di depan mata. Terlihat samar dari kejauhan sebuah tiang kokoh berdiri mantap seakan sudah menanti kedatangan petualang muda EDELWEIS. Itulah trianggulasi beton milik puncak Gunung Latimojong. Kuberpaling dan tersenyum pada saudara-saudaraku. “trianggulasi!!!!!”, kataku sambil menunjuk ke atas sana. Sekilas semua tersenyum dan berhenti sejenak menatap dari kejauhan. Rasanya sudah tidak sabar lagi tuk memeluk persegi panjang dari beton itu. Langkahku sedikit demi sedikit berubah menjadi lari-lari kecil. Kuhembuskan nafas panjang dan menengadah ke atas tanda ucapan syukurku pada-Nya saat kusentuh dinginnya trianggulasi itu. Sejenak kuberkata bahwa tak ada seorang pun yang berdiri lebih tinggi di atasku di pulau Sulawesi, karena aku sedang berdiri di atapnya untuk saat itu. Akulah yang tertinggi, lebih tinggi dari mereka yang duduk di singgahsana Dewan Perwakilan Rakyat di Ibu Kota. Lebih tinggi dari orang nomor satu di republik ini. Tapi bukan itu yang kucari bersama saudara-saudaraku. Semangat kebersamaan, solidaritas pertemanan, serta karena rasa candu tuk selalu melihat betapa besar keagungan tuhan. Tuhan yang menjadi pencipta sekaligus pemilik dari alam semesta ini. Itulah yang menjadi bagian dari petualangan ini, sebagai rangkaian tujuan mengapa tekad ini begitu bulat untuk tetap melangkah mencapai pijakan tertinggi. Sekali lagi kami melingkar dan kupimpin mereka mengucapkan ribuan rasa syukur kepada-Nya, serta panjatan doa agar selamat kembali ke rumah abadi EDELWEIS. Waktu itu pula, kami sejenak mengibarkan bendera dengan latar kuning kebanggaan EDELWEISER. Selembar kain berukuran 1 x 1 meter bertuliskan “UNIT KEGIATAN MAHASISWA PECINTA ALAM EDELWEIS” menjadi hiasan potret kami bersama trianggulasi puncak Latimojong. Sekitar lima belas menit di puncak,tak mampu lagi kutahan dingin tubuh ini. Bergetar tubuhku sampai barisan gigi saling beradu menimbulkan bunyi tak karuan. Sebentar saja, kami berlalu meninggalkan trianggulasi itu terlarut dalam sepinya puncak. Ia tak pernah takut sendiri dihantam badai dan dinginnya singgahsananya, walau hening waktu terus menghantui keberadaannya. Itulah si trianggulasi pemilik atap Pulau Sulawesi…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak banyak yang dapat kugores dalam cerita singkat ini. Hanya sedikit gambaran luapan kegembiraan kami yang dapat diabadikan dalam tulisan. Siang itu juga, hujan deras tak mampu menghadang langkah kami untuk tetap melangkah menuruni curamnya jalur ke kaki gunung. Basah kuyup, tergelincir dan terjatuh, menjadi hal biasa yang menghibur langkah kaki perkasa ini. Sisa tenaga dari beberapa suap nasi dicampur sedikit mie rebus siang tadi, ternyata masih mampu membawa kami tiba di Desa Karangan, tempat Gunung Latimojong berpijak kokoh. Sebuah rumah panggung khas Sulawesi Selatan, menjadi hotel berbintang tempat kami menginap malam itu. Sungguh nyaman rasanya di rumah itu setelah seharian berjuang menembus liarnya belantara. Kucoba menutup mata agar semua berakhir segera tuk mengawali mimpi malam. Kuterlelap semalaman sebelum esok harinya kami harus kembali menempuh jarak puluhan kilometer akibat longsor yang menghambat transportasi. Tak ada habisnya perjuangan ini, persis seperti seekor kecoa di sudut ruangan yang sedang berjuang membalik badannya. Itulah arti kehidupan sebenarnya. Kami berjalan sampai sore hari, jemari kakiku mulai terasa encok dan perih. Tapi semua itu makin tak terasa ketika saudara-saudaraku memainkan kelihaianya memancing selera humor teransang cepat. Canda dan tawa selalu membuat kami lupa kalau jarak yang sudah kami tempuh dengan langkah kaki ini bukanlah jarak yang bisa ditempuh semua orang. Maghrib menyambut, dan kami tiba di destinasi kami..&lt;br /&gt;Aku tersenyum lebar melihat saudara-saudaraku tertawa cikikikan saat cerita-cerita kami kembali terdengar di mobil. Mobil angkutan malam yang mengantar kami kembali ke kota metropolitan Makassar. Semua diputar kembali dan tentunya akan menjadi bagian dari kisah-kisah petualangan pemuda BUNGA ABADI EDELWEIS. Sekian…….salam Leontopodist……….. Salam lestari……… sampai jumpa di petualangan berikutnya.  &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5139741108899141277-6621506959724960349?l=tambuks.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tambuks.blogspot.com/feeds/6621506959724960349/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tambuks.blogspot.com/2010/08/total-adventure-menuju-atap-sulawesi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5139741108899141277/posts/default/6621506959724960349'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5139741108899141277/posts/default/6621506959724960349'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tambuks.blogspot.com/2010/08/total-adventure-menuju-atap-sulawesi.html' title='“TOTAL ADVENTURE” MENUJU ATAP SULAWESI'/><author><name>ichal_bandot</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03820352006467403448</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-9Yemwtyjs8A/TjDxzZnS5hI/AAAAAAAAAJk/W1PKrp7NJZQ/s220/richard%2Bn%2Bthe%2BGilis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5139741108899141277.post-1346628494121054450</id><published>2010-08-15T08:40:00.000-07:00</published><updated>2011-03-25T22:35:16.650-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='POETRY'/><title type='text'>coretan singkat petualang muda</title><content type='html'>sekali waktu aku melangkah&lt;br /&gt;menembus rimba menatap kabut&lt;br /&gt;basah karena tetes sejuk embun pagi&lt;br /&gt;mengukir senyum walau diterjang lelah mendera&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;sejenak teringat ibu tersayang&lt;br /&gt;terbayang sekilas manis wajah kekasih&lt;br /&gt;semoga kudapat apa yang kucari&lt;br /&gt;rahasia pusara indah bumi pertiwi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bebatuan keras itu diam tanpa kata&lt;br /&gt;berteman lumut setia hiasi hari esok&lt;br /&gt;di puncak ini aku ikut terbungkam&lt;br /&gt;semegah inikah tahta dewata……..&lt;br /&gt;edelweiser&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5139741108899141277-1346628494121054450?l=tambuks.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tambuks.blogspot.com/feeds/1346628494121054450/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tambuks.blogspot.com/2010/08/coretan-singkat-petualang-muda_15.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5139741108899141277/posts/default/1346628494121054450'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5139741108899141277/posts/default/1346628494121054450'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tambuks.blogspot.com/2010/08/coretan-singkat-petualang-muda_15.html' title='coretan singkat petualang muda'/><author><name>ichal_bandot</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03820352006467403448</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-9Yemwtyjs8A/TjDxzZnS5hI/AAAAAAAAAJk/W1PKrp7NJZQ/s220/richard%2Bn%2Bthe%2BGilis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5139741108899141277.post-6916226101475998345</id><published>2010-03-27T09:10:00.000-07:00</published><updated>2011-03-25T22:35:38.677-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='POETRY'/><title type='text'>PUNCAK KEAGUNGAN</title><content type='html'>" jika kau memandang gunung hanya sebatas bongkahan batu besar dan sekumpulan tanah yang menjulang tinggi,,,,, kau juga  harus tahu bahwa kau tidak lain hanyalah sebatas setumpuk tulang dengan gumpalan darah yang beku"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;maka, lihatlah ia sebagai sebuah tempat dimana tersimpan pencapaian tertinggi dari manusia untuk melihat betapa besar keagungan tuhan..............&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5139741108899141277-6916226101475998345?l=tambuks.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tambuks.blogspot.com/feeds/6916226101475998345/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tambuks.blogspot.com/2010/03/puncak-keagungan.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5139741108899141277/posts/default/6916226101475998345'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5139741108899141277/posts/default/6916226101475998345'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tambuks.blogspot.com/2010/03/puncak-keagungan.html' title='PUNCAK KEAGUNGAN'/><author><name>ichal_bandot</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03820352006467403448</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-9Yemwtyjs8A/TjDxzZnS5hI/AAAAAAAAAJk/W1PKrp7NJZQ/s220/richard%2Bn%2Bthe%2BGilis.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5139741108899141277.post-1426370115274729949</id><published>2010-03-26T23:51:00.000-07:00</published><updated>2011-01-06T15:16:56.057-08:00</updated><title type='text'>sebuah cerita singkat tentang perjalanan yang panjang</title><content type='html'>“BUNGA ABADI”&lt;br /&gt;DALAM PELUKAN BELANTARA KAMBUNO&lt;br /&gt;19 FEBRUARI-04 APRIL 2010&lt;br /&gt;Awal yang tidak terlalu baik bagiku untuk melanjutkan rencana pendakian perdana ini. Dalam keraguan yang masih selalu melekat dalam benak, kucoba sembunyikan semua dengan tetap menatap jauh ke arah semaraknya dunia puncak yang sering kudengar lewat cerita-cerita “mereka”. Katanya, kalau sudah di atas sana,semua terasa indah dan seakan segala yang diimpikan sudah ada dalam genggaman. Hanya itu yang selalu meredam keraguan yang masih tersisa.&lt;br /&gt;Kapan lagi aku bisa merasakan semua itu. Gejolak rasa penasaran semakin tak mau saja di ajak bercanda. Sudahlah…………. Dengan sisa uang yang kulipat rapi dibalik dompet hitamku, kupersiapkan segala yang kurasa bakal menjadi dewa- dewi penyelamatku di atas sana.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;19 feb 2010………..&lt;br /&gt;Pukul 08.00 malam, ketika itu sebuah ruangan sempit yang tertata rapi bertuliskan “UKM PA EDELWEIS FIB-UH” diatas daun pintu, terlihat agak sesak dipenuhi barang-barang dan segala persiapan perjalanan. Terlihat pula beberapa orang dengan rambut diikat rapi mondar-mandir seakan kehilangan sesuatu yang berharga. Rupanya , mereka tengah sibuk menata carrier masing-masing. Rasanya, tak pernah puas untuk memandangi betapa perkasanya carrier itu ketika berada di balik pundak. Sepertinya,lengkap sudah semuanya,dan tak ada lagi yang perlu di ragukan untuk memulai sebuah perjalanan panjang yang tak pernah terduga sebelumnya. Masih terlihat senyuman bangga dari kami waktu itu. Entahlah bangga karena apa, hanya aku dan mereka yang tahu itu………kuangkat carrier berat itu naik ke bus yang sudah menanti. Deru mesin bus antar kota berlabel “ alam indah” di pojok atas kaca depannya, mengiringi lelapnya para petualang muda menuju lokasi. Tempat dimana kami akan memulai sebuah rangkaian cerita panjang yang sulit dihapus dari galeri PPAB XV.&lt;br /&gt;Siang hari tanggal 20 februari 2010, dengan tenaga yang masih terlalu prima, kami mulai melangkah cepat dan pasti menuju belantara yang ternyata tidak seperti yang biasa dalam imajinasiku. Kini, kami benar-benar ada dan berjalan di balik liarnya rimba. Semakin lama, rasanya semakin berat saja tubuh,carrier dan kaki ini. Melewati jalan setapak sempit, langkah kami selalu diatur oleh iringan canda tawa yang agak sedikit kaku, mungkin ulah dari nafas yang masih memburu. Waktu berlalu begitu saja, belasan kilo bahkan terbilang puluhan kilometer sudah kami berjalan menelusuri berbagai macam tumpukan batu aneh dan tanah kering. Terkadang, batinku ingin tertawa ketika melihat jiwa perkasa yang tersemat dalam raga senior maupun saudara-saudaraku terusik oleh rapuhnya jembatan gantung tua yang harusnya tidak dipakai lagi. Dipakai untuk menyeberang sungai yang tidak terlalu luas itu…… barangkali lebih baik untuk turun dan melintasinya tanpa jembatan. Kadang aku harus jujur bahwa rasa takut dan ragu yang begitu besar dalam sanubari, coba kulempar jauh-jauh agar tak terlihat oleh mereka. Sebegitu ironiskah untuk menjadi seorang “pejantan tangguh”? kata “Sheila on 7” dalam lagunya. semua itu kami anggap sebagai bagian dari sengitnya pertarungan melawan arus liar belantara. Sepanjang jalan, sudah banyak upaya yang terlihat untuk membuang rasa haus dan penat lelah. Lelah yang kian menjadi sebab utama mengapa langkah ini semakin perlahan saja. Kadang, di sudut jalan tertentu terlihat tumpukan kulit durian yang dihinggapi lalat rimba. Tidak jauh pula dari tumpukan itu,terlihat pohonnya yang menjulang, menggenggam puluhan buah yang aromanya kian menusuk rongga hidung. Makin semangat saja aku waktu itu, walau tak begitu suka dengan buah itu, kupaksakan untuk merasakan hangatnya kebersamaan bersama saudara-saudaraku, para petulang muda berbakat. Senyuman dan canda kembali menghiasi cerita panjang ini ketika aku dan mereka duduk melingkar menikmati satu persatu manisnya buah durian. Jemari perkasa mereka dipenuhi sisa durian yang kian habis dilahap sampai habis di ujung nikmatnya.&lt;br /&gt;Menapaki bebatuan yang berhambuaran di atas jalan pengerasan milik para penebang kayu dahulu, kulit kakiku terasa panas bahkan mengelupas tergesek kerasnya besi yang menempel di ujung sepatu. Besi yang konon fungsinya sebagai pengaman, tapi ternyata menjelma menjadi predator ganas menghambat langkah kakiku. Sudah 5 hari menuju kaki gunung, sudah 3 malam kedinginan, tidur dalam rasa was-was akibat cerita-cerita mistis dan tingkah kesurupan si gadis yang sempat ikut dalam perjalanan ini. Apakah kali ini, kami akan dihadapkan pada sebuah pencapaian yang belum pernah kami dapatkan. Rasanya, terlalu banyak hal yang selalu jadi sumber masalah. Mulai dari surat menyurat, entah apa tujuannya sampai kami harus menginap di gubuk penuh coretan ala petualang masa lalu. Ditambah pula dialog mistis dengan penghuni gunung yang konon mencoba menghalangi perjalanan kami. Sungguh diluar batas pemikiran logika seorang pemuda seperti kami . Namun, tidak bisa dipungkiri jika semua itu sempat merasuk akal sehatku, keyakiananku kini akan mistiknya dunia semakin menjadi-jadi saja.&lt;br /&gt;Dihadapkan pada berbagai problema,kami tetap terus melangkah menuju mencari destinasi yang menjadi tujuan awal kami. Dua hari di gubuk persinggahan para tukang ojek rimba,membuat tenaga kami kembali pulih. Hanya tulisan dari arang dapur yang setia menghiasi dindingnya menjadi penawar rasa jenuh menanti hari berganti. Tulisan singkat nan kaku yang kadang membuat gelak tawa silih berganti menjadi bahan celotehan sang petualang-petualang muda. Kalimatnya terkesan agak serius dan mungkin sangat berarti jika ada niat untuk merenungi. “ hidup tanpa penderitaan, tidak akan sukses di segala bidang” kata mereka. Bunyinya kuno, tetapi barangkali itulah realitas kehidupan yang sesungguhnya. Sangat sulit untuk menemukan kalimat seperti ini bagi kami civitas akademika yang terbiasa dengan tulisan indah milik penulis yang tersohor namanya…&lt;br /&gt;Ayunan langkah dan derap sepatu kulit kembali terdengar saat kami melanjutkan perjalanan ke titik akhir yang sudah ada dalam kerinduan teramat sangat. Aku selalu berdoa agar waktu cepat berlalu dan membawaku ke singgahsana indah milik trianggulasi, sang penghuni tunggal puncak Kambuno. Selalu saja terbayang sekilas dalam kepala ku, betapa damai suasana saat aku berdiri di balik kabut tebal dengan hembusan nafas panjang rasa puas. Tidak terlalu lama untuk sampai ke kaki gunung. Kami terus beranjak dari satu titik ke tanah yang lebih tinggi, kata gps yang dibalut perpaduan warna kunig dan hitam. Sebuah alat yang merepresentasikan bahwa manusia semakin pintar saja menguasai dunia.&lt;br /&gt;Mulai menarik meteran di kaki gunung menyambut lelah kami menuju ke pos berikutnya. Rasanya semakin berat saja beban di pundakku, padahal baru saja cairan spritus yang masuk dalam daftar perlengkapanku membakar padat beras untuk makan siang. Saudara-saudaraku kelihatan sibuk dengan dengan alat ditangan, dan suara keras lantang terdengar tiap kali meneriakkan angka dengan satuan alat yang di gunakan kepadaku. Kutulis rapi semua yang kudengar agar tidak sia-sia semua yang mereka dan aku lakukan. Itulah awal dari jejak langkah generasi baru bunga abadi “edelweiss” dalam sebuah pendakian melelahkan.&lt;br /&gt;Sambil meneguk air dari veldples sederhana dari botol AQUA, kami duduk sejenak melepas penat disamping kerumunan rumput liar pos 2. Nikmatnya asap rokok menghiasi nafas yang masih terengah-engah. Walau hanya sebatas rokok murah dan tak pernah kunikmati bahkan kulihat, entah mengapa rasanya seakan menundukkan cerutu mahal milik kaum elit di ibu kota. Barangkali, dari rokok hasil plagiarisme ini, aku dan saudara-saudara ku bisa belajar dan mengerti arti penting nilai dari sebuah benda yang terkadang terasa gengsi untuk dinikmati. Sebuah pelajaran sederhana dan berarti yang mungkin belum tentu bisa di peroleh dengan duduk diam diruang kuliah mendengar celoteh dosen yang panjang lebar. Ingin kurebahkan tubuh ini dimana saja walau hanya beberapa menit saja. Kulihat tetesan keringat dari wajah saudara-saudaraku. Walau tampak lelah, selalu saja terukir senyum yang tak semanis biasanya. Aku bersyukur, betapa beruntungnya bersama mereka dan turut memiliki canda tawa itu dalam wujud kebersamaan, seperti kata senior-senior ketika aku baru sebulan menapaki dunia kampus yang penuh tanda tanya. sebuah momen indah tak terlupakan ketika ingin diputar kembali dalam memori kumpulan kenangan masa laluku..&lt;br /&gt;Kabut petang kian menyelimuti punggungan kecil di depan mata, ketika langkah kami sudah hampir tiba di pos 3. Enak rasanya merebahkan tubuh dalam tenda mungil yang ku pasang rapi di sudut camp. Aku memulai lagi imajinasiku jauh menerawang ke hingar- bingar bunyi klakson mobil di gerbang kampus. Bisa kurasakan hangatnya kota pada malam itu walau berada di tengah dingin kabut malam gunung Kambuno. Terbayang pula semaraknya kampusku esok hari, ketika para gadis-gadis remaja nan molek berdandan cantik melenggang di depan kantin, milik para ibu tua yang setia dengan dagangannya. Aku semakin jauh melayang,kini kulihat ruang kuliahku diisi teman-temanku yang kelihatan serius mendengarkan dosen mitologi yunani mendongeng ria. Sekali-kali, ada yang mengangguk sok tahu mencari simpatik dari dosen baik hati itu. Di pojok belakang ruangan, beberapa senior 3 tahun di atasku cuek dengan fikirannya masing-masing. Mungkin sedang memikirkan apa yang akan ditulis dalam BAB 1 skripsi yang tertunda. Sementara itu, sebuah kursi tepat di bawah air condisioner , tempat nyaman yang sering kutempati terlihat terisi seorang gadis berjilbab besar ala timur tengah menggantikan aku. Kadang aku sedikit menyesali, mengapa aku harus ada di tempat ini, sedangkan ada ilmu yang jelas akan kudapatkan lewat ruangan kuliah itu. kemudian kupikir pula betapa hebatnya nya ceritaku ketika aku pulang, tentu dengan antusias teman-teman dekatku bertanya semua yang aku alami dalam kepergianku. Semakin berwarna saja imajinasiku malam itu, sampai kudengar suara memanggil untuk beberapa suap nasi dicampur lauk ala outdoor, dan lamunanku pun berakhir.&lt;br /&gt;Tidak terlalu banyak yang bisa digoreskan dalam cerita singkat sepanjang lereng-lereng curam milik punggungan indah di gunung kambuno. Hanya momen keracunan jamur kuping, tercampur jamur beracun menghiasi malam sebelum menuju pelataran tertinggi milik Gunung Kambuno. Pelataran dimana kami mengabadikan momen bersama trianggulasi tua yang tampak mulai dipenuhi lumut. Baru kusadari sudah sepuluh hari perjalanan di belantara, tanpa pernah kuingat apakah ada seseorang yang merindukan ku.. cepat-cepat kuhapus pikiran itu, mungkin bukan saatnya mengingat cinta kasih di sebuah puncak mistis seperti Gunung Kambuno. Rindu dan merindukan bagiku adalah hal biasa dan tidak perlu dipermasalahkan. Yang kubutuhkan sekarang adalah sebuah jawaban tentang apa sebenarnya tujuan kami berada di samping trianggulasi ini. Belum sempat kutarik sebuah kesimpulan, instruksi dari pendamping menggerakkanku bersama saudara-saudaraku memulai lagi kegiatan pengukuran yang sempat tertunda. Plat koordinat pos lengkap dengan elevasi, ditempel di sebatang pohon yang bagus letaknya. Sengaja di pasang di Pohon yang Keras dan kuat, agar bisa menggambarkan jiwa perkasa yang dimiliki para “ edelweiser”. Di sisi bawah plat berlatar kuning, tertulis kalimat yang merepresentasikan aku dan saudara-saudaraku untuk sebuah hasil yang bisa di bawa pulang. Melihat plat itu suatu saat nanti, tentu ada yang bisa kami banggakan ketika ada yang memanfaatkannya.&lt;br /&gt;Kembali kami menarik meteran panjang untuk mencari data jarak dan kemiringan dari jalur gunung Kambuno. Kali ini agak sedikit mudah karena kami sudah berjalan turun dari puncak. Dalam hati berharap besar kami dapat menemukan saudara –saudara kami yang hilang beberapa waktu lalu di celah padat pohan liar lembah dalam sebelah utara . menyusur sungai sempit di bawah pohon besar menjadi sebuah langkah jitu dalam menemukan mereka. Sudah sebulan mereka hilang disini, entah kemana rimbanya hanya tuhan yang tahu pasti keberadaan dan nasib mereka. Pohan-pohaon besar yang diameternya tidak bisa mempertemukan kedua jari tangan orang dewasa menjadi payung lebar yang menutup cahaya di balik lembah itu. Hanya beberapa titik cahaya saja yang terlihat beruntung dapat menembus lebat dedaunannya. Menimbulkan suasana agak gelap dan semakin tampaklah mistik yang membuat bulu tengkukku sedikit terbangun dari posisinya. Memang terlalu banyak rahasia alam tersemat dalam belantara ini. Kami terus saja menyisir kiri dan kanan anak sungai itu, sampai ketika kami tiba-tiba saja kembali ke pos 3 yang menjadi camp 2 hari yang lalu. Sudah kuduga memang untuk sebuah pencarian sperti ini, tidak mudah untuk mendapatkan hasil yang dicari. Dengan berat langkah ini, kami kembali mengayuh roda kaki yang memang sudah berat untuk kembali melangkahi jalan setapak menuju ke pos 5.&lt;br /&gt;Sudah hampir dua minggu dalam hening rimba, kami memutuskan untuk turun dan kembali menyusuri pengerasan panjang sejauh 45 km. Memang sangat berat jika ingin dibayangkan betapa banyak langkah yang akan kami hasilkan untuk sampai ke Desa Malimbu, tempat kami mulai menapaki rimba ini. Manakala semua rincian barang makanan yang masuk dalam daftar logistik kami hanya menyisakan beberapa liter beras dan garam. Kegelisahanku semakin menjadi- jadi, apakah mampu bagi kami untuk tetap bertahan melalui ratusan tanjakan di jalan pengerasan itu. Kelak, pasti tidak akan kulupa jika sampai aku tidak memakan apapun selama tiga atau 4 hari nanti. Semunya semakin kelihatan tidak baik-baik saja. Beberapa saudaraku sudah berulag kali mengungkapkan wujud penyesalan nya. Coba ku ingatkan bahwa semua akan berakhir dengan cepat dan kita akan sampai di kasur empuk beberapa waktu lagi. Mereka hanya diam, sinis menatapku seakan tidak ada kata yang benar keluar dari bibirku. Disinilah, sebuah panji kebersamaan untuk jalan bersama mengawali langkah anak muda “EDEELWEIS”. Sebuah cerita yang nantinya akan menghiasi galeri PPAB XV dalam berbagi warna kisah petualangan di kancah para sivitas akademika.&lt;br /&gt;Sungguh nikmat rasa nasi dicampur sedikit garam menjadi santapan siang dan malam sepanjang jalan. Karena rasa persaudaraan yang kian menebal di hati, semua semakin tak terasa bahwa kami sedang ada dalam sebuah keadaan gawat darurat. Ada ada saja yang menjadi bahan racikan dan menu baru yang tercipta. Semua lahir begitu saja dan menghasilkan citarasa khas rimba yang tidak punya sebuah nama. Nikmat dan mantap. Itu barangkali kata yang cocok untuk semua menu baru para EDELWEISER. Langkah demi langkah semakin membuat lemah raga ini. Sudah sekian hari menatap warna hijau kadang membuatku ingin terus menutup mata berjalan menyusuri jalan setapak. Aku dan saudaraku pasti rindu akan gemerlap lampu neon di tepi jalan. Sisa tenaga dan segenggam semangat membawa kami pada jembata n gantung pinggira Desa Malimbu yang sudah tampak dipenaruhi modernisasi. Hidup memang susah jika dilalui sendiri tanpa ada teman yang menemani. Terbesit sebuah kata bijak dari fikiranku yang lelah karena capek yang luar biasa. Kulirik saudara-saudaraku, terukir kembali senyuman tanda ikatan persaudaraan yang kental tercipta. Suara-suara parau mereka kadang terdengar sayup mendendangkan lagu-lagu bahagia tanda rasa senang yang tidak terhingga. Menanti truk mungil yang dulu kami tumpangi, asap rokok selalu saja mengepul dari rongga mulut para EDELWEISER. “Kini kami sudah kembali ke peradaban yang sebenarnya setelah sekian lama berkelana dalam pelukan belantara milik gunung kambuno”. Kuangkat kedua tangan dan kulambaikan kearah selatan, tempat berdirinya Gunung Kambuno ketika truk mungil membawa kami pergi dari jembatan gantung Desa Malimbu. Tanpa sadar, bukan hanya diriku yang melakukannya, saudara-saudaraku yang gagah berani juga sempat melambaikan tangan bahkan diiringi dengan sorakan puas sebuah petualangan. Tentu saja udara segar nun jauh di balik kabut itu masih bisa kurasakan walau semakin jauh dari pandangan mata.&lt;br /&gt;4 maret 2010……………………………………………….&lt;br /&gt;Malam di bus menuju Kota Makassar , terdengar lantunan lagu melankolis melayu yang mengantar lamunan kami ke tiap detik hembusan nafas lelah beberapa waktu lalu. Baru saja berakhir sebuah kisah indah yang penuh cerita dari dingin kabut rimba di atas gunung. Aku berharap agar harum bunga edelweiss akan tetap abadi dalam setiap bongkahan batu dan tumpukan tanah tinggi belantara Kambuno. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5139741108899141277-1426370115274729949?l=tambuks.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tambuks.blogspot.com/feeds/1426370115274729949/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://tambuks.blogspot.com/2010/03/sebuah-cerita-singkat-tentang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5139741108899141277/posts/default/1426370115274729949'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5139741108899141277/posts/default/1426370115274729949'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tambuks.blogspot.com/2010/03/sebuah-cerita-singkat-tentang.html' title='sebuah cerita singkat tentang perjalanan yang panjang'/><author><name>ichal_bandot</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03820352006467403448</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-9Yemwtyjs8A/TjDxzZnS5hI/AAAAAAAAAJk/W1PKrp7NJZQ/s220/richard%2Bn%2Bthe%2BGilis.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
